majalahsora.com, Kabupaten Bogor – Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan menjadi salah satu teknologi paling banyak digunakan di zaman ini. Dengan kecanggihannya, AI hadir sebagai alat bantu yang mampu membuat hidup manusia menjadi lebih mudah berkali lipat, mulai dari dunia bisnis, pendidikan, hingga berbagai sektor lainnya.
Gempuran perkembangan teknologi ini seakan menjadikan AI sebagai solusi atas beragam permasalahan.
Menindaklanjuti fenomena tersebut, SMKN 1 Cibinong, Kabupaten Bogor, menjalin kerja sama internasional dengan lembaga dan sekolah dari Korea Selatan dalam bidang pendidikan.
Melalui kolaborasi ini, pengenalan dan penerapan AI mulai diperkenalkan sebagai bagian dari proses pembelajaran di kelas, agar siswa mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dan proporsional.
Kepala SMKN 1 Cibinong, Sugiyo, S.Pd., M.Pd
Kerja sama ini melibatkan Korea Research Institute for Vocational Education and Training (Krivet) bersama Seoul Artificial Intelligence Technical High School, sekolah vokasi khusus AI asal Korea Selatan.
Kegiatan pengenalan AI tersebut dilaksanakan di aula SMKN 1 Cibinong, Jalan Raya Karadenan No 7, Kabupaten Bogor, pada Selasa, (4/2/2026).
Kepala SMKN 1 Cibinong, Sugiyo, S.Pd., M.Pd., mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaannya atas terselenggaranya program tersebut. Ia menyebut kegiatan ini sebagai mimpi lama warga sekolah yang akhirnya terwujud.
“Alhamdulillah hari ini 4 Februari 2026 telah dilaksanakan program yang menjadi mimpi bagi warga SMKN 1 Cibinong, yaitu bisa ekspansi ke luar negeri dalam layanan pendidikan. Kebetulan hari ini kami kehadiran tamu dari Seoul AI Technical High School. Mereka adalah sekolah vokasi khusus AI dari Korea Selatan,” kata Sugiyo.
Dr. Kim Young Saing, Senior Research Fellow sekaligus Doctor of HRD dari KRIVET
Ia menambahkan, delegasi dari Korea Selatan yang hadir dalam kegiatan tersebut berjumlah 10 orang. Sebelumnya, seminar awal telah dilaksanakan pada 3 Februari 2026 sebagai bagian dari rangkaian kerja sama yang difasilitasi oleh Krivet, dengan agenda khusus bersama SMKN 1 Cibinong selama satu minggu.
Rangkaian kegiatan pada 4 Februari 2026 diawali dengan penyambutan Krivet dan delegasi Korea Selatan oleh warga sekolah, termasuk para siswa SMKN 1 Cibinong. Penyambutan dilakukan di lapangan sekolah, bersamaan dengan pengibaran bendera Indonesia dan Korea Selatan, sebagai simbol kerja sama internasional.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Forum Group Discussion (FGD) sebagai agenda inti. Materi diskusi berfokus pada pengenalan AI yang dipandang sebagai tools atau alat untuk mempermudah akses pembelajaran dalam dunia pendidikan, khususnya bagi para guru.
Menanggapi perkembangan AI yang kini telah menjadi bagian dari kehidupan manusia, Sugiyo menekankan pentingnya pemahaman siswa terhadap porsi penggunaan AI secara tepat. Menurutnya, AI berbasis data sehingga tidak bisa dijadikan satu-satunya sumber kebenaran.
Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum, Yadi Rahmat, S.Pd
“Kami melihat bagi beberapa masyarakat apalagi Gen Z saat ini, AI sangat menjadi andalan. Seperti menuhankan. Karena bisa dibilang pengguna AI ini mesti paham, bukan memiliki kepercayaan yang berlebihan. Sehingga dengan mesin pencari dengan jawaban yang memuaskan dari sebuah data, malah jadi yang paling diandalkan dibandingkan dengan literasi lain atau ilmu lain yang ada dari sekolah,” ujar Sugiyo.
Ia menjelaskan, data yang dihasilkan AI bisa saja tidak lengkap atau tidak sepenuhnya relevan karena AI hanya menjawab berdasarkan pertanyaan yang diajukan saat itu, bukan secara menyeluruh dalam konteks mata pelajaran.
Oleh karena itu, Sugiyo menegaskan bahwa AI seharusnya berfungsi sebagai alat bantu, bukan menggantikan sumber literatur utama atau peran manusia. Menurutnya, AI tetap diciptakan dan dikendalikan oleh manusia.
“AI tidak untuk dijadikan Tuhan sebagai mesin pencari informasi. Namun bisa dijadikan informasi-informasi pelengkap,” tegasnya.
Kepala SMKN 1 Cibinong, aktif dalam kegiatan FGD, bekerja sama dengan KRIVET dan Seoul Artificial Intelligence Technical High School
Ia juga menegaskan bahwa SMKN 1 Cibinong akan terus menggali potensi penerapan AI agar siswa lebih bijak dalam penggunaannya. Di samping itu, Sugiyo menyebut bahwa sekolahnya sudah terbiasa menjalin kerja sama dengan pihak Korea Selatan, sebelumnya bersama Daegu Technic School, sehingga kolaborasi kali ini menjadi tantangan sekaligus peluang baru.
“Kemudian, SMKN 1 Cibinong memang sudah terbiasa bekerja sama dengan Korea Selatan. Jadi ini merupakan tantangan dan peluang bagi kami dalam penjajakan kerja sama bersama Korea Selatan,” tambahnya.
Ke depan, penjajakan kerja sama tersebut akan difokuskan pada diskusi lebih mendalam, pembelajaran bersama, hingga sharing terkait AI dengan pihak Korea Selatan dan Krivet. Sugiyo bahkan berencana mencoba konsep pembelajaran berbasis sekolah khusus AI, meski saat ini masih pada tahap awal.
Dari sisi aplikasi dan kompetensi siswa, kerja sama diharapkan berkembang hingga program pertukaran pelajar, magang, hingga peluang kerja.
Paparan pemanfaatan teknologi AI dari Seoul Artificial Intelligence Technical High School
Hal ini dinilai dapat membuka akses lulusan SMKN 1 Cibinong untuk bekerja di Korea Selatan serta memberi peluang bagi masyarakat yang ingin anaknya menimba pengalaman internasional.
Sugiyo juga berharap para guru terus memperbarui pengetahuan teknologinya agar mampu membekali siswa secara optimal. Sementara itu, siswa diharapkan mampu memilah antara benar dan salah dalam mengembangkan wawasan, khususnya di bidang teknologi.
Sedangkan Dr. Kim Young Saing, Senior Research Fellow sekaligus Doctor of HRD dari Krivet, menjelaskan bahwa awal mula kerja sama pendidikan antara Korea Selatan dan Indonesia telah dimulai sejak tahun 2009. Saat itu, Kementerian Pendidikan Indonesia meminta bantuan untuk menjalin kerja sama antara SMKN 1 Cibinong dengan sekolah di Korea Selatan.
Dr. Kim menyebut, Krivet tidak hanya bekerja sama dengan SMKN 1 Cibinong, tetapi juga dengan SMKN 9 Bandung, SMKN 1 Jember, dan SMK Saraswati Bali. Namun, SMKN 1 Cibinong menjadi sekolah pertama yang ia kunjungi di Indonesia.
Peserta FGD tampak antusias dalam pembelajaran AI
“Maka dari itu kami mulai bekerja sama. Dengan guru-guru di Indonesia yang belajar cara mengajar di Korea Selatan, hingga bagaimana bisa diterapkan di Indonesia. Seperti terkait metode dan materi pembelajaran yang akan diterapkan,” ujar Dr. Kim.
Pada kesempatan tersebut, Dr. Kim sengaja membawa Seoul AI Technical High School untuk menjajaki kerja sama yang lebih fokus pada penerapan AI dalam pembelajaran.
Ia menilai SMKN 1 Cibinong sebagai salah satu SMK terbaik di Indonesia dan berharap sekolah ini menjadi pelopor adopsi AI di lingkungan SMK nasional.
“Kemarin saya sempat datang ke seminar AI dalam bidang pendidikan. Saya cukup kaget karena AI dianggap negatif di Indonesia, dilihat sebagai yang memundurkan siswa-siswanya. Semoga dengan adanya aktivitas ini masyarakat dan siswa-siswi di Indonesia lebih terbuka pikirannya mengenai AI,” ungkap Dr. Kim.
Presentasi dari salah satu kelompok peserta FGD
Menurutnya, AI di era kontemporer sangat penting untuk dipahami karena telah digunakan di berbagai sektor dan mampu meningkatkan daya saing serta kualitas layanan pendidikan.
Ia menegaskan bahwa di Korea Selatan, inovasi yang diimbangi dengan pendidikan menjadi kunci utama, di mana sebagian besar pembelajaran telah memanfaatkan AI.
“Persoalan AI ini bukan tentang mau dipakai atau tidaknya. Namun dunia saat ini dan khususnya di sekolahan harus menerima bahwa AI sudah harus diadopsi di kehidupan sehari-hari,” kata Dr. Kim.
Ia menambahkan, terdapat dua hal penting yang perlu dipahami, yakni AI sudah hadir dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana manusia dapat menggunakannya untuk pengembangan di masa depan, bukan hanya sebatas teknologi yang dimiliki saat ini. [SR]***












