majalahsora.com, Kota Bekasi – Di bawah kepemimpinan Dr. Agus Setiawan, S.Pd., M.Si, SMKN 2 Kota Bekasi memiliki komitmen kuat dalam mempersiapkan siswanya menjadi lulusan unggul yang siap bekerja, melanjutkan dan berwirausaha (BMW).
Langkah ini dilakukan sebagai upaya konkret sekolah dalam menjawab tantangan dunia kerja sekaligus menekan angka pengangguran lulusan SMK di tanah air yang masih tergolong tinggi.
Upaya untuk mengurangi serta menghilangkan stigma SMK sebagai penyumbang pengangguran terbesar, Agus fan jajarannya fokus pada peningkatan kualitas siswa serta para gurunya sesuai pedoman dari Cadisdik Wilayah III dan Dinas Pendidikan Jabar.
Agus menilai, meski umumnya lulusan SMK cenderung langsung bekerja, sekolah harus adaptif serta mengikuti informasi terbaru terkait standar-standar perusahaan yang harus dipenuhi agar lulusan benar-benar siap bersaing.
Sebagai Kepala SMKN 2 Kota Bekasi yang baru menjabat pada 29 Oktober 2025 lalu, Agus pun mengutarakan program-program strategis, kepada awak media majalahsora.com pada Senin (2/2/2026), di kampus SMKN 2 Kota Bekasi, yang beralamat di Jalan Lapangan Bola RW Butun, Kelurahan Ciketing Udik, Kecamatan Bantar Gebang.
Agus menegaskan bahwa dirinya tidak menjalankan semua program tersebut sendirian. Ia mendapatkan dukungan penuh tim hebat SMKN 2 Kota Bekasi yang berperan aktif dalam meningkatkan kompetensi siswa.
Fokus Karakter dan Disiplin Lewat Gapura Pancawaluya
Firmansyah Kurniawan, S.Pd., Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) bidang Kesiswaan, menyampaikan bahwa program kesiswaan saat ini difokuskan pada implementasi Gapura Pancawaluya. Program tersebut menjadi fondasi pembentukan karakter siswa agar siap menghadapi dunia industri.
Kepala SMKN 2 Kota Bekasi, Dr. Agus Setiawan, S.Pd., M.Si., (kiri) saat menerima penghargaan SMK Award 2025 kategori “Transformatif Budaya Kerja Industri” bersama Kepala Dinas Pendidikan Jabar, Dr. Purwanto, M.Pd
Ia menjelaskan, terdapat sejumlah kompetensi dasar yang harus dimiliki siswa untuk memasuki dunia kerja, di antaranya kedisiplinan waktu, kedisiplinan berpakaian dan berpenampilan, serta sikap dan etos kerja.
Melalui Gapura Pancawaluya, siswa diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang cageur, bageur, bener, pinter, dan singer.
“Pada tahun 2025 lalu, kami meraih penghargaan Juara 2 se-Cabang Dinas Pendidikan Wilayah III dalam kategori Gapura Pancawaluya. Untuk tingkat Jawa Barat memang belum berhasil, mudah-mudahan tahun ini bisa tercapai,” ujar Firman.
Ia menambahkan, program unggulan kesiswaan pada semester genap terintegrasi sepenuhnya dalam Gapura Pancawaluya. Mulai dari tata cara berseragam, absensi kehadiran, hingga pembentukan akhlak dan karakter siswa.
Menurutnya, pembinaan karakter tidak hanya menjadi tanggung jawab tim kesiswaan, tetapi melibatkan seluruh elemen sekolah, mulai dari guru hingga staf manajemen.
Saat ini, jumlah siswa SMKN 2 Kota Bekasi tercatat sebanyak 2.228 orang yang terbagi ke dalam enam jurusan dan 63 rombongan belajar. Enam jurusan tersebut meliputi Teknik Elektronika Industri, Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), Teknik Sepeda Motor (TSM), Akuntansi, Rekayasa Perangkat Lunak (RPL), serta Teknik Energi Terbarukan (TET).
Selain penerapan Gapura Pancawaluya, sekolah juga memberlakukan sejumlah program pembiasaan. Di antaranya tadarus Al-Qur’an bersama di lapangan sekolah setiap pagi (jika cuaca memungkinkan), program Poe Ibu (sapoe sarebu), serta pelaksanaan salat dhuha berjamaah di masjid yang dijadwalkan per jurusan.
Suasana pembelajaran di SMKN 2 Kota Bekasi
Program Poe Ibu merupakan penggalangan dana yang hasilnya digunakan untuk membantu siswa kurang mampu secara ekonomi. Bantuan tersebut, misalnya, diberikan kepada siswa yang belum dapat membeli seragam sekolah, dengan mekanisme seperti kegiatan bakti sosial.
Pembiasaan pagi lainnya adalah program Embun Pagi, yakni kegiatan penyambutan siswa di gerbang sekolah oleh guru dan tim gerakan pendisiplinan. Dalam kegiatan ini, guru memeriksa kerapihan siswa, mulai dari kebiasaan memberi salam, kelengkapan seragam, sepatu, dasi, hingga atribut sekolah lainnya.
Siswa yang belum memenuhi ketentuan diwajibkan melengkapi atribut terlebih dahulu. Bahkan, saat memasuki area sekolah, siswa harus melepas jaket dan mengenakan seragam sesuai jadwal yang telah ditentukan, termasuk ketentuan warna sepatu, kaus kaki, dan ikat pinggang.
“Untuk model rambut siswa laki-laki juga ada ketentuan, yakni ukuran satu-dua-satu: satu sentimeter di kanan dan kiri, dua sentimeter di bagian atas. Setiap tiga bulan dilakukan pengecekan. Jika sudah terlalu panjang, harus dipotong. Bila tidak sempat di rumah, pemotongan bisa dilakukan di sekolah,” jelas Firman.
Ia menegaskan, seluruh pembiasaan tersebut bertujuan menyiapkan siswa agar terbiasa dengan standar yang berlaku di dunia industri. Dari sisi kesiswaan, penilaian difokuskan pada penampilan fisik seperti rambut, kuku, dan kebugaran jasmani.
“Banyak perusahaan yang menilai kekuatan fisik siswa. Bahkan ada yang menguji dengan berdiri selama satu jam. Karena itu, kami juga melakukan pembinaan jasmani melalui latihan fisik seperti push up dan sit up,” tambahnya.
Firman juga menyinggung kebiasaan siswa terkait pengelolaan sampah di lingkungan sekolah. Ia mengakui bahwa kebiasaan tersebut sering kali terbawa dari lingkungan rumah. Meski demikian, produksi sampah di sekolah terkadang masih sulit dikendalikan.
Dari kiri ke kanan: Wakasek Hubin, Ahmad Birul Walid, S.Pd., M.M., Wakasek Kurikulum, Anwar-Sanusi, S.Pd., Wakasek Sarpras, Alimudin, S.T., M.T., dan Wakasek Kesiswaan, Firmansyah Kurniawan, S.Pd
Salah satunya dipengaruhi oleh program Makan Bergizi Gratis (MBG). Meskipun siswa membawa bekal dari rumah dengan kemasan plastik, masih ditemukan sampah yang tertinggal tanpa sengaja. Oleh karena itu, kedisiplinan dalam pengelolaan sampah menjadi perhatian khusus pihak sekolah.
Ia berharap seluruh siswa SMKN 2 Kota Bekasi dapat mematuhi peraturan yang berlaku, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Lebih dari itu, ia menekankan agar aturan tersebut tidak dipandang sebagai beban, melainkan sebagai bekal pembentukan karakter dan kesiapan menghadapi masa depan.
Kurikulum Sistem Blok dan Teaching Factory
Selanjutnya, Wakasek bidang Kurikulum SMKN 2 Bekasi, Anwar Sanusi, S.Pd., menjelaskan bahwa salah satu program unggulan di bidang kurikulum adalah penerapan pembelajaran berbasis Teaching Factory (Tefa).
Menurut Anwar, saat ini sekolah masih melanjutkan pengembangan skema pembelajaran yang membagi mata pelajaran menjadi produktif dan adaptif-normatif dengan menggunakan sistem blok.
Dalam skema tersebut, enam bulan pembelajaran dibagi menjadi dua tahap. Tiga bulan pertama difokuskan pada mata pelajaran umum atau adaptif-normatif, sementara tiga bulan berikutnya diarahkan pada pembelajaran produktif.
“Pembelajaran mata pelajaran umum harus diselesaikan secara tuntas. Dengan begitu, ketika siswa memasuki pembelajaran produktif atau praktik, mereka bisa lebih fokus tanpa terdistraksi materi lain,” ujar Anwar.
Secara teknis, sistem blok diterapkan dengan membagi kelas ke dalam dua kelompok. Misalnya, dari empat kelas yang ada, dua kelas mempelajari teori, sementara dua kelas lainnya menjalani pembelajaran produktif. Pola ini dilakukan secara bergantian agar seluruh siswa memperoleh porsi yang seimbang.
Pelajaran olahraga di lapang SMKN 2 Kota Bekasi
Dari sisi pendekatan, Anwar menuturkan bahwa sekolah telah menerapkan pendekatan Deep Learning atau pembelajaran mendalam. Melalui pendekatan ini, pembelajaran dirancang agar selaras dengan konteks kehidupan nyata.
“Sebagai contoh pada mata pelajaran Bahasa Inggris, alokasi waktu mencapai delapan jam pelajaran per minggu. Empat jam digunakan untuk teori, sedangkan sisanya difokuskan pada praktik, seperti komunikasi, saling menyapa, bermain peran, hingga diskusi langsung,” jelasnya.
Dengan sistem blok dan pembelajaran tuntas tersebut, Anwar menilai proses belajar menjadi lebih bermakna. Siswa tidak hanya memahami materi, tetapi juga menikmati proses pembelajaran yang berlangsung secara aktif dan menyenangkan.
Namun demikian, Anwar mengakui bahwa sejauh ini belum terdapat perbedaan signifikan dibandingkan program pada tahun-tahun sebelumnya. Pasalnya, penerapan Tefa masih membutuhkan dukungan berupa pesanan atau order dari dunia industri.
“Kami masih membutuhkan order untuk pelaksanaan Tefa, sehingga pembelajaran produktif benar-benar berbasis permintaan industri. Saat ini, Tefa yang sudah berjalan baru ada di jurusan Teknik Energi Terbarukan yang berkolaborasi dengan Teknik Elektronik Industri, yakni pembuatan box panel beserta instalasi panel surya,” ungkapnya.
Ke depan, Anwar berharap SMKN 2 Bekasi dapat menerapkan konsep sekolah berstandar industri secara menyeluruh. Hal tersebut dimulai dari sistem pembelajaran yang tersinkronisasi dengan kebutuhan perusahaan, baik dari sisi kompetensi maupun karakter peserta didik.
“Ketika lulusan sudah sesuai dengan standar industri, maka mereka dapat langsung diserap dunia kerja karena kompetensi dan karakter yang dimiliki benar-benar dibutuhkan,” pungkas Anwar.
Hubin Perkuat Strategi BMW Lewat Mapping dan Soft Skill
Suasana Ruang Guru SMKN 2 Kota Bekasi
Dalam kesempatan yang sama, Ahmad Birul Walid, S.Pd., M.M., yang akrab disapa Birul, selaku Wakasek Bidang Hubungan Industri (Hubin), menekankan fokus dalam membentuk siswa SMKN 2 Bekasi agar siap bekerja, melanjutkan pendidikan, maupun berwirausaha.
“PR kami dari masing-masing bidang adalah menyatukan visi agar dapat memaksimalkan daya serap calon alumni pada tahun ajaran 2025/2026 ini untuk siap BMW. Bidang Hubin dan bidang lainnya saling terhubung menjadi satu kesatuan untuk mewujudkan visi SMKN 2 Bekasi, yaitu Unggul, Berkarakter, dan Berwawasan Global,” ujar Birul.
Adapun strategi yang dilakukan, yaitu dengan melakukan mapping atau pemetaan terlebih dahulu terhadap para siswa, terutama siswa kelas XII. Pemetaan ini telah dilakukan sejak mereka duduk di kelas X melalui tes minat dan bakat serta asesmen diagnostik.
Tujuannya untuk mengetahui kemampuan awal siswa, mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan belajar, serta menentukan strategi pembelajaran yang tepat dalam proses pembelajaran.
Hal ini dilakukan karena biasanya terdapat perubahan minat seiring berjalannya waktu, mulai dari kelas X hingga kelas XII. Terkadang, perubahan tersebut juga dipengaruhi oleh keinginan orang tua.
Contohnya, siswa yang awalnya ingin melanjutkan ke perguruan tinggi, namun saat kelas XII memilih untuk bekerja, ataupun sebaliknya.
Dari segi teknis, pemetaan siswa kelas XII dilakukan bersama tim bimbingan konseling dan bidang kurikulum. Tidak kalah penting, para siswa juga dibekali pelatihan soft skill dan hard skill.
Pembelajaran di dalam kelas
“Strategi ini memiliki sedikit perbedaan dibandingkan tahun lalu. Jika tahun lalu terdapat bimbingan belajar khusus, baik bagi siswa yang bekerja, melanjutkan, maupun berwirausaha, maka pada tahun ini kami mencoba bersinergi dengan seluruh anggota MGMP guru mata pelajaran tertentu untuk masuk ke KBM (Kegiatan Belajar Mengajar),” jelas Birul.
Tujuan dari pembekalan ini adalah membiasakan siswa agar terlatih hingga menjadi kebiasaan, khususnya dari segi hard skill. Proses penyelipan materi lain dalam KBM dinilai lebih mendalam dan maksimal. Sementara itu, untuk soft skill diperdalam melalui pembiasaan yang dilakukan oleh bidang kesiswaan.
Contoh teknis dari penyelipan materi tersebut, misalnya dalam pembelajaran disisipkan materi hingga soal-soal psikotes, seperti soal numerik dan deret hitung.
Dalam KBM, guru matematika yang sedang mengajar membagi persentase mengajar sebesar 60 persen untuk pemberian materi sesuai Capaian Pembelajaran Kurikulum pusat dan 40 persen untuk tes dengan ciri khas masing-masing perusahaan.
Siswa yang ingin bekerja setelah lulus akan mengerjakan soal-soal yang familier dengan standar perusahaan saat ini. Terlebih, Hubin telah melakukan mapping terhadap mitra-mitra industri yang cukup sering melakukan rekrutmen.
Seperti yang telah disampaikan Wakasek Kesiswaan, tes fisik merupakan persyaratan yang paling banyak diberikan oleh sejumlah perusahaan, seperti push up, sit up, pull up, lari, dan sebagainya, yang identik dengan tes dari perusahaan besar.
Oleh karena itu, dalam sesi pembelajaran, para guru diinstruksikan untuk menyelipkan pelatihan fisik. Begitu pula dengan tes Kraeplin dan Pauli, pecahan, tes alat ukur, serta materi lainnya yang bersinergi dengan berbagai mata pelajaran.
Ruang praktek Teknik Elektornika Industri
Tak kalah penting, yakni tes wawancara atau interview. Guru Bahasa Indonesia diinstruksikan untuk memberikan materi tentang cara berkomunikasi yang baik dan efektif, serta cara membuat lamaran kerja yang baik, baik secara digital maupun manual.
Setelah seluruh proses tersebut dilalui, bimbingan konseling berperan memberikan pendampingan, baik secara mental, melakukan cross check kembali minat dan bakat, berbagi dengan orang tua, maupun mendukung seluruh cita-cita siswa.
“Para alumni yang kuliah di Perguruan Tinggi Negeri kadang kami undang untuk berbagi praktik baik, memberikan motivasi khusus, serta tips and trick bagi siswa yang ingin melanjutkan.”
“Bagi alumni yang sudah bekerja pun demikian, mereka memberikan testimoni dan motivasi. Pihak praktisi juga kami libatkan, termasuk beberapa HRD dari mitra industri, untuk memberikan wawasan terkait budaya kerja industri, cara membuat lamaran kerja yang baik, dan sebagainya,” ungkap Birul.
Berdasarkan data mapping tim bimbingan konseling, dari total 729 orang calon alumni ke-20 (lulusan tahun 2026), sebanyak 208 orang (28,53 persen) ingin melanjutkan pendidikan, enam orang (0,82 persen) ingin berwirausaha, dan sisanya sebanyak 514 orang (70,51 persen) ingin bekerja.
Dengan demikian, Birul berharap dapat mengantarkan para calon alumni meraih cita-citanya, baik bekerja, melanjutkan pendidikan, maupun berwirausaha.
“Mudah-mudahan pada tahun 2045 Indonesia Emas, yang berkarya dan berkiprah itu salah satunya adalah lulusan SMKN 2 Kota Bekasi. Bisa dari segi kepemimpinan ataupun menjadi tokoh yang hebat dan inspiratif. Tidak ada yang tidak mungkin, kan,” pungkasnya. [SR]***











