majalahsora.com, Kota Bandung – Rohayati, M.Pd., akhirnya dirotasi sebagai Kepala SMKN 15 Kota Bandung, sesuai domisili setelah sebelumnya selama dua setengah tahun menjadi Kepala SMKN 1 Jatiluhur Kabupaten Purwakarta.
Penempatan kembali ke daerah asal di Bandung ini menjadi babak baru kepemimpinan Rohayati dalam memimpin sekolah yang telah memiliki fasilitas cukup baik serta menyandang predikat sebagai Sekolah Pusat Keunggulan.
Dengan latar belakang sebagai guru SMKN 13 Kota Bandung, sekolah analis kimia yang kemudian dipromosikan menjadi kepala sekolah di sekolah teknologi, Rohayati kini dihadapkan pada tantangan baru sekaligus warna baru dalam memimpin SMK Negeri 15 Bandung.
Sekolah ini memiliki sejumlah kompetensi keahlian potensial mulai dari Pekerjaan Sosial, Desain Komunikasi Visual, Kuliner hingga Perhotelan yang dinilai sangat baik untuk lebih dikembangkan melalui Teaching Factory (Tefa).
“Ini merupakan tantangan baru bagi saya dan warna baru dalam memimpin sebuah sekolah,” kata Rohayati, kepada majalahsora.com, Forum Wartawan Pendidikan Jabar, di ruang kerjanya, Kamis (12/2/2026).
Rohayati yang efektif menjabat selama tiga bulan lebih menjelaskan, dengan fasilitas yang ada serta status sekolah yang telah meraih penghargaan SMK Award 2025 kategori Link and Match Transformative, pihaknya termotivasi untuk terus mengembangkan sekolah agar benar-benar selaras dengan kebutuhan dunia industri.
Lanjutnya Tefa yang selama ini telah berjalan, menurutnya, masih belum optimal dan perlu ditingkatkan melalui model kolaborasi lintas kompetensi keahlian.
Tefa yang sebelumnya berjalan secara mandiri di tiap jurusan akan dikolaborasikan, seperti antara perhotelan dengan kuliner, sehingga dapat meningkatkan potensi yang bisa dikembangkan di SMK Negeri 15 Bandung. Upaya ini juga diarahkan untuk mendukung proyeksi sekolah menuju Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).
“Kami akan mencoba bertransformasi dari TEFA yang biasa dioptimalkan menjadi TEFA kolaborasi kemudian menuju sekolah BLUD,” katanya.
Namun demikian, Rohayati mengakui masih terdapat sejumlah kendala, di antaranya belum adanya kesamaan persepsi antar kompetensi keahlian dalam menyamakan visi menuju sekolah unggul serta belum menyeluruhnya pemahaman tentang pelaksanaan Tefa.
Menurutnya, hal ini menjadi tantangan untuk membuka mindset tenaga pendidik dari yang masih bersifat fix mindset menjadi grow mindset agar lebih terbuka terhadap perubahan.
Dunia industri, lanjutnya, membutuhkan lulusan dengan kompetensi yang sesuai kebutuhan sehingga pengalaman belajar melalui Teaching Factory menjadi sangat penting.
Selain itu, sekolah juga terus membangun link and match dengan mitra industri tidak hanya melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL), tetapi juga melalui program DBS, magang guru serta kehadiran guru tamu yang dilaksanakan setiap tahun.
Rohayati menambahkan, pihaknya juga tengah mengajukan akreditasi perpustakaan guna meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa yang dalam raport pendidikan masih berada pada kategori baik, belum sangat baik.
“Kami dengan pihak perpustakaan sedang mengajukan akreditasi perpustakaan, mudah-mudahan dengan dukungan perpustakaan kemampuan literasi dan numerasi anak-anak bisa meningkat,” ungkapnya.
Sedangakan untuk peningkatan Tefa di bidang kuliner, sekolah juga memanfaatkan peluang dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan memproduksi makanan kering seperti roti yang disuplai ke dapur SPPG yang berada di dekat sekolah.
Selain itu, menjelang bulan Ramadan dan Idul Fitri, siswa juga memproduksi kue kering sebagai bagian dari pembelajaran Tefa. Produk tersebut tidak hanya dibuat, tetapi juga dipasarkan langsung oleh siswa guna meningkatkan kemampuan selling skill.
“Anak-anak membuat produk kemudian memasarkan sendiri, sehingga mereka mendapatkan nilai dari hasil selling skill sekaligus dari proses produksi, bahkan ada margin keuntungan dari hasil penjualan,” jelas Rohayati.
Kolaborasi ini juga melibatkan kompetensi Sekolah Pencetak Wirausaha (SPW) sehingga tidak hanya Tefa. yang berjalan, tetapi juga meningkatkan kemampuan kewirausahaan siswa secara komprehensif, mulai dari proses pembelajaran, produksi hingga pemasaran produk kepada masyarakat. [SR]***





