majalahsora.com, Kota Bandung – Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Pusat Prof Budi Djatmiko, mengeluarkan statemen pedas yang ditujukan kepada Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM), terkait nihilnya perhatian kepada perguruan tinggi swasta Jabar.
Kritik itu disampaikan secara terbuka dalam kegiatan pelantikan Ketua dan Pengurus APTISI Jabar masa bakti 2025–2030, sekaligus membuka acara Bandung Campus Update 2026, di Bandung Convention Centre Kota Bandung, Rabu (11/2/2026).
Di hadapan jajaran pengurus, tamu undangan, serta perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Budi Djatmiko menyoroti absennya dukungan konkret dari pemerintah daerah terhadap PTS.
Ia bahkan meminta agar pesannya disampaikan langsung kepada KDM melalui Asisten Daerah (Asda) I Provinsi Jabar, Asep Sukmana, yang hadir dalam acara tersebut.
“Saya ingin mengucapkan terima kasih atas semua pertemuan hari ini yang dihadiri oleh Bapak-Ibu dan hadirin yang berbahagia. Pertama, mumpung Pak Adep Asisten Daerah I Provinsi Jabar ada di sini,” ujar Budi.
Dalam kesempatan itu, ia mengingatkan bahwa dirinya pernah menjabat sebagai Ketua APTISI Jawa Barat lebih dari 20 tahun lalu, pada masa kepemimpinan Gubernur Ahmad Heryawan (Aher). Saat itu, kata dia, perhatian terhadap pendidikan tinggi swasta sangat besar hingga Jawa Barat meraih prestasi sebagai gubernur terbaik di bidang pendidikan.
“20 tahun lebih Pak saya pernah jadi Ketua APTISI Jawa Barat jamannya Gubernur Ahmad Heryawan (Aher) sampai meraih prestasi Gubernur terbaik di bidang pendidikan yang sangat memperhatikan bidang pendidikan di Jabar,” tuturnya.
Ia juga membandingkan dengan periode setelahnya. Menurut Budi, Gubernur berikutnya Ridwan Kamil tidak pernah membantu sedikit pun kepada APTISI. Kritik serupa kembali ia alamatkan kepada Gubernur saat ini.
“Begitu juga dengan Gubernur saat ini Kang Dedi Mulyadi, undangan yang APTISI layangkan sebanyak lima kali, belum satupun ia datang ke acara. Ini tolong dicatat baik-baik,” tegasnya.
Ia menyebut kondisi tersebut menjadi catatan kurang bagus bagi peminpin daerah. Bahkan, ia menyindir bahwa untuk membantu perguruan tinggi saja belum terlihat, apalagi sekadar menghadiri undangan.
“Ini menjadi catatan kurang bagus ya, boro-boro membantu perguruan tinggi, datang pun tidak,” ucapnya lugas.
Budi berharap melalui kehadiran Asda I dalam acara pelantikan Ketua dan Pengurus APTISI Jabar masa bakti 2025–2030, pesan tersebut bisa diteruskan kepada KDM.
Ia mengingatkan bahwa Jawa Barat pernah berturut-turut menjadi provinsi dan gubernur terbaik berkat perhatian kepada perguruan tinggi.
“Tolong beritahu sama KDM, karena kita pernah berturut-turut menjadi provinsi dan gubernur terbaik dengan perhatian kepada perguruan tinggi,” katanya.
Budi juga menyinggung penurunan peringkat Jawa Barat dalam bidang pendidikan. Jika sebelumnya berada di posisi nomor satu, kini menurutnya turun drastis hingga urutan 28. Karena itu, ia menekankan pentingnya komitmen satu tahun ke depan agar Jawa Barat kembali bangkit.
“Setelah berikutnya, malah urutan nomor 28, tadinya nomor 1, nomor 28. Satu tahun ke depan kita mau ranking lagi, jangan sampai Pemerintah Provinsi Jawa Barat tidak pernah membantu perguruan tinggi,” ujarnya.
Budi turut mengenang masa kepemimpinannya saat Aher menjabat Gubernur. Ia menyebut dukungan anggaran yang diberikan kepada APTISI saat itu mencapai Rp100 hingga Rp120 miliar per tahun.
“Waktu saya jadi Ketua APTISI Jabar, Pak Aher itu menyerahkan bantuan Rp 100 sampai Rp 120 miliar per tahun,” ungkapnya.
Ia pun berharap ada komunikasi yang lebih intensif antara APTISI dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat ke depan.
“Ya mudah-mudahan dengan Kang Asep datang, tolong bisikan sama KDM,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, dirinya meminta Ketua dan Pengurus APTISI Jabar yang sudah dipilih agar berpartisipasi aktif dalam mendukung program tersebut.
Budi pun menyampaikan doa dan harapannya agar APTISI Jawa Barat kembali menjadi contoh terbaik. Ia mengenang perjuangan membangun organisasi hingga memiliki gedung representatif yang dibangun dengan dukungan pemerintah saat itu.
Kritik terbuka dari Ketum APTISI Pusat ini diprediksi akan memicu respons dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat terkait dukungan terhadap perguruan tinggi swasta di daerah tersebut. [SR]***





