majalahsora.com, Kabupaten Bandung – SMKN 7 Baleendah Kabupaten Bandung terpilih sebagai penyelenggara Program Work Improvement in Neighbor Development Youth (WINDY), melalui kegiatan Beasiswa Pelatihan Fasilitator Muda WINDY bertema “Penguatan Peran Siswa sebagai Penggerak Budaya K3L melalui Metode PAOT” pada 7–9 Februari 2026.
Program ini menegaskan peran siswa sebagai motor perubahan budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja serta Lingkungan (K3L) di sekolah.
Sebanyak 20 siswa dari 10 sekolah mengikuti pelatihan yang berfokus pada K3L guna mewujudkan sekolah yang aman, nyaman, dan bersih melalui kegiatan interaktif, dalam membangun sikap kreatif, aktif, dan kritis siswa.
Dari pelatihan ini, para peserta diproyeksikan menjadi fasilitator muda yang akan menularkan praktik baik di sekolah masing-masing.
Toyoki Nakao, delegasi Jepang perwakilan Tokyo Occupational Safety and Health Center saat memberikan cinderamata kepada Kepala SMKN 7 Baleendah, Tisna Saepudin, S.Pd., M.M
Kepala SMKN 7 Baleendah, Tisna Saepudin, S.Pd., M.M., mengaku bangga sekolah yang dipimpinnya terpilih menjadi tempat penyelenggaraan kegiatan ini. Ia menyampaikan bahwa program tersebut sangat relevan dengan penguatan karakter siswa.
“Alhamdulillah ini program yang sangat baik dalam mendukung pembentukan karakter siswa, sesuai dengan program Pancawaluya Kang Dedi Mulyadi (KDM) Gubernur Jabar, membentuk siswa cageur, bageur, bener, pinter tur singer,” kata Tisna kepada majalahsora.com, perwakilan Forum Wartawan Pendidikan Jabar, di ruang kerjanya, Jalan Siliwangi Km.15, Desa Manggahang, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Senin (9/2/2026).
Dalam kegiatan ini, terdapat sejumlah materi yang disampaikan dalam beberapa sesi. Pada sesi pertama mengenai Lingkungan Aman dan Nyaman, dibahas pentingnya proses belajar yang bersih dan ruang belajar yang aman, melalui jalur bebas hambatan, tempat duduk ergonomis, jarak layar yang tepat, ketersediaan APAR dan jalur evakuasi, serta penggunaan alat pelindung diri yang sesuai.
Sesi dua terkait Penyimpanan Alat/Material menekankan penataan yang rapi dan efisien dengan lemari atau wadah bertingkat, pelabelan, penempatan barang dalam jangkauan, penyediaan tempat khusus setiap alat, serta penggunaan alat bantu untuk memindahkan barang guna mengurangi risiko cedera.
Program Work Improvement in Neighbor Development Youth (WINDY), melalui kegiatan Beasiswa Pelatihan Fasilitator Muda WINDY bertema “Penguatan Peran Siswa sebagai Penggerak Budaya K3L melalui Metode PAOT”
Dilanjutkan sesi ketiga tentang ramah lingkungan dan penerapan 3R, mendorong pengurangan pencemaran melalui pemilahan sampah organik dan nonorganik, pemanfaatan kembali bahan bekas, pengurangan penggunaan plastik, serta sistem pengolahan sampah sederhana agar lingkungan terhindar dari penyakit.
Pada sesi berikutnya mengenai hemat energi dan pencegahan perubahan iklim, peserta diajak melaksanakan kegiatan hemat energi, menyebarkan informasi terkait perubahan iklim, menanam tanaman, memanfaatkan cahaya dan ventilasi alami, serta menjaga sirkulasi udara yang baik.
Sedangkan sesi lima tentang lingkungan sosial ramah anak menekankan kesehatan jasmani dan rohani serta peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui fasilitas cuci tangan, ketersediaan air minum dan makanan, toilet yang bersih, waktu istirahat yang cukup, serta kegiatan yang membangun keakraban antara guru dan siswa.
Tisna berharap melalui pelatihan ini peserta mampu menjadi fasilitator muda yang menggerakkan budaya K3L di lingkungan sekolah masing-masing dan membentuk kebiasaan baik yang berkelanjutan.
Wakil Kepala Sekolah bidang Hubungan Industri (Hubin), Cecep Dalda Astamalya, S.Pd., (kiri)
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Kepala Sekolah bidang Hubungan Industri (Hubin), Cecep Dalda Astamalya, S.Pd., menjelaskan bahwa program ini merupakan kolaborasi dengan Local Initiative for Network Indonesia (LION Indonesia). Ia menyebut kegiatan ini sebagai beasiswa pelatihan fasilitator muda.
Menurut Cecep, konsen kegiatan ini adalah di K3L, yakni keselamatan dan kesehatan kerja untuk calon tenaga kerja. Fokusnya dimulai dari hal-hal kecil seperti kerapihan, kebersihan, dan keselamatan.
“Fasilitator-fasilitator ini nanti menjadi agen perubahan di sekolahnya masing-masing. Dari 10 sekolah, masing-masing mengirimkan dua peserta, jadi total 20 orang. Saat pelatihan mereka mengimplementasikan dulu di SMKN 7 Baleendah kepada siswa kami, selanjutnya menjadi fasilitator di sekolahnya masing-masing,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa tujuan atau goal kegiatan ini adalah membentuk budaya kerja, khususnya budaya K3L, agar menjadi habit atau praktik baik yang dilakukan siswa sebagai calon tenaga kerja. Program ini, lanjutnya, diinisiasi dari konsep Jepang, sudah dilaksanakan di Vietnam dan berhasil di sana.
Para peserta diharapkan bisa menjadi agen perubahan
“Implementasinya tidak hanya selesai tiga hari, tetapi berlangsung terus-menerus sehingga nanti ada perubahan kebiasaan khusus K3L tersebut,” ujarnya.
Materi yang diberikan meliputi pengetahuan K3L, perundang-undangan tentang K3L, hingga bagaimana memanage K3L mulai dari penataan, penyimpanan barang, labeling, hingga menghemat energi. Cecep menegaskan bahwa pendekatan yang digunakan tidak membutuhkan dana besar, melainkan memanfaatkan apa yang ada di sekitar sekolah.
Ia juga mengungkapkan bahwa aspek K3L sangat diperhatikan dalam proses rekrutmen industri, termasuk kerja sama dengan Jepang. “Ketika rekrutmen dengan Jepang, mereka sangat concern bagaimana tenaga kerja itu diperhatikan keselamatan dan kesehatan kerjanya,” katanya.
Ke depan, kerja sama dengan LION Indonesia akan terus berlanjut untuk memantau sejauh mana implementasi program di SMKN 7 Baleendah. Bahkan akan dibentuk dewan yang melibatkan guru dan Dewan Komite untuk lebih concern terhadap K3L.
Pengawas SMKN 7 Baleendah, Budi Haryono, S.Pd., S.ST., M.M.Pd., (keempat dari kanan) hadir ke sekolah
Harapannya, kualitas lulusan semakin baik, baik dari sisi kompetensi maupun budaya kerja. Keterserapan industri dan kepercayaan dunia usaha pun diharapkan meningkat karena siswa tidak hanya memiliki kompetensi teknis, tetapi juga habit di bidang K3L.
Kolaborasi Internasional Juga Menjadi Kekuatan Program Ini
Toyoki Nakao, delegasi Jepang perwakilan Tokyo Occupational Safety and Health Center, lembaga di Negara Sakura yang didedikasikan untuk meningkatkan kesehatan dan keselamatan kerja, menyampaikan bahwa hubungan antara NGO Jepang dan Indonesia telah melahirkan dampak nyata melalui Program WINDY di Bandung.
“Tujuannya mendukung tempat kerja, terutama yang mempekerjakan kurang dari 100 karyawan, untuk mengatasi masalah kesehatan mental dan penyakit akibat kerja,” ujarnya.
Nakao mengatakan gagasan Program WINDY bermula dari pengalaman internasional.
Saat meninjau salah satu ruang prkatek siswa jurusan Teknik Kendaraan Ringan SMKN 7 Baleendah
“Tujuh tahun yang lalu, kami mempelajari Program WINDY di Vietnam dan kemudian berkomitmen untuk mengembangkannya bersama-sama ke Indonesia,” kata Nakao.
Menurutnya, program ini penting bagi generasi muda yang memiliki masa depan di pabrik, dunia kerja, dan berbagai jenis perusahaan setelah lulus sekolah.
Program ini mulai dijalankan secara bertahap sejak tahun 2000 sebagai bagian dari upaya jangka panjang peningkatan kualitas pendidikan berbasis praktik.
Meski sempat terdampak pandemi pada 2020, program ini tetap berjalan sedikit demi sedikit hingga bertahan dan berkembang. Saat ini, enam sekolah telah mengadopsi Program WINDY dan perubahan besar mulai terasa di sekolah yang ada di Bandung.
Metodologi dasar program ini adalah participatory action oriented training (PAOT), yang dikembangkan oleh International Labour Organization (ILO). Metode ini mengedepankan pendekatan bottom-up, di mana siswa menjadi aktor utama dalam mengusulkan dan melakukan perbaikan bersama pihak sekolah.
Delegasi Jepang, saat melihat ruang praktek siswa jurusan Teknik Sepeda Motor SMKN 7 Baleendah
“Kami sangat percaya pada kekuatan siswa,” ujar Nakao.
Program ini menggunakan action checklist untuk mengumpulkan praktik-praktik baik yang dibuat oleh siswa sendiri. Contoh-contoh tersebut kemudian diwariskan kepada banyak siswa agar dapat terus dikembangkan.
“Saya sangat bahagia. Setiap tahun saya kembali ke sini dan belajar dari kekuatan para siswa,” kata Nakao.
Ke depan, Program WINDY akan menyasar lebih luas lagi ke sekolah-sekolah lain dan menjadi komunitas yang terus berdampak serta saling menginspirasi.
Dengan pendekatan pelatihan berbasis aksi dan kekuatan siswa sebagai penggerak utama, SMKN 7 Baleendah menjadi bukti bahwa perubahan budaya kerja bisa tumbuh dari sekolah dan bergerak hingga ke dunia industri. [SR]***












