majalahsora.com, Kota Bandung – Yayasan Pendidikan Keuangan dan Perbankan (YPKP) Bandung menandai perjalanan panjangnya selama 56 tahun sebagai penyelenggara pendidikan tinggi dengan komitmen kuat menjaga keberlanjutan perguruan tinggi swasta di tengah tantangan tata kelola dan kompetisi global.
Berdiri sejak 24 Januari 1970, YPKP Bandung terus eksis melalui Universitas Sangga Buana YPKP (USB YPKP) sebagai salah satu perguruan tinggi tertua di Kota Bandung.
Momentum milad ke-56 ini menjadi refleksi atas kematangan institusi yang telah melewati lebih dari setengah abad dinamika pendidikan tinggi.
Di saat banyak perguruan tinggi swasta menghadapi ancaman penutupan, YPKP Bandung justru menegaskan perannya sebagai bagian dari solusi nasional dalam menjaga akses pendidikan bagi masyarakat.
Yayasan Pendidikan Keuangan dan Perbankan (YPKP) Bandung, berdiri pada tanggal 24 Januari 1970, sebagai badan penyelenggara penyelenggara pendidikan tinggi Universitas Sangga Buana YPKP (USB YPKP), dengan penuh rasa syukur memperingati milad ke-56 tahun.
Ketua Yayasan YPKP Dr. H. R. Ricky Agusiady, S.E., M.M., Ak., CFrA., CHRM
Usia yang telah mencapai lebih dari setengah abad ini menjadi simbol kematangan dan ketahanan sebuah institusi pendidikan tinggi swasta di tengah tantangan yang semakin kompleks.
Ketua Yayasan YPKP, Dr Ricky Agusiady, menyampaikan kebanggaannya atas perjalanan panjang institusi ini. Ia menegaskan bahwa tidak semua perguruan tinggi mampu bertahan selama puluhan tahun di tengah perubahan regulasi dan persaingan ketat.
“Kami termasuk salah satu perguruan tinggi tertua di Bandung. Banyak institusi yang baru berdiri mengklaim keunggulan, namun mampu bertahan selama 56 tahun bukanlah hal yang mudah,” ujar Ricky di sela-sela acara, kepada majalahsora.com, dan Forum Wartawan Pendidikan Jabar, Rabu (28/1/2026).
Ricky, yang juga Ketua Asosiasi Badan Pengelola Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ABPPTSI) Wilayah Jawa Barat itu menjelaskan, bahwa usia panjang ini mencerminkan kematangan organisasi. Menurutnya, banyak perguruan tinggi swasta tidak mampu melewati tantangan internal dan eksternal.
“Tidak sedikit perguruan tinggi swasta yang akhirnya harus bergabung dengan institusi lain atau bahkan menghentikan operasionalnya. Dari sekitar 400 PTS yang berada di bawah naungan ABPPTSI, sekitar 10 persen mengalami kesulitan serius. Hal ini berpotensi mengurangi kesempatan kuliah bagi masyarakat,” paparnya.
Peresmian Masjid Ulil Albab kampus USB YPKP yang baru rampung direnovasi
Sebagai langkah konkret, USB YPKP saat ini sedang menjalani proses penggabungan (merger) dengan sebuah sekolah tinggi kesehatan melalui mekanisme resmi yang ditetapkan pemerintah. Langkah tersebut dinilai sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan pendidikan tinggi nasional.
“Ini merupakan salah satu bentuk kontribusi kami kepada negara agar tidak ada lagi kursi kuliah yang hilang akibat penutupan institusi,” tambahnya.
Lebih lanjut, Ricky mengungkapkan bahwa akar persoalan yang kerap menjerat perguruan tinggi swasta bukan terletak pada kualitas institusi, melainkan pada tata kelola internal. Ia menyoroti konflik kepemimpinan sebagai salah satu faktor utama.
“Bukan institusinya yang bermasalah, melainkan pengelolaannya. Sering kali muncul perbedaan pandangan di internal yayasan atau dualisme kepemimpinan. Kami di ABPPTSI berupaya mencegah penutupan dengan mendorong penggabungan antar perguruan tinggi yang sehat,” jelasnya.
Ke depan, USB YPKP menargetkan lompatan kualitas yang lebih tinggi. Tidak hanya sejajar dengan perguruan tinggi di Jawa Barat, tetapi juga mampu bersaing di tingkat nasional hingga internasional.
Rektor Universitas Sangga Buana (USB) YPKP, Dr. H. Didin Saepudin, S.E., M.Si., saat peresmian taman kampus
“Kami telah memenuhi kriteria Unggul berdasarkan indikator BAN-PT dan sedang melengkapi berbagai elemen pendukungnya. Selanjutnya, kami harus mengubah pola pikir dari kompetisi lokal menuju standar global,” tambah Ricky.
Sementara itu, Rektor USB YPKP, Dr Didin Saepudin, menegaskan bahwa usia 56 tahun menjadi fondasi kuat bagi pengembangan universitas secara berkelanjutan. Pengalaman panjang tersebut dinilainya sebagai modal penting dalam menghadapi tantangan masa depan.
“Pengalaman panjang ini memberikan kekuatan bagi kami, baik di tingkat yayasan maupun pengelola, untuk terus menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing tinggi,” katanya.
Didin juga menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan penuh dari yayasan dalam berbagai upaya peningkatan kualitas. Menurutnya, kolaborasi yang solid menjadi kunci keberlangsungan USB YPKP hingga saat ini.
“Sinergi yang harmonis antara yayasan dan manajemen memungkinkan kami terus meningkatkan kualitas akademik, sarana-prasarana, serta pengembangan sumber daya manusia. Alhamdulillah, hingga saat ini USB YPKP tetap eksis dan terus menunjukkan kemajuan di berbagai aspek,” ujarnya.
Peringatan milad ke-56 YPKP Bandung diselenggarakan secara sederhana namun sarat makna. Rangkaian kegiatan meliputi peresmian renovasi masjid dan taman kampus serta pemberian santunan kepada anak yatim sebagai wujud kepedulian sosial.
“Kami mengajak seluruh elemen yayasan, pimpinan universitas, dosen, dan mahasiswa untuk bersama-sama mewujudkan visi tersebut,” tutup Didin. [SR]***








