majalahsora.com, Kota Bandung – Inaugurasi REVOSA 25 & Kuliah Umum Universitas Sangga Buana (USB) YPKP bertema “Menuju Indonesia 2045: Anak Muda, Demokrasi, dan Pertahanan Bangsa” digelar dengan menghadirkan sejumlah tokoh nasional lintas latar belakang, mulai dari Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo, Rocky Gerung, Refly Harun, hingga H. M.S. Kaban, dengan moderator jurnalis senior Hersubeno Arief.
Kegiatan ini menjadi ruang intelektual strategis yang menegaskan peran mahasiswa sebagai subjek utama demokrasi sekaligus garda depan pertahanan bangsa menuju satu abad Indonesia merdeka.
Ketua Pengurus YPKP Dr. H. R. Ricky Agusiady, menegaskan bahwa Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai tanpa pengelolaan bonus demografi yang tepat, pembinaan karakter kebangsaan, serta penguatan literasi demokrasi generasi muda.
Hal tersebut disampaikannya dalam sambutan pada Inaugurasi REVOSA 25 yang dirangkaikan dengan Kuliah Umum.
Kata Ricky Inaugurasi REVOSA 25 yang dirangkaikan dengan kuliah umum, sebagai ruang intelektual untuk merawat nalar, karakter, dan tanggung jawab kebangsaan generasi muda.
Lebih jauh, Ricky menekankan bahwa tahun 2045 memiliki makna strategis bagi bangsa Indonesia. Tahun 2045 bukan sekadar angka, tapi tonggak satu abad Indonesia merdeka, sekaligus momentum penentuan apakah bangsa ini benar-benar mampu melompat menjadi negara maju, berdaulat, dan bermartabat, atau justru terjebak dalam persoalan struktural yang gagal kita antisipasi hari ini.
Masih dikatakan Ricky, salah satu faktor penentu masa depan bangsa adalah demografi. Ia menjelaskan bahwa secara ilmiah demografi merupakan ilmu yang mempelajari dinamika penduduk manusia, mencakup jumlah, struktur usia, distribusi, serta perubahannya melalui faktor fertilitas, mortalitas, dan migrasi.
“Indonesia saat ini sedang berada pada fase yang sangat strategis, yaitu bonus demografi, di mana penduduk usia produktif (15–64 tahun) mendominasi struktur penduduk nasional,” kata Ricky, di Aula USB YPKP, Jalan KHP Hasan Mustopa No 68, Kota Bandung, Kamis (29/1/2026).
Ia mengutip data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan bahwa Indonesia menikmati bonus demografi pada rentang 2020–2035, dengan lebih dari 68% penduduk berada pada usia produktif.
Namun, ia mengingatkan bahwa peluang tersebut juga menyimpan tantangan serius.
“Bonus demografi tidak otomatis menjadi berkah. Tanpa pembinaan yang tepat, bonus ini justru berpotensi berubah menjadi musibah demografi,” tegasnya.
Ia merinci sejumlah risiko apabila kualitas generasi muda tidak dipersiapkan dengan baik, seperti kualitas pendidikan rendah, lapangan kerja tidak memadai, literasi demokrasi lemah, dan karakter kebangsaan rapuh.
Kondisi tersebut, lanjutnya, dapat melahirkan pengangguran massal, instabilitas sosial, meningkatnya kriminalitas, serta kerentanan terhadap disinformasi dan konflik.
Dalam konteks itu, anak muda dinilai memegang peran sentral. Anak muda bukan hanya objek pembangunan, tetapi subjek utama demokrasi dan pertahanan bangsa.
Demokrasi tidak akan sehat tanpa generasi muda yang kritis, beretika, dan berorientasi pada kepentingan nasional. Sementara pertahanan bangsa tidak hanya soal senjata, tetapi juga ketahanan ideologi, ekonomi, sosial, dan budaya.
Kehadiran para narasumber nasional pun memberi warna tersendiri dalam kegiatan tersebut.
Sebagai lembaga pendidikan dan yayasan, Dr. Ricky menegaskan bahwa YPKP memikul tanggung jawab besar untuk membina generasi muda agar cerdas secara intelektual, matang secara emosional, dan kokoh secara moral serta bijaksana karena berwawasan.
“Kami tidak cukup mencetak lulusan yang pintar, tetapi harus melahirkan warga negara yang sadar demokrasi dan memiliki semangat bela negara,” katanya.
Ia menilai kuliah umum tersebut sangat relevan karena menghadirkan perspektif lintas disiplin dari akademisi, praktisi, politisi, dan pemikir kebangsaan.
Indonesia Emas 2045 hanya dapat terwujud jika bonus demografi dikelola dengan kebijakan yang tepat dan pembinaan yang berkelanjutan.
“Saya berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai seremoni inaugurasi, tetapi menjadi titik awal komitmen intelektual dan moral bagi seluruh peserta, khususnya generasi muda, untuk berkontribusi nyata bagi demokrasi dan pertahanan bangsa,” pungkasnya. [SR]***





