majalahsora.com, Kota Bekasi – SMKN 12 Kota Bekasi saat ini tengah menghadapi persoalan krusial berupa keterbatasan ruang kelas yang semakin mendesak. Dengan jumlah rombongan belajar yang terus bertambah, sekolah ini membutuhkan penambahan ruang kelas baru atau perluasan bangunan agar proses belajar mengajar dapat berjalan optimal. Kondisi tersebut diutarakan oleh Kepala SMKN 12 Kota Bekasi yang baru menjabat, Firman Muhari, S.T., M.M.
Sekolah yang memiliki tiga jurusan unggulan, yakni Teknik Pengelasan, Desain Gambar Mesin, dan Teknik Kimia Industri itu, berharap adanya perhatian serius dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, di bawah Gubernur Kang Dedi Mulyadi (KDM).
Harapan tersebut menguat lantaran SMKN 12 Bekasi dinilai memiliki potensi besar, baik dari sisi sumber daya manusia maupun pengembangan program keahlian, meski terkendala sarana dan prasarana.
Kepala SMKN 12 Kota Bekasi, Firman Muhari, S.T., M.M
SMKN 12 Bekasi yang berlokasi di Jalan Kemang Sari 4, RT 003/RW 011, Jatibening Baru, Kecamatan Pondok Gede, Kota Bekasi, Jawa Barat, saat ini memiliki 20 rombongan belajar (rombel).
Namun, seluruh rombel tersebut hanya ditopang oleh delapan ruang kelas. Bahkan, ruang praktek siswa (bengkel) dan laboratorium praktik terpaksa dialihfungsikan menjadi ruang kelas demi menampung siswa.
Firman mengungkapkan, penambahan ruang kelas menjadi pekerjaan rumah utama yang harus segera diselesaikan. Menurutnya, kondisi sekolah yang memiliki peminat tinggi namun lahan terbatas membuat pihak sekolah harus mengambil keputusan sulit, termasuk menolak calon siswa baru.
Siswa SMKN 12 Kota Bekasi jurusan Teknik Kimia Industri (TKI)
“PR pertama sudah pasti penambahan ruang kelas kalau dapat. Walaupun kadang ada kecemburuan, seperti kalau sekolah sekecil sekolah kami dengan butuh siswa banyak dan peminatnya banyak, namun tanahnya sedikit. Jadi kami mau tidak mau membuang siswa. Tanah dan ruang kelas bisa dibilang tidak ada, oleh karena itu saya masih memikirkan untuk pengembangan,” kata Firman, kepada awak media majalahsora.com, perwakilan Forum Wartawan Pendidikan Jabar, Jumat (30/1/2026).
Ia menambahkan, bantuan dari Pemerintah biasanya tidak diberikan sekaligus dalam jumlah besar. Kekurangan 12 ruang kelas yang menjadi persoalan utama belum tentu dapat terpenuhi sepenuhnya. Berdasarkan pengalamannya, bantuan pembangunan ruang kelas biasanya hanya berkisar dua hingga empat kelas.
Firman juga menyoroti adanya kesenjangan perlakuan antara sekolah kecil dan sekolah besar (sekolah lama). Ia menilai, sekolah yang sudah mapan justru masih mendapat tambahan fasilitas, sementara sekolah kecil seperti SMKN 12 Bekasi masih tertinggal.
Jurusan Teknik Perancangan Gambar Mesin (TPGM)
“Kadang sekolah lama itu sudah banyak ruangannya, masih dikasih lagi (mendapatkan bantuan). Sedangkan sekolah kami yang kecil masih belum,” ungkapnya.
Dari sisi sumber daya manusia, SMKN 12 Bekasi memiliki 57 tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, serta 672 siswa. Firman menilai kualitas SDM di sekolah tersebut tergolong baik, terutama dalam pengembangan keterampilan siswa. Dalam waktu dekat, pihaknya bahkan telah mendaftarkan program Teaching Factory (Tefa) untuk seluruh jurusan.
Saat ini, Tefa jurusan Teknik Kimia Industri sudah berjalan dan menghasilkan berbagai produk, seperti deterjen, sabun cuci tangan, dan sabun cuci piring. Namun, program tersebut masih dalam proses pengurusan legalitas sehingga belum terdaftar secara resmi sebagai sekolah Tefa.
Praktek siswa jurusan Teknik Pengelasan (TPL)
Sementara itu, Tefa jurusan Teknik Pengelasan juga telah dikembangkan dan bahkan telah memiliki konsumen tetap. Firman menyebutkan, produk-produk hasil siswa SMKN 12 Bekasi telah digunakan oleh pihak luar melalui kerja sama yang terjalin.
“Teknik Pengelasan dan Teknik Kimia Industri sudah ada buyernya. Contohnya untuk sabun, sampo dan lainnya itu bekerja sama dengan hotel. Mereka memesan sabun-sabun itu ke kami,” kata Firman.
Selain kerja sama dengan industri, SMKN 12 Bekasi juga diminta untuk terlibat dalam pemberdayaan masyarakat.
Suasana SMKN 12 Kota Bekasi
Dijelaskan Firman, di Kecematan Pondok Gede, meminta pihak sekolah memberikan pelatihan keterampilan bagi siswa putus sekolah, lulusan yang masih menganggur, hingga ibu-ibu PKK.
“Pihak Kecamatan Pondok Gede meminta melakukan pemberdayaan SDM. Seperti untuk siswa putus sekolah atau ibu PKK. Diminta untuk diadakan pelatihan dari jurusan-jurusan yang ada di kami,” ujarnya.
Pelatihan tersebut antara lain berupa keterampilan pengelasan bagi siswa putus sekolah dan lulusan yang menganggur, serta pelatihan pembuatan sabun, sampo, dan produk sejenis bagi ibu-ibu PKK melalui jurusan Teknik Kimia Industri. [SR]***










