majalahsora.com, Kota Bandung – Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung kembali menghadirkan Visual Art Festival (VAFEST) 3.0, sebuah ajang kolaborasi seni, desain, dan budaya yang telah menjadi agenda tahunan sejak 2023.
Festival ini berlangsung meriah di area Mundinglaya dan FSRD ISBI Bandung pada 1–2 November 2025, menampilkan pameran, talkshow, workshop, kompetisi, fashion show, dan pertunjukan musik mahasiswa yang melibatkan peserta lintas usia dan generasi.
Mengusung tema besar “No Design No Business, No Art No Impression, No Attitude No Humanistic”, VAFEST 3.0 menegaskan bahwa kreativitas sejati lahir dari keseimbangan antara fungsi, ekspresi, dan nilai kemanusiaan.
Tema ini menjadi pesan penting bahwa seni dan desain tidak hanya soal estetika, tetapi juga instrumen sosial yang membangun empati dan karakter manusia.
Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Humas, dan Sistem Informasi, Dr. Supriatna, S.Sn., M.Sn., menyampaikan optimismenya bahwa kegiatan VAFEST 3.0 ISBI Bandung ke depan bisa jadi ajang nasional
Dekan FSRD ISBI Bandung, Prof. Husen Hendriyana, M.Ds., menekankan bahwa VAFEST merupakan ruang dialog kreatif yang mempertemukan dunia pendidikan, industri kreatif, dan masyarakat.
“Melalui tema ini, kita ingin menegaskan bahwa seni dan desain bukan hanya perkara estetika, tetapi juga instrumen sosial yang membangun empati dan kemanusiaan,” ujarnya.
Sejalan dengan itu, kurator pameran Retno Walfiyah menjelaskan bahwa konsep pameran bertajuk Trefoil menjadi visualisasi dari tiga elemen utama kreativitas: desain sebagai fungsi, seni sebagai jiwa, dan sikap humanistik sebagai nilai. Motif trefoil simbol tiga daun yang saling menyatu, menjadi metafora bagi kolaborasi yang utuh dan saling melengkapi.
Ia menegaskan bahwa karya seni akan kehilangan makna jika salah satu unsur tersebut diabaikan.
Pameral VAFEST 3.0 ISBI Bandung, yang menyedot pengunjung
Rangkaian kegiatan VAFEST 3.0 berlangsung meriah dan edukatif. Pameran Trefoil menampilkan karya para mahasiswa, seniman, dan peserta kompetisi yang mengeksplorasi hubungan antara seni, bisnis, dan nilai kemanusiaan.
Melalui Artist Talk, sejumlah narasumber berbagi pengalaman mereka di dunia kreatif, seperti Dion Darsa Sabrina (akademisi dan desainer), Stefanus Endry Pragusta (seniman dan akademisi), serta Luqiani Octa Pratiwi (praktisi batik dan fashion).
Diskusi ini menjadi ruang refleksi tentang tantangan etika dan profesionalisme dalam praktik seni dan desain kontemporer.
Sementara itu, workshop interaktif seperti Workshop Denim Bespoke dan Workshop Make-up Implora memberi kesempatan kepada peserta dari berbagai latar belakang untuk belajar langsung bersama seniman dan praktisi profesional.
Salah satu kegiatan workshop pada ajang VAFEST 3.0 ISBI Bandung
Selain itu, kompetisi pelajar turut menjadi daya tarik utama festival ini. Dengan tema budaya dan cerita rakyat Jawa Barat, lomba mewarnai, menggambar, dan ilustrasi digital diikuti oleh siswa SD, SMP, SMA/SMK, hingga mahasiswa.
Kegiatan ini dirancang untuk menumbuhkan keberanian berekspresi, memperkuat literasi visual, dan mengasah daya saing generasi muda.
Festival juga dimeriahkan dengan fashion show karya mahasiswa Tata Rias dan Busana ISBI Bandung, yang menampilkan eksplorasi kriya, tekstil, dan busana kontemporer. Karya-karya tersebut memadukan keindahan tradisi dan inovasi modern, menjadi bentuk nyata sinergi antara warisan budaya dan kreativitas masa kini.
Sebagai ketua pelaksana, Gandara Permana, bersama Zahid Mafaza sebagai wakil ketua, membawa semangat kolaboratif dan partisipatif yang menjadi ciri khas VAFEST.
Para peserta workshop sedang praktik
“VAFEST 3.0 bukan sekadar pameran seni, tetapi gerakan yang menghubungkan pelajar, mahasiswa, dan komunitas kreatif agar tumbuh bersama melalui seni, desain, dan sikap humanistik,” ungkap Gandara.
Festival ini juga membuka ruang bagi publik, komunitas, serta pelaku industri untuk berjejaring dan berdiskusi tentang masa depan seni dan desain yang berkelanjutan.
Lebih dari sekadar perayaan karya, VAFEST 3.0 menjadi refleksi tentang bagaimana seni dan desain berperan strategis dalam membentuk masyarakat yang lebih kreatif, empatik, dan beretika.
Melalui serangkaian kegiatan yang edukatif dan inspiratif, festival ini menegaskan pesan universal yang terkandung dalam temanya: tanpa desain, tak ada bisnis; tanpa seni, tak ada kesan; dan tanpa sikap, tak ada kemanusiaan.
Fashion show bagian dari kemeriahan VAFEST 3.0 ISBI Bandung tahun 2025
Dengan semangat tersebut, FSRD ISBI Bandung kembali menegaskan posisinya sebagai ruang tumbuhnya generasi seniman dan desainer yang kreatif, humanis, dan berdaya bagi masyarakat.
Trefoil: Simbol Kesatuan antara Desain, Seni, dan Sikap Humanistik
Pameran Trefoil pada VAFEST 3.0 menghadirkan gagasan tentang kesatuan antara desain, seni, dan sikap humanistik sebagai tiga elemen utama dalam proses kreatif. Simbol trefoil—tiga daun yang saling terhubung—menjadi metafora visual dari hubungan tak terpisahkan antara fungsi, jiwa, dan nilai kemanusiaan dalam karya seni.
Pameran ini mengajak pengunjung merenungkan bahwa kreativitas tidak hanya diukur dari keindahan bentuk atau kekuatan ide, tetapi juga dari sikap etis dan empati yang menyertainya. Dalam konteks dunia seni yang kini semakin terhubung dengan pasar dan komoditas,
Trefoil memposisikan diri sebagai ruang refleksi atas pentingnya mempertahankan integritas dan nilai kemanusiaan dalam praktik berkesenian.
Peragaan busana jadi salah satu daya tarik VAFEST 3.0
Pameran ini diikuti oleh dosen dan mahasiswa ISBI Bandung, kolaborator dari Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata, beberapa seniman undangan, serta seniman terpilih melalui open call.
Mereka menampilkan karya dalam berbagai medium, mulai dari lukisan, instalasi, objek desain, hingga video art. Beberapa karya menyinggung persoalan eksploitasi seniman oleh pasar, komersialisasi budaya, serta ketegangan antara ekspresi pribadi dan tuntutan publik.
Melalui karya-karya tersebut, Trefoil menunjukkan bahwa kreativitas sejati lahir dari kesadaran terhadap konteks sosial dan tanggung jawab etis seorang seniman.
Sebagai bagian dari VAFEST 3.0, pameran ini melanjutkan semangat kolaborasi lintas disiplin yang telah dimulai sejak perhelatan pertama pada 2023.
Peserta lomba menggambar tingkat SMP menjadi rangkaian kegiatan VAFEST 3.0
Di sini, seni tidak hanya menjadi medium ekspresi, tetapi juga sarana pembentukan sikap. Trefoil mengingatkan bahwa tanpa desain, seni kehilangan struktur; tanpa seni, desain kehilangan jiwa; dan tanpa sikap, keduanya kehilangan makna.
Pameran ini adalah ajakan untuk mencipta dengan hati, berpikir dengan etika, dan berkarya dengan kesadaran penuh atas kemanusiaan.
Menuju Panggung Seni Nasional
Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Humas, dan Sistem Informasi, Dr. Supriatna, S.Sn., M.Sn., menyampaikan optimismenya bahwa kegiatan VAFEST 3.0 ISBI Bandung ke depan dapat sejajar dengan JakArt, ArtJog, bahkan Pasar Seni ITB.
“Ini bisa terwujud dengan kolaborasi pentahelix, dengan industri, CSR, pemerintah, dan lain sebagainya. Sehingga ini akan menjadi terwujud di FSRD ISBI Bandung,” ujarnya saat membuka kegiatan VAFEST 3.0 tahun 2025.
Dengan semangat kolaborasi dan kemanusiaan, VAFEST 3.0 bukan hanya perayaan seni dan desain, tetapi juga langkah nyata ISBI Bandung dalam membangun masa depan kreatif Indonesia yang beretika, berempati, dan berdaya saing global. [SR]***












