Drs. Tedi Hermanto, M.M.Pd., Kepala SMAN 1 Cikancung Kabupaten Bandung
majalahsora.com, Kabupaten Bandung – Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di SMAN 1 Cikancung, kini di sekolah yang beralamat di Jalan Jayadikarta, Kabupaten Bandung sedang giat-giatnya membangun dan membenahi sarana prasarananya.
Berharap SMAN 1 Cikancung jadi sekolah boarding school bagi siswa-siswinya
Tercatat di sekolah tersebut telah memiliki 28 ruang kelas untuk 28 rombongan belajar, masjid, perpustakaan, ruang guru, uks, 17 wc siswa, 3 wc guru, lapang olahraga, dll. “Salah satu faktor pendukung untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah, apabila telah memiliki infrastruktur yang memadai. Begitu pun di SMAN 1 Cikancung yang sedang membenahi sarana prasaranya,” ujar Tedi Hermanto, kepala sekolahnya, Senin (23/10/2017) pagi.
Sejak kepemimpinannya, ada beberapa bangunan dan sarana SMAN 1 Katapang yang telah terealisasi, seperti dua ruang kelas baru, merenovasi dan mempaving block lahan parkir seluas 1200 m2, membuat dan mengaspal akses jalan masuk ke sekolah serta membenteng sekolah sepanjang 140 m. Setelah itu, akan membuat gapura sekolah, membenahi lahan sekolah dengan penghijauan, mempercantik muka sekolah, dsb.
“Selama ini untuk pembiayaannya, didanai oleh pihak sekolah dan komite, mudah-mudahan ke depannya bisa dibiayai pemerintah,” ujar mantan Kepala SMAN 1 Kertasari, Kabupaten Bandung.
Adapun tujuan dari pembenahan sarana prasarana di sekolah yang dipimpinnya, yaitu untuk meningkatkan prestasi siswa didiknya, selain itu agar betah di sekolah.
Guru bahasa Sunda sedang mengajar
“Secara prestasi non akademik alhamdulillah bisa bersaing. Tapi secara akademik, kami akui SMAN 1 Cikancung masih belum bisa berbicara banyak, terutama di tingkat propinsi. Maka dari itu kami berbenah di sarana prasarananya dulu, tujuannya untuk mendorong prestasi akademik. Apabila siswa nyaman dan betah belajar di sekolah, maka akan lebih mudah mengarahkannya,” jelas Tedi.
Selain kendala infrastruktur, ada beberapa masalah yang dihadapi SMAN 1 Cikancung dalam meningkatkan prestasi akademiknya. Yaitu minimnya kesadaran dan dukungan dari orangtua siswa akan pentingnya pendidikan. “Kultur masyarakat di daerah sini (Cikancung), sudah lulus SMA itu biasanya langsung kerja. Hal tersebut mempengaruhi pada mental belajarnya. Tapi untuk pembelajaran agama, orangtua di sini sangat fanatik,” tegas mantan guru di SMAN 1 Ciparay tersebut.
“Secara religi di daerah Cikancung kental akan kegiatan keagamaan. Usai belajar di sekolah, biasanya siswa di sini suka meneruskan pendidikan agama Islam di pesantren yang ada di sekitar rumah mereka,” lanjutnya.
Lahan parkir seluar 1200 meter persegi, yang sudah diasangi paving block
Melihat peluang tersebut, Tedi berkenyakinan bahwa prestasi akademik akan meningkat apabila dipadupadankan dengan kegiatan yang didukung oleh orangtuanya, seperti kegiatan pesantren. “Jumlah siswa kami kini ada 1070-an siswa. Sejak tahun 2016, peminatnya terus meningkat. Berkaitan dengan hal tersebut, kelihatannya cocok apabila SMAN 1 Cikancung jadi boarding school. Jadi siswa yang selama ini ikut pendidikan agama di pesantren, nantinya nggak usah jauh-jauh, karena sudah disediakan asrama dan gurunya. Selain itu banyak siswa di sini yang dari perbatasan Garut, Majalaya dan Sumedang jadi bisa sekalian boarding. Nya minimal yang mondoknya 30 persen dari jumlah siswa,” kata Tedi.
Nantinya apabila akan dibangun asrama, lahannya sudah ada dan masih di dalam lingkungan SMAN 1 Cikancung. Tapi untuk pembiayaan, pihak sekolah meminta bantuan ke pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. “Kami telah menghitung anggaran yang diperlukan untuk biaya pemebangunan asrama, fasilitas dan gurunya, kurang lebih membutuhkan dana Rp. 3 miliar. Mudah-mudahan bisa terealisasi,” harapnya. [SR]***










