majalahsora.com, Kota Cimahi – Film Dalam Sujudku karya tim Project69 garapan sutradara Rico Michael sukses mencuri perhatian publik. Kampus Universitas Jenderal Achmad Yani (UNJANI) Cimahi dipilih sebagai salah satu lokasi utama syuting, bahkan melibatkan langsung rektor, dosen, dan karyawan kampus dalam sejumlah adegan.
Langkah ini menjadikan UNJANI tak sekadar latar cerita, tetapi bagian penting dari narasi film yang diangkat dari kisah nyata, dan sarat pesan moral tentang kesetiaan, kesabaran, dan makna keluarga.
Momen istimewa ini tersaji pada Selasa, 20 Januari 2026, saat nonton bareng (nobar) special screening atau penayangan khusus film Dalam Sujudku di Gedung Auditorium UNJANI, Jalan Terusan Jenderal Sudirman, Kota Cimahi, sebelum rilis di bioskop.
Acara nobar ini dihadiri langsung para pemeran utama seperti Marcell Darwin, Vinessa Inez, Chika Waode, dan Dennis Adishwara, serta jajaran civitas academica UNJANI.
Film Dalam Sujudku sendiri merupakan karya tim Project69 yang disutradarai oleh Rico Michael. Menariknya, pihak produksi tidak hanya memanfaatkan lokasi kampus UNJANI sebagai tempat syuting, tetapi juga mengajak rektor UNJANI beserta beberapa rekannya untuk ikut berperan di beberapa scene film.
Rektor UNJANI, Prof. Dr. Agus Subagyo, S.IP., M.Si., mengaku sangat antusias terlibat langsung dalam film tersebut. Ia menyampaikan bahwa pengalaman bermain film ini menjadi yang pertama baginya bersama Dr. Dhanny.
Sesi diskusi dan tanya jawab usai penayangan khusus film Dalam Sujudku bersama para pemeran
“Ini adalah pertama kalinya saya dan Dr Dhanny main film, memainkan peran yang lumayan banyak juga scenennya. Cukup excited karena tiba-tiba ditodong,” ungkap Prof. Agus dalam wawancaranya.
Prof. Agus juga menyampaikan keterbukaannya jika ke depan ada proyek film lain yang melibatkan UNJANI. Namun, ia menegaskan bahwa tujuan utamanya adalah memperkenalkan kampus kepada masyarakat luas.
“Kalau misalkan ada projek lagi untuk film saya oke, tapi untuk UNJANI tentunya. Tapi kalau di luar tujuan UNJANI saya tidak dulu. Karena pada intinya kami ingin agar UNJANI bisa lebih dikenal oleh masyarakat,” ujarnya.
Menurut Prof. Agus, film ini terasa istimewa karena proses syuting dilakukan di beberapa titik strategis kampus, seperti Gedung Rektorat dan Gedung FISIP UNJANI. Selain itu, keterlibatan warga kampus juga cukup luas.
“Warga kami yang terlibatnya juga ada dosen dan karyawan UNJANI,” katanya.
Lebih jauh, Prof. Agus menyoroti pesan utama yang terkandung dalam film Dalam Sujudku. Ia menilai film ini menekankan pentingnya kesetiaan dan kesabaran seorang istri sebagai kunci kesuksesan seorang suami.
Antusias mahasiwa UNJANI dalam acara nonton bareng (nobar) special screening atau penanyangan khusus film Dalam Sujudku
Kesabaran tersebut menjadi pengingat sekaligus penyemangat dalam perjalanan meraih keberhasilan, sehingga tercipta keseimbangan antara kerja keras suami dan peran istri dalam menjaga keharmonisan keluarga.
Keseimbangan itu, lanjut Prof. Agus, menjadi fondasi terciptanya keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah.
Di samping itu, film ini juga menyiratkan pesan bahwa penyesalan kerap datang di akhir, bukan di awal. Karena itu, ia berpesan agar masyarakat tidak mengalami hal serupa dengan tokoh utama dalam film. Ia menekankan pentingnya kesetiaan para lelaki dalam lingkungan kerja.
“Kerja keras suami pada akhirnya untuk istri dan anak-anaknya juga. Dan kesuksesan suami dapat dirasa lebih tenang dari proses yang baik,” tuturnya.
Prof. Agus juga mengapresiasi karakter Aisyah dalam film yang dinilainya sangat langka.
“Sosok karakter Aisyah di film ini adalah yang sangat jarang sekali ada di muka bumi ini. Ia bisa menerima suami apa adanya dan menghadapi segala masalah dengan kepala dingin. Sehingga bagi para wanita khususnya istri, tirulah sosok Aisyah sebagai istri,” ujarnya.
Sarat pesan moral, film Dalam Sujudku bisa dijadikan tontonan wajib dan tuntunan dalam kehidupan sehari-hari
Menurutnya, film ini ditujukan untuk laki-laki dan perempuan. Laki-laki diingatkan untuk setia kepada istrinya di manapun bekerja, sementara perempuan diajak meneladani kesetiaan dan keteguhan hati seorang istri.
Dari sisi teknis, Prof. Agus mengaku sempat terkejut karena langsung diberi naskah tanpa gladi atau simulasi. Meski demikian, ia berharap ke depan para sutradara tidak ragu berkoordinasi dengan UNJANI terkait penggunaan lokasi syuting.
Ia menilai UNJANI memiliki gedung-gedung baru yang futuristik, ikonik, dan “instagramable”, sehingga cocok untuk kebutuhan fotografi maupun videografi.
Lebih lanjut, Marcell Darwin yang memerankan tokoh utama Farid menyampaikan bahwa pemutaran di UNJANI merupakan agenda screening ketiga setelah Jakarta dan Yogyakarta. Ia mengaku puas melihat respons penonton.
“Itu rasanya seperti jerih payah kita selama syuting itu terbayarkan,” ujar Marcell.
Ia juga menyebutkan rencana peluncuran film yang kemungkinan dilakukan usai Lebaran 2026.
Film Dalam Sujudku yang dibintangi oleh Dennis Adishwara, Marcell Darwin, Vinessa Inez dan Chika Waode, akan tayang di bioskop pasca Lebaran tabun 2026
Marcell menjelaskan bahwa para pemeran dipilih melalui proses casting dan menjalani syuting sekitar 16 hari, dengan lokasi di UNJANI, Jakarta, dan Garut. Ia menilai karakter Farid sebagai sosok yang sangat beruntung karena masih diberi kesempatan kedua setelah melakukan kesalahan besar.
Sementara itu, Vinessa Inez yang memerankan Aisyah mengaku harus bekerja keras mendalami karakter yang sangat berbeda dengan dirinya.
Ia belajar tentang kesabaran dan keikhlasan yang diyakininya akan berbuah manis. Pendalaman karakter sudah ia lakukan sejak masa reading hingga selama syuting berlangsung.
Dennis Adishwara yang berperan sebagai ustadz juga menghadapi tantangan tersendiri.
Ia menyebut peran ini sebagai pengalaman pertama yang penuh tanggung jawab moral. Demi mendalami karakter, Dennis bahkan mengurung diri sehari sebelum pengambilan adegan tausiyah dan mempelajari berbagai karakter ustadz yang ada di Indonesia.
Dengan cerita yang menyentuh, pesan moral yang kuat, serta latar lokasi ikonik di UNJANI, film Dalam Sujudku diharapkan tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan bagi masyarakat luas. [SR]***









