Kota Bogor, sebagai salah satu pusat kebudayaan di Jawa Barat, tengah menyaksikan kebangkitan kembali salah satu warisan budaya terpentingnya seni tari tradisional Sunda. Dalam beberapa tahun terakhir, dunia seni tradisional Indonesia, khususnya tari tradisional, menghadapi tantangan besar, terutama dalam hal pelestarian dan regenerasi. Salah satu contoh paling mencolok adalah Sanggar Seni Getar Pakuan, yang telah berperan sebagai pusat pengembangan seni tari sejak 1992.
Namun, pandemi COVID-19 yang melanda dunia mengancam keberlanjutan keberadaan sanggar ini. Meskipun sempat mengalami penurunan drastis dalam jumlah murid, tantangan ini tak menghentikan semangat mereka untuk bertahan dan berinovasi.
Pada Sabtu malam, 20 Desember 2025, warga Kota Bogor berkumpul di Alun-alun Kota Bogor untuk menyaksikan perhelatan seni yang luar biasa, yakni Drama Tari Wayang “Srikandi Bhuana”.
Acara ini tidak hanya menjadi puncak dari Evaluasi ke-55 Sanggar Seni Getar Pakuan, tetapi juga sebuah simbol kebangkitan seni tradisional Sunda, berkat kolaborasi gemilang antara Getar Pakuan dan Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) yang dilaksanakan oleh ISBI Bandung berkat dukungan Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Ditjen Risbang Kemendiktisaintek.
Pementasan Drama Tari Wayang “Srikandi Bhuana”, acara puncak Evaluasi ke-55 Sanggar Seni Getar Pakuan (Foto: Ika Sartika)
Drama Tari Wayang “Srikandi Bhuana” mengangkat kisah heroik dari salah satu tokoh paling ikonik dalam pewayangan Jawa, yaitu Srikandi, yang dikenal sebagai simbol keberanian, kegigihan, dan perjuangan dalam mempertahankan kebenaran.
Dalam karya ini, Srikandi digambarkan dengan penuh kepahlawanan dalam pertempuran besar Bharata Yudha, yang menjadi latar belakang dari kisah Mahabharata. Pertunjukan ini menggambarkan salah satu momen penting dalam perang besar tersebut, yakni peristiwa kematian Resi Bisma, yang merupakan hasil dari konflik besar antara keluarga Kurawa dan Pandawa.
Srikandi, dalam kisah ini, adalah sosok yang tegas dan penuh semangat juang, meskipun ia merupakan seorang wanita dalam dunia yang didominasi oleh laki-laki. Dalam pertempuran yang dramatis tersebut, Srikandi berhasil mengalahkan Bisma, seorang ksatria besar yang tak terkalahkan, dan menunjukkan kekuatan luar biasa yang dimiliki oleh perempuan dalam konteks tradisi Jawa.
Kematian Bisma, yang menjadi titik puncak dalam pertarungan ini, tidak hanya menggambarkan keberanian Srikandi, tetapi juga mengandung makna yang lebih dalam tentang konsekuensi dari perbuatan masa lalu.
Zenzen Djuansyah Ketua Sanggar Seni Getar Pakuan saat memberikan sambutan (Foto: Ika Sartika)
Dalam konteks ini, kematian Bisma bukan sekadar kemenangan dalam peperangan, melainkan sebuah simbol dari pemenuhan “supata” (janji suci) yang telah diucapkan oleh Dewi Amba.
Dewi Amba yang sebelumnya dibunuh oleh Bisma dalam sebuah sayembara perebutan istri, mengutuk Bisma agar kelak mati di tangan seorang wanita.
“Supata” ini menjadi kunci dalam peristiwa dramatis ini, karena ia menandai pembalasan dendam yang melibatkan takdir dan karma. Kematian Bisma, sebagai hasil dari perjuangan Srikandi, adalah realisasi dari kutukan yang dilontarkan oleh Dewi Amba, yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini dalam alur cerita yang penuh dengan nilai-nilai moral. Naskah dari drama tari ini ditulis oleh Bambang Arayana.
Menghidupkan Kembali Tari Wayang melalui “Srikandi Bhuana”
Tari Wayang, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari kekayaan budaya Sunda, sempat terpinggirkan oleh seni-sei populer. Namun, “Srikandi Bhuana”, sebuah karya kolaboratif yang menggabungkan seni tari tradisional dan elemen-elemen modern, kini hadir untuk menyegarkan kembali kesadaran akan pentingnya tari tradisional khususnya tari Wayang.
Salah satu adegan dalam Drama Tari Wayang “Sikandi Bhuana” ketika Bisma berperang dengan Srikandi dan mati ditangan Srikandi atas janji Dewi Amba saat akan mengebuskan nafas terakhirnta (Foto: Ika Sartika)
Drama tari wayang ini terinspirasi oleh tokoh Srikandi dalam pewayangan, yang dikenal sebagai simbol keberanian, kebijaksanaan, dan perjuangan dalam mempertahankan nilai-nilai kehidupan.
Dalam pementasan ini, Srikandi tidak hanya digambarkan sebagai ksatria wanita yang penuh keberanian, tetapi juga menunjukkan sisi kelembutannya. Penggunaan teknologi canggih, kostum futuristik, dan tata cahaya yang spektakuler menjadikan pertunjukan ini lebih dari sekadar sebuah seni tradisional, tetapi sebuah karya seni yang relevan dengan era modern.
Pementasan yang Menggugah Semangat Masyarakat
Pementasan “Srikandi Bhuana” di Alun-Alun Bogor bukan hanya menjadi hiburan, tetapi juga ajang untuk menggugah semangat kebangkitan seni tradisional. Acara ini berhasil menarik perhatian ribuan penonton, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, yang terkesima dengan kualitas artistik dan profesionalisme pertunjukan.
Ketua Sanggar Seni Getar Pakuan, Zenzen Djuansyah, mengungkapkan kebanggaannya atas suksesnya acara ini.
Prof. Dr. Hj. Een Herdiani, M.Hum (Foto: Ika Sartika)
“Kami telah kembali setelah masa vakum panjang akibat pandemi, dan malam ini, kita dapat menyaksikan transformasi seni yang tak hanya mengedepankan teknik, tetapi juga nilai-nilai luhur yang terkandung dalam seni tari ini,” ujar Zenzen Djuansyah dengan penuh rasa syukur.
Zenzen Djuansyah juga menyampaikan ucapan terima kasih pada program Program Inovasi Seni Nusantara (PISN), merupakan inisiatif yang digagas oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Ditjen Risbang Kemendiktisaintek. Memiliki tujuan utama PISN adalah untuk menjembatani dunia akademik dengan komunitas seni dan masyarakat luas.
Program ini mengutamakan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam mengembangkan seni yang tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pada implementasi nyata di lapangan.
Melalui PISN, para pelaku seni dan akademisi bekerja sama untuk memperkenalkan dan mengembangkan inovasi seni yang dapat diterima oleh masyarakat modern tanpa kehilangan nilai-nilai tradisional.
Tata lampu yang memukau penonton dalam pementasan Drama Tari Wayang “Srikandi Bhuana” (Foto: Ika Sartika)
PISN bertujuan untuk memperkuat ekosistem seni budaya lokal, memperluas jaringan kolaborasi antar perguruan tinggi, dan mengenalkan seni sebagai solusi atas berbagai permasalahan sosial.
Salah satu misi utama PISN adalah untuk menjadikan seni sebagai pilar utama dalam membentuk identitas bangsa yang lebih kuat dan meningkatkan daya saing melalui karya-karya seni yang aplikatif.
Apresiasi untuk Pemerintah Kota Bogor
Di samping itu sambutan serta apresiasi yang tinggi dan penuh penghargaan pun ditujukan kepada Sanggar Seni Getar Pakuan dan Pemerintah Kota Bogor, yang telah memberikan dukungan luar biasa terhadap kelancaran dan kesuksesan Program Inovasi Seni Nusantara.
Sambutan ini disampaikan oleh Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISBI Bandung, Dr. Ismet Ruhimat, yang mewakili Rektor ISBI Bandung. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara dunia akademik, seni, dan pemerintah dalam mewujudkan program-program seni yang bermanfaat bagi masyarakat.
Dr. Ismet Ruhimat, M.Hum. memberikan sambutan, mewakili Rektor ISBI Bandung (Foto: Ika Sartika)
Program ini, menciptakan wadah bagi perkembangan seni tradisional sekaligus memperkenalkan inovasi dalam bentuk yang lebih relevan dengan perkembangan zaman.
Ia juga mengungkapkan harapannya agar sinergi antara Sanggar Seni Getar Pakuan dan Pemerintah Kota Bogor dapat terus berlanjut, sehingga dapat semakin memperkaya khazanah seni Nusantara dan memberi dampak positif bagi generasi penerus.
Terima kasih atas kerjasama yang telah terjalin, dan semoga kolaborasi ini terus membawa manfaat yang luas bagi masyarakat, khususnya di bidang seni dan budaya.
Mendapatkan Dukungan Penuh dari Pemerintah dan Masyarakat
Selain dukungan akademik, pementasan ini juga mendapatkan apresiasi tinggi dari pemerintah daerah Kota Bogor. Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor Adhitya Bhuana Karana, menyatakan bahwa kegiatan ini sangat penting dalam menjaga jati diri budaya Sunda di tengah kemajuan zaman.
Adegan Arjuna dan Srikandi serta Resi Bisma sedang berperang (Foto: Ika Sartika)
“Seni tradisional memiliki peran vital dalam membentuk karakter bangsa. Kami mendukung penuh kegiatan seperti ini yang memanfaatkan ruang publik untuk tujuan edukasi dan pelestarian budaya,” ujarnya.
Hal yang menarik juga disampaikan oleh Anggota DPRD Komisi III Abdul Rosyid yang hadir mewakili Ketua DPRD Kota Bogor. Menyampaikan atas dukungannya terhadap kegiatan ini dan siap mendukung untuk menyelenggarakan kegiatan serupa yang dilaksanakan oleh Getar Pakuan dan seniman-seniman yang lainnya menjadi ajang tahunan.
Ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah Kota Bogor dalam mengangkat dan menghidupkan kembali seni tradisional khususnya tari Sunda.
Pementasan ini juga menjadi momen penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian seni tradisional. Asep, seorang warga Bogor, mengungkapkan kekagumannya setelah menyaksikan pertunjukan ini.
Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bogor, Adhitya Bhuana Karana S.STP., M.Si (Foto Ika Sartika)
“Saya baru pertama kali melihat tari tradisional dalam setting sebesar ini, dengan cahaya dan tata suara yang modern. Ini benar-benar membuka mata saya tentang bagaimana seni tradisional bisa begitu relevan dan menarik,” katanya.
Kolaborasi yang Memberikan Dampak Positif
Program PISN 2025 yang mendukung Sanggar Seni Getar Pakuan adalah contoh nyata bagaimana kolaborasi antara lembaga pendidikan, pemerintah, dan masyarakat dapat menghasilkan dampak positif yang besar.
Dukungan yang diberikan oleh ISBI Bandung, DPPM Ditjen Risbang Kemendiktisaintek, dan pemerintah Kota Bogor menunjukkan bahwa seni tradisional Sunda memiliki tempat yang penting dalam pembangunan budaya nasional.
Melalui pelatihan intensif yang diberikan kepada para penari muda di Getar Pakuan, program ini juga berusaha mencetak generasi penerus yang tidak hanya terampil dalam seni tari, tetapi juga memahami dan mengapresiasi filosofi yang terkandung di dalamnya.
Pelatihan ini bertujuan untuk menghidupkan kembali tari Wayang yang telah terpinggirkan dan memperkenalkannya kepada generasi muda dalam konteks yang lebih kekinian dan relevan.
Abdul Rosyid, S.Komp., anggota DPRD Kota Bogor memberikan sambutan mewakili Ketua DPRD Kota Bogor (Foto: Ika Sartika)
Dengan adanya pementasan drama tari “Srikandi Bhuana”, harapan besar muncul bahwa seni tari tradisional Sunda, khususnya tari Wayang, dapat terus berkembang dan dikenal lebih luas. Ini adalah langkah positif dalam upaya menjaga dan menghidupkan identitas budaya Indonesia, yang harus terus dilestarikan dan diperkenalkan kepada dunia.
Pementasan drama tari “Srikandi Bhuana” di Alun-alun Bogor bukan sekadar sebuah pertunjukan seni, tetapi merupakan sebuah simbol kebangkitan seni tradisional yang berhasil menggabungkan nilai-nilai luhur budaya dengan kemajuan teknologi.
Kolaborasi pentahelix dari program PISN DPPM, Ditjen Risbang Kemendiktisaintek, ISBI Bandung, Sanggar Seni Getar Pakuan, awak media, para pengusaha, pemerintah, serta masyarakat Kota Bogor membuktikan bahwa seni tradisional tidak hanya relevan dengan masa kini, tetapi juga memiliki potensi besar untuk terus berkembang dan menyentuh hati masyarakat.
Dengan semangat yang terus berkobar, kita dapat memastikan bahwa seni tradisional Sunda tetap hidup dan berkembang di tengah arus zaman yang terus berubah.***














