majalahsora.com, Kota Bandung – SMP PGRI 10 Bandung kembali menyelenggarakan kegiatan pelatihan manasik haji pada Kamis 12 Februari 2026 di sekolah, Jalan Sukup Lama No 15, Kelurahan Cigending, Kecamatan Ujung Berung, Kota Bandung.
Kegiatan yang telah memasuki tahun ke-5 ini diikuti 253 siswa kelas IX dari total 260 siswa, serta didukung 50 guru. Program ini menjadi bagian dari pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) sekaligus pembekalan penting sebelum para siswa lulus.
Selama tiga hari rangkaian kegiatan, para siswa tidak hanya menerima materi teori, tetapi juga menjalani gladi dan praktik langsung seluruh rukun haji, mulai dari niat, tawaf, sai, wukuf di Arafah, hingga lempar jumroh. Antusiasme tinggi terlihat dari para siswa yang mengikuti setiap tahapan dengan khidmat dan penuh semangat.
Penyelenggaraan manasik Haji di SMP PGRI 10 Kota Bandung kata Kepala SMP PGRI 10 Bandung, Ati Yuliawati, S.Pd., M.Pd., salah satu program unggulan yang diadakan setiap tahun
Kepala SMP PGRI 10 Bandung, Ati Yuliawati, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan tahunan ini merupakan salah satu dukungan sekolah dalam mempersiapkan siswa menuju fase dewasa. Ia mengatakan, kegiatan ini khusus untuk kelas IX dan sudah dilaksanakan untuk ke 5 kalinya.
“Ini khusus untuk kelas IX dan sudah dilaksanakan untuk ke 5 kalinya. Support kami untuk mempersiapkan masa dewasa mereka salah satunya adalah dengan memperkenalkan tentang bagaimana tata cara ibadah naik haji,” kata Ati.
Lebih jauh ia menerangkan, tujuan dari kegiatan manasik haji adalah dalam rangka pemenuhan materi mata pelajaran PAI (Pendidikan Agama Islam) tentang naik haji, serta sebagai pemenuhan materi dari ko-kurikuler (yang sebelumnya terdapat dalam P5). Kegiatan ini juga menjadi bekal bagi para siswa sebelum lulus dari SMP PGRI 10 Bandung dan memang tidak diperuntukkan bagi siswa kelas VII dan VIII.
Sebanyak 253 siswa kelas IX serta 50 guru turut serta dalam kegiatan manasik Haji di SMP PGRI 10 Kota Bandung
Dalam pelaksanaannya, rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan dan doa, kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan rukun haji yang terdiri dari tawaf, shafa marwah, lempar jumroh dan lainnya secara keseluruhan. Ati menegaskan bahwa secara teknis tidak ada perubahan setiap tahunnya.
“Acaranya kami ada pembukaan, berdoa dan melaksanakan rukun haji. Yang terdiri dari tawaf, shafa marwah, lempar jumroh dan lainnya untuk secara keseluruhan. Tidak ada yang berbeda setiap tahunnya karena ini kan pelajaran, sudah baku. Yang berbeda hanya siswanya saja pasti,” ungkapnya.
Ia berharap melalui kegiatan ini para siswa dapat memahami bahwa naik haji merupakan ibadah wajib bagi yang mampu atau mapan, sekaligus menyadari bahwa ibadah haji itu menyenangkan dan penuh makna. Bahkan ia berharap suatu saat SMP PGRI 10 Bandung dapat melaksanakan ibadah haji yang sesungguhnya.
Para peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok menggunakan nama-nama negara
Sementara itu, Neni Herlina, S.E., Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan sekaligus Ketua Pelaksana, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut diikuti khusus oleh siswa kelas IX sebanyak 253 orang, karena tujuh siswa lainnya merupakan non-muslim. Selain itu, kegiatan juga melibatkan 50 guru.
“Manasik haji ini merupakan program Kesiswaan dan guru-guru mata pelajaran PAI,” ujar Neni.
Ia menambahkan bahwa respon para siswa sangat positif dan penuh antusias. Para siswa, kata Neni, terlihat senang dan semakin memahami urutan-urutan ibadah haji.
Neni Herlina, S.E., Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan SMP PGRI 10 Bandung
“Respon para siswa pun cukup tinggi antusiasnya, sangat positif. Mereka sangat senang dan jadi paham akan urutan-urutan ibadah haji. Mereka juga jadi berdoa semoga kami bisa berangkat haji bersama katanya,” tuturnya.
Dari sisi pemateri, kegiatan ini disampaikan oleh tiga guru agama internal, meski yang hadir dua orang karena satu guru sedang sakit. Kepanitiaan berasal dari PKS, wali kelas kelas IX dan 10 orang siswa OSIS.
Persiapan kegiatan dimulai sejak Selasa 10 Februari 2026. Hari pertama diisi dengan penyampaian materi teori secara menyeluruh di aula sekolah, hasil koordinasi guru PAI dan wali kelas. Materi meliputi bacaan niat ibadah haji, tata cara rukun haji, bacaan saat melempar jumroh (melempar tujuh batu), bacaan saat sai atau mengelilingi towaf, dan lainnya.
Para siswa dan Guru SMP PGRI 10 Kota Bandung sedang melakukan simulasi towaf (mengelilingi Kabah)
Hari berikutnya dilaksanakan gladi praktik di lapangan sekolah. Pada hari puncak, seluruh siswa menjalankan manasik sesuai teori yang telah dipelajari.
“Di hari ini anak-anak mengikuti praktek dimulai dari niat haji, membaca doa naik kendaraan, keliling towaf, sai dan sebagainya sampai melempar jumroh hingga finishnya ke hotel masing-masing rombongan. Jadi kelas ini kita anggap sebagai hotel mereka dan nama-namanya juga tidak per kelas, tapi masing-masing negara,” jelas Neni.
Para siswa dibagi ke dalam delapan kelompok sesuai jumlah kelas dan satu kelompok dari guru. Misalnya kelas 9A dari negara Malaysia, kelas 9B dari negara Turki dan seterusnya, sedangkan kelompok guru berasal dari negara Pakistan. Untuk memberikan gambaran realistis suasana haji yang panas, siswa diperbolehkan menggunakan kacamata hitam yang dibawa dari rumah.
Suasana simulasi rukun haji berupa jalan kaki atau berlari kecil sebanyak tujuh kali antara Bukit Shafa dan Marwah
Menurut Neni, secara teknis materi tidak ada perbedaan dari tahun sebelumnya. Namun tahun ini terdapat tambahan kegiatan makan bersama sekaligus munggahan.
“Tidak ada perbedaan untuk teknis materinya. Namun yang berbeda adalah di tahun kemarin tidak ada acara makan bersama dengan para siswa. Sedangkan sekarang ini sekaligus munggahan. Sehingga para siswa ada makan bersama. Jadi bukan sengaja menyambut bulan puasa, namun kebetulan di tahun ini momennya berdekatan dengan puasa,” tambahnya.
Rangkaian manasik dimulai dari berangkat dari hotel masing-masing dengan membaca niat haji dan doa menaiki kendaraan. Para siswa kemudian mengitari jalan di luar area sekolah menuju Arafah sambil mengucap “labaik allohuma labaik” hingga tuntas. Wukuf dilakukan di area dekat taman bermain mini dekat sekolah, dengan membaca surat Al Fatihah, An Nas, Al Ikhlas dan Al Falaq.
Simulasi lempar jumrah adalah salah satu wajib haji berupa ritual melempar batu kerikil ke tiga tugu (Ula, Wustha, dan Aqabah) di Mina, pada manasik Haji SMP PGRI 10 Bandung
Setelah wukuf di Arafah, para jemaah melempar jumroh ke tiga buah drum yang telah disediakan sebanyak tiga kali atau sebanyak tujuh buah batu, karena setiap siswa telah dibekali 21 batu. Usai melempar jumroh, mereka diarahkan untuk melihat dan mengelilingi ka’bah sebanyak tiga kali sambil mengucap rukun yamami “bismillah Allahuakbar”, lalu berdoa di makam Ibrahim.
Perjalanan dilanjutkan menuju air Zamzam, kemudian ke tempat sai. Dari sai, para siswa berlari kecil melewati pilar hijau hingga mendekati bukit Marwah. Setelah itu melakukan potong rambut di tahalul yang terletak di belakang spanduk kegiatan.
Sebagai penutup, para siswa menuju dam untuk membayar sejumlah uang sebesar dua ribu rupiah sebagai denda apabila melanggar rukun haji. Neni menegaskan bahwa denda tersebut benar-benar diterapkan sebagai bentuk edukasi kedisiplinan.
Meminum air Zamzam saat ibadah haji pada manasik Haji SMP PGRI 10 Bandung
“Dendanya itu sungguhan. Para siswa disuruh membawa uang 2 ribu rupiah untuk denda yang nantinya masuk ke kencleng. Uang kenclengnya nanti dijadikan dasos apabila ada yang sakit atau lainnya. Apalagi sekarang mendekati Ramadhan akan ada baksos untuk mereka yang tidak mampu. Namun kita kasih untuk yang siswa di sekolah dulu,” ungkap Neni.
Ia menjelaskan bahwa uang dam tersebut berasal dari siswa dan akan kembali lagi ke siswa, khususnya bagi mereka yang kurang mampu secara ekonomi. Rencananya dana sosial akan dibagikan berdasarkan 23 rombongan belajar yang ada di sekolah. Sebanyak 23 siswa dari masing-masing kelas akan mendapatkan bantuan dari uang dam yang telah dikumpulkan, dengan pembagian dilakukan pada hari terakhir pesantren Ramadhan.
Melalui manasik haji ke-5 ini, SMP PGRI 10 Bandung tidak hanya menuntaskan kewajiban kurikulum, tetapi juga menanamkan nilai spiritual, kebersamaan, dan kepedulian sosial kepada para siswa menjelang kelulusan mereka. [SR]***













