majalahsora.com, Kabupaten Purwakarta – H. Kasidi, S.Pd.Fis., M.Pd., baru-baru ini dilantik, dirorasi menjadi Kepala SMAN 1 Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, setelah dua tahun lebih menjabat sebagai Kepala SMAN 2 Purwakarta.
Dirinya menggantikan Tanty Erlianingsih, M.Pd., yang sudah tahun menjabat dan berpindah tugas sebagai Kepala SMAN 1 Kota Bandung.
Meski baru sekitar tiga minggu bertugas, kepada majalahsora.com, Forum Wartawan Pendidikan Jabar, kata Kasidi dirinya sudah memotret kondisi sekolah dan menyiapkan berbagai program unggulan.
Antara lain penguatan kedisiplinan siswa, pembinaan karakter Gapura Pancawalu, penerapan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, hingga peningkatan prestasi akademik dan non-akademik.
“Walaupun sebentar sudah banyak yang saya tahu,” ujar Kasidi, di ruang kerjanya, Jalan Pramuka No 138, Desa Bunder, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta Jumat (21/11/2025).
Kepala SMAN 1 Jatiluhur yang baru bersama Wakasek Humas Leni Herdiani, S.Pd., (kiri), Wakasek Sapras Nur Robiyanto, S.Pd., (kedua dari kiri), Wakasek Kesiswaan Hj. Ely Rusliah, S.Pd., (kedua dari kanan), dan Wakasek Kurikulum Enok Badriah, M.Pd., (kanan)
Menurutnya, tantangan utama adalah kedisiplinan siswa yang sebelumnya banyak telambat masuk ke sekolah.
Kasidi berupaya memberi contoh kedisiplinan dengan hadir sebelum pukul 06.10. Hal itu sudah menjadi kebiasaannya dalam meminpin sekolah hadir lebih awal sebelum kegiatan belajar mengajar berjalan.
“Alhamdulillah sekarang siswa yang terlambat datang ke sekolah, jauh menurun hanya sedikit. Saya turun langsung ke lapangan menangani masalah siswa kesiangan dan mencari solusinya,” kata Kasidi.
Ia pun langsung bekerjasama dan melakukan komunikasi dengan orangtua agar pendidikan karakter Pancawalu dan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat diterapkan baik di sekolah maupun di rumah.
Kasidi juga mencatat bahwa secara akademik SMAN 1 Jatiluhur masih harus ditingkatkan belum optimal. Pasalnya rata-rata siswa yang diterima dalam penerimaan mahasiswa baru tahun akademik 2025/2026, di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) mulai jalur prestasi rapot (SMBP), tes tertulis (SNBT), hingga jalur mandiri, hanya sekitar 25 orang lulusan.
Masjid Salman Al Farisi, SMAN 1 Jatiluhur, salah satu tempat penting untuk pendidikan karakter
“Itu yang perlu saya tingkatkan, saya menargetkan peningkatan minat belajar melalui motivasi kepada guru dan siswa serta penambahan jam pembelajaran,” kata Kasidi.
Selain itu, dirinya menyoroti pentingnya prestasi non-akademik yang dianggap sebagai jembatan menuju sukses lebih cepat dibanding jalur akademik.
Kasidi mencontohkan program organisasi di SMAN 2 Purwakarta yang berhasil mengantarkan alumninya menjadi anggota DPRD di Provinsi Jawa Barat
“Organisasi itu luar biasa, karena lebih cepat terkenal dan apabila hasilnya positif segera menjadi pejabat,” katanya.
Kasidi juga menilai para guru di SMAN 1 Jatiluhur sejauh ini sudah bekerja baik.
Kepala SMAN 1 Jatiluhur H. Kasidi, S.Pd.Fis., M.Pd., bersama Ketua Forum Wartawan Pendidikan Jabar, Ahmad Mualif, pentahelix dalam memajukan dunia pendidikan
Dengan jam masuk 06.30, ia berharap kesiapan mengajar semakin optimal. Ia pun menyiapkan pengembangan sarana-prasarana, terutama ruang kelas.
Saat ini sekolah memiliki 30 ruang kelas tanpa didak sehingga tidak bisa dibangun lagi kecuali mendapat rehab atau membeli lahan.
Menurutnya, ada tanah seluas 1.000 meter yang berada di belakang sekolah dan ingin diajukan untuk dibeli oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
“Agar kami bisa mengembangkan sekolah lebih optimal di 36 rombel, karena saat ini hanya ada 31 rombel,” ujarnya.
Jumlah siswa tercatat ada sekitar 1.174 dengan sekitar 60 guru dan tenaga kependidikan.
Keadaan kelas yang bangkunya akan diganti dengan model meja kursi terpisah, agar siswa lebih nyaman saat belajar
Dalam rekam jejaknya, Kasidi pernah menjadi kepala sekolah perintis di SMAN 9 Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. Saat ia datang dengan dua rombel berjumlah 62 siswa dan dalam 3,5 tahun memiliki gedung, lahan 11.600 meter, dan 28 rombel dengan siswa lebih dari 1.000.
Ia juga pernah menjadi Plt Kepala SMAN 1 Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, selama enam bulan dan menyelesaikan pengecatan sekolah, menghubungkan dengan pemerintah provinsi dan kementerian, hingga memperoleh bantuan percepatan berupa rehab kelas, toilet, 3 RKB, serta perbaikan ruang kepala sekolah, wakasek, TU, dan lobi.
Program peningkatan jumlah siswa yang masuk perguruan tinggi negeri juga menjadi fokusnya.
Di SMAN 2 Purwakarta, jumlah siswa yang diterima meningkat dari sekitar 60 menjadi hampir 100 orang di perguruan tinggi seperti ITB, IPB, UGM, UI, UNPAD, UPI, dan lainnya.
“Insya Allah di sini bisa,” ungkapnya.
Suasana lapang SMAN 1 Jatiluhur Kabupaten Purwakarta
Ia optimistis karena di SMAN 1 Jatiluhur terdapat dua guru kandidat doktor yang diyakini dapat membantu peningkatan kompetensi guru dan siswa.
Kasidi berharap sukses serupa dapat terulang di SMAN 1 Jatiluhur.
Sementara itu Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan Hj. Ely Rusliah, S.Pd., mengungkapkan bahwa pergantian kepemimpinan ini membawa angin segar bagi sekolah, terutama dalam meningkatkan motivasi siswa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
“Saya bahagia sekali, ya. Ketika ada pergantian Kepala Sekolah, yang kebetulan Kepala Sekolahnya itu adalah Pak Karsidi. Yang saya lihat itu Pak Karsidi adalah sosok seorang pemimpin yang sangat bijaksana,” ujarnya.
Menurut Ely, karakter Kasidi yang santai namun serius membuat guru tidak tegang, tetapi justru lebih sadar akan kewajiban dalam meningkatkan mutu pendidikan.
Program Makan Begizi Gratis Presiden Prabowo, sudah berlangsung di SMAN 1 Jatiluhur
“Harapannya tentu ingin menjadi lebih baik lagi,” katanya.
Selama ini, mayoritas lulusan SMA Jatuluh lebih berorientasi untuk langsung bekerja setelah lulus.
“Kebanyakan anak itu orientasinya bukan melanjutkan sekolah. Melainkan, mereka itu lepas dari SMA Jatuluh itu harapannya adalah bekerja,” jelasnya.
Untuk mengubah kondisi tersebut, pihak sekolah kini mendorong peningkatan persentasi lulusan yang masuk perguruan tinggi negeri maupun swasta melalui berbagai upaya.
“Upaya-upayanya sekarang kita banyak melakukan try out (TO) bekerjasama dengan lembaga pembimbingan belajar. Alhamdulillah berjalan,” tutur Ely.
Perluasan lahan SMAN 1 Jatiluhur, kata Kasidi menjadi salah satu prioritas di era kepemimpinannya, termasuk pembangunan benteng sekolah, agar lebih aman
Ia menegaskan bahwa PR utama sekolah adalah menumbuhkan kesadaran siswa mengenai pentingnya pendidikan.
“Kami harus berusaha kepada seluruh siswa itu supaya mereka itu memiliki kesadaran yang dalam tentang pentingnya pendidikan,” katanya.
Letak sekolah yang berada di perbatasan kota dan desa menjadi salah satu faktor rendahnya minat melanjutkan studi.
“Mereka itu kadang-kadang sekolahnya asalkan mendapatkan ijazah. Hanya sebatas ijazah. Saya harus dapat ijazah dan saya harus bisa kerja,” ungkapnya.
Ia menilai kemampuan akademik siswa masih kurang sehingga membutuhkan motivasi dan pemahaman bahwa ilmu dan pendidikan itu penting.
SMAN 1 Jatiluhur Kabupaten Purwakarta, salah satu SMA top di Jabar
Selain membangun motivasi siswa, peran orangtua dinilai sangat menentukan. Pihak sekolah rutin mengundang orang tua, terutama kelas XII, untuk diberikan pemahaman agar mendukung pendidikan anak hingga jenjang lebih tinggi.
“Orangtuanya biasanya diberikan motivasi juga agar bukan hanya sampai di sini saja memberikan kesempatan untuk anak lakinya. Tapi orang tuanya pun harus semangat bagaimana caranya agar putri-putrinya itu bisa melanjutkan pendidikan kepada yang lebih tinggi,” ujarnya.
Ely menambahkan, saat ini tersedia banyak kesempatan melalui beasiswa pemerintah maupun perguruan tinggi.
“Tinggal anaknya saja dan orangtuanya men-support,” tegasnya.
Ia berharap perubahan pola pikir ini mampu meningkatkan kualitas lulusan SMA Jatuluh dan membuka lebih banyak peluang masa depan bagi siswa. [SR]***













