majalahsora.com, Kota Cimahi – Drs. Endi Diana Ruskandi, M.Pd resmi menjabat sebagai Kepala SMA Negeri 3 Cimahi setelah menerima Surat Keputusan (SK) dari Gubernur Jawa Barat pada 28 Oktober 2025. Sehari setelahnya, ia langsung mendapat surat perintah untuk melaksanakan tugas di sekolah barunya tersebut.
Penugasan ini menjadi babak baru perjalanan pengabdian Endi setelah sebelumnya memimpin SMA Negeri 1 Serangpanjang, Kabupaten Subang, sejak 6 Desember 2021.
Pengalaman memimpin sekolah di wilayah perkebunan Subang dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang mayoritas tidak mampu menjadi modal penting Endi Diana dalam menata SMA Negeri 3 Cimahi.
Ia menilai, tantangan pendidikan tidak hanya soal akademik, tetapi juga membangun kepercayaan masyarakat dan membentuk karakter siswa melalui keteladanan nyata dari pimpinan sekolah.
Dari Sekolah Perkebunan ke Kota Cimahi
Sebelumnya, Endi memimpin SMA Negeri 1 Serangpanjang selama hampir empat tahun. Ia mengungkapkan, saat pertama kali datang, kondisi sekolah tersebut berada di kawasan perkebunan dengan lingkungan yang sangat terbatas.
“Di depan sekolah itu hanya ada dua rumah. Tantangan awalnya adalah bagaimana anak-anak mau belajar,” ujar Endi, di ruang kerjanya, Selasa (20/1/2026), Jalan Pesantren No 161, Cibabat, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi
Sekitar 60 persen siswa berasal dari keluarga tidak mampu, mayoritas putra daerah perkebunan. Namun berkat pendekatan manajerial dan pembiasaan disiplin, jumlah siswa mengalami peningkatan signifikan. Dari awalnya sekitar 600–700 siswa, meningkat menjadi 1.030 siswa di akhir masa jabatannya.
Ia menilai peningkatan tersebut lahir dari kepercayaan masyarakat terhadap sekolah. Salah satu kebijakan utama yang diterapkannya adalah pembiasaan datang lebih awal ke sekolah dan pulang tepat waktu, yang dimulai dari keteladanan guru dan kepala sekolah.
“Program itu tidak mungkin berjalan kalau tidak ada contoh. Guru juga harus melakukan apa yang kepala sekolah lakukan,” katanya, sebelum diangkat menjadi kepala sekolah, dirinya selama 20 tahun mengabdi sebagai Guru di SMAN 1 Kota Cimahi.
Meskipun jarak rumah (di Kota Cimahi) ke sekolah sekitar 60 km, dirinya tidak pernah datang terlambat. Selama empat tahun pulang pergi, ia kerap berangkat pukul 04.00 subuh, salat Subuh di Lembang atau Cikole, dan sudah tiba di sekolah pukul 06.00.
Bahkan sebelum program Gubernur Jawa Barat masuk sekolah pukul 06.30 diterapkan, kebiasaan itu sudah ia jalani.
Tantangan Awal di SMA Negeri 3 Cimahi
Saat mulai bertugas di SMA Negeri 3 Cimahi, Endi menghadapi kondisi sekolah yang selama lebih dari dua tahun dipimpin oleh Pelaksana Tugas (Plt). Menurutnya, kepemimpinan Plt memiliki keterbatasan efektivitas karena kepala sekolah merangkap jabatan dari sekolah lain.
Kepala SMAN 3 Cimahi, Drs. Endi Diana Ruskandi, M.Pd., sedang memberikan arahan
“Efektivitas kehadiran kepala sekolah tidak maksimal, dan itu berdampak pada pendidikan secara internal,” ungkapnya.
Hal tersebut, menurut Endi, juga menjadi dasar kebijakan Gubernur Jawa Barat pada 2025 agar Plt kepala sekolah diambil dari internal sekolah, yakni wakil kepala sekolah, agar program tetap berkelanjutan.
Tantangan awal yang ia hadapi di SMA Negeri 3 Cimahi hampir sama dengan sebelumnya, yakni membangun pembiasaan disiplin. Namun kali ini, jarak rumah ke sekolah yang hanya sekitar dua kilometer memudahkannya untuk hadir lebih awal setiap hari.
“Dari rumah ke sini sekitar 5–10 menit. Jalan kaki pun bisa,” ujarnya sambil tersenyum.
Fokus Supervisi dan Kinerja Guru
Langkah awal yang ia lakukan di SMA Negeri 3 Cimahi adalah memberikan panutan kepada guru dan tenaga kependidikan. Setelah pembiasaan hadir tepat waktu, fokus berikutnya adalah memastikan guru selalu berada di kelas sesuai jam mengajar.
“Itu bagian dari tugas supervisi kepala sekolah. Bagaimana guru bekerja sesuai tupoksi,” jelasnya.
Ia secara rutin memantau kehadiran dan aktivitas guru di kelas sebagai bagian dari penguatan budaya kerja profesional.
Revisi Visi Misi dan Penguatan Karakter Siswa
Endi juga telah meminta izin kepada pengawas pembina untuk merevisi visi dan misi SMA Negeri 3 Cimahi pada tahun ajaran 2026–2027. Bahkan, ia telah membentuk tim pengkajian visi misi dan logo sekolah yang terdiri dari 14 orang, melibatkan guru, orangtua, siswa, ketua OSIS, PK, dan Ketua Komite Sekolah.
Revisi tersebut diselaraskan dengan capaian Rapor Pendidikan 2025 serta program Gubernur Jawa Barat, Gapura Panca Waluya, yang menekankan karakter siswa: cageur, bageur, bener, pinter tur singer.
“Program ini ingin saya wujudkan di SMA Negeri 3 Cimahi untuk membentuk karakter anak yang menghormati nilai budaya Sunda,” katanya.
Menurutnya, nilai tersebut sejalan dengan delapan standar pendidikan nasional meskipun redaksinya berbeda.
Masalah Tenaga Kependidikan dan Solusi ke Gubernur
Selain program akademik dan karakter, Endi Diana juga menghadapi persoalan serius terkait tenaga kependidikan. Saat ini, jumlah PNS tenaga kependidikan di SMA Negeri 3 Cimahi tinggal tiga orang, dari sebelumnya lima orang, karena dua lainnya diperbantukan ke Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat dan Kantor Cabang Dinas Pendidikan (KCD) Wilayah VII.
Foto para Kepala.SMAN 3 Kota Cimahi yang pernah menakhodai sekolah yang berada di Jalan Pesantren No 161, Cibabat, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi
Lebih jauh, terdapat delapan GTK yang berstatus TMS (tidak memenuhi syarat) untuk menjadi PPPK paruh waktu.
Jika tidak dianggarkan dalam BOPD 2026, mereka terancam diberhentikan, sementara sekolah tidak memiliki sumber anggaran lain selain BOS dan BOPD.
“Kami sangat membutuhkan tenaga mereka, baik guru maupun tenaga kependidikan,” ungkapnya.
Pada November, Endi melayangkan surat langsung ke Gubernur Jawa Barat untuk memohon petunjuk. Ia juga mendorong kepala sekolah lain di Jawa Barat melakukan hal serupa.
“Ini bukan menuntut, tapi mohon petunjuk. Kalau diteruskan sekolah tidak punya anggaran, kalau diberhentikan mereka punya keluarga,” ujarnya.
Upaya tersebut membuahkan hasil. Pada pertemuan Desember di Tasikmalaya, akhirnya turun anggaran BOPD untuk operator dan bendahara sehingga tidak terjadi pemutusan kerja pada 2026.
Keyakinan pada Keteladanan
Bagi Endi, kunci kepemimpinan adalah keteladanan. Ia memulai dari hal sederhana, seperti kerapian berpakaian, sebelum menegur siswa.
“Kalau mau menegur siswa, lihat dulu diri sendiri,” katanya.
Meski belum lama bertugas, ia mendengar adanya perubahan positif di SMA Negeri 3 Cimahi. Ia menilai kesadaran pendidikan di kota seperti Cimahi sudah sangat tinggi dibandingkan daerah perkebunan yang pernah ia alami.
“Dulu saat panen sawit, orang tua melarang anak sekolah karena bisa dapat Rp80 ribu sehari. Di Cimahi hal seperti itu hampir tidak ada,” ujarnya.
Saat ini, jumlah siswa SMA Negeri 3 Cimahi sekitar 1.300-an dengan total GTK 93 orang. Setiap tingkat memiliki 12 rombongan belajar, sesuai kapasitas maksimal sekolah.
“Alhamdulillah sudah terpenuhi. Mudah-mudahan terus ada kemajuan, bukan hanya untuk SMA Negeri 3 Cimahi, tapi juga pendidikan di Jawa Barat,” pungkas Endi. [SR]***







