majalahsora.com, Kota Bandung – Hari Pers Nasional (HPN) yang jatuh setiap tanggal 9 Februari, tahun 2023 ini peringatannya dipusatkan di Kota Medan, Sumatera Utara. Mengusung tema “Pers Bebas, Demokratis dan Bermartabat”.
Kebebasan dan peran pers pun sangat penting terhadap perkembangan peradaban dan kemajuan bangsa di berbagai bidang, tidak terkecuali dunia pendidikan.
Sehubungan dengan peran pers dan kolerasinya dengan dunia pendidikan, Kepala SMAN 16 Kota Bandung, Eha Julaeha mengatakan bahwa fungsi pers adalah sebagai media untuk menyampaikan informasi, pendidikan, memberikan edukasi, mendidik masyarakat dan bangsa, hiburan sekaligus kontrol sosial.
“Yang saya lihat, banyak media-media yang sangat positif itu sangat bagus, untuk menyampaikan ide dan gagasan,” kata Eha di ruang kerjanya, Jalan Mekarsari No 81, Kota Bandung, Kamis (9/2/2023).
Lanjutnya fungsi pers sebagai media informasi dan kontrol sosial, harus memiliki kontribusi untuk membangun bangsa yang mengarah ke pembangunan yang lebih positif.
“Selama ini yang saya ketahui memang ada pers yang itu saya pikir bukan pers. Karena pers itu jelas fungsinya seperti itu. Kalau ada oknum wartawan yang datang ke sini untuk melakukan hal-hal intimidasi dan lain-lain, itu mohon juga dari rekan-rekan pers untuk bisa membantu. Tolong untuk dikendalikan seperti itu, karena ini juga bagian daripada pembangunan bangsa,” tegas Eha.
Dirinya pun berharap dalam momentum HPN tahun ini, pers bisa lebih dewasa menjadi media informasi komunikasi dan media pendidikan yang positif. Termasuk motivasi dan inspirasi bagi pembacanya.
“Peran pers seperti itu harus bisa ditingkatkan, lebih banyak lagi dan lebih tinggi lagi intensitas mengenai pendidikan. Jangan hanya hiburan-hiburan terus, informasi-informasi tentang suatu kejadian yang mengerikan yang buruk dan lain sebagainya,” kata Eha.
“Nah itu kalau bisa setelah adanya informasi itu diulas secara pendidikan, seperti apa. Jadi ada misi di situ untuk memperbaiki bangsa itu bagaimana. Di situlah peran pendidikannya. Supaya manusia-manusia Indonesia itu menjadi manusia yang tertib, manusia yang memiliki wawasan yang baik,” kata Eha.

Wakasek Humas Budi Afiyanto, S.Pd
Insan pers juga kata Eha, bisa menitik beratkan pada pemberitaan pendidikan karakter.
“Pendidikan karakter itu adalah akhlak, perilaku. Nah ini juga harus dikupas lebih dalam lagi bagaimana sebagai masyarakat. Apalagi dunia pendidikan yang mana karakter bangsa ini adalah tonggak dari berdirinya suatu bangsa,” kata Eha.
Lanjutnya karakter bangsa itu menunjukkan siapa diri kita, jangan sampai bangsa ini menjadi bangsa yang dikenal hal-hal yang buruknya.
“Ini juga yang utama saya katakan pada akhlak, ya karakter itu, is’t all above. Akhlak di atas segalanya. Kalau pinter tapi nggak bagus (akhlaknya) itu juga sangat berbahaya, karena kepandaiannya digunakan untuk hal-hal yang tidak baik. Tapi kalau pintar dan akhlaknya baik maka bisa berguna untuk bangsa dan negara,” kata Eha.
Intinya dirinya ingin agar insan pers bisa mengangkat harkat martabat pendidikan bukan sebaliknya.
Dirinya juga mengucapkan selamat memperingati Hari Pers Nasional kepada seluruh insan pers, baik media cetak, online, radio dan televisi.
“Semoga pers bisa menjadi sebuah media yang sangat berkontribusi terhadap pembangunan bangsa dan sukses selalu untuk para insan media dan juga saya ingin bahwa pers ini menjalankan sesuai dengan fungsinya, sebagai media untuk informasi-informasi, komunikasi sebagai media pendidikan hiburan dan juga sebagai kontrol sosial,” pungkas Eha.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, Budi Afiyanto berharap insan pers ke depan bisa lebih objektif, bisa menjadi media yang mencerahkan bagi yang membaca, melihat dan mendengarnya.
“Karena Pers sebetulnya bisa berperan lebih untuk hal-hal konstruktif bagi bangsa, sehingga ke depan mampu
menumbuhkan jiwa nasionalisme, dan kebersamaan untuk membangun negara,” kata Budi.

Wakasek Kesiswaan, Atep Didin Haerudin, S.Pd
Sedangkan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Atep Didin Haerudin mengatakan sebagai insan pendidikan tentunya hari pers ini merupakan suatu momentum bagi pers itu sendiri maupun bagi pendidikan. Hal itu kata Atep agar bisa berkolaborasi.
“Karena pendidikan butuh sekali corong untuk menyampaikan kepada masyarakat, khususnya masyarakat pendidikan. Baik itu siswa, orangtua siswa dan masyarakat. Karena memang pendidikan khususnya lembaga pendidikan tidak bisa lepas dari itu,” kata Atep.
“Sehingga butuh corong yang dapat menyampaikan ide, aspirasi gagasan kemudian aturan-aturan yang memang berkaitan dengan pendidikan dan tentunya kita harus bisa bersinergi saling mengangkat saling memperbaiki. Kalau istilah dalam bahasa Sunda silih wawangi, itu berarti kan saling menghargai dan saling mengharumkan,” imbuhnya.
Lanjutnya insan pers dan insan pendidikan, baik guru, tenaga kependidikan dan sebagainya harus saling menghargai. Hal ini kata Atep bisa dilakukan apabila keduanya bisa saling menghargai, bisa saling menempatkan diri pada proporsinya, bersinergi.
Kata Atep selama ini tidak dipungkiri ada beberapa oknum awak media media yang nyeleneh.
“Misalnya yang memanfaatkan momentum-momentum tertentu untuk kepentingan dan keuntungannya sendiri. Tapi itu tidak banyak. Saya kira di dunia pendidikan juga ada yang nyeleneh tapi itu juga hanya merupakan oknum-oknum tertentu saja. Mudah-mudahan orang-orang yang seperti itu baik di media maupun di dunia pendidikan itu bisa meluruskan dirinya sendiri dan saling mengingatkan,” tegas Atep.
Masih dikatakan Atep hal tersebut tidak lain sebagai upaya kita mencapai tujuan bersama baik itu di dunia pendidikan maupun tujuan nasional, negara Indonesia.
“Saya mengucapkan selamat memperingati Hari Pers Nasional kepada awak media. Baik itu media tulis, media elektronik dan sebagainya. Mudah-mudahan insan pers semuanya ada dalam lindungan Allah subhanahu Wa ta’ala kemudian semakin sukses semakin mengedepankan visi dan misi dari pers itu sendiri,” pungkas Atep. [SR]***





