majalahsora.com, Kota Bandung – Dinas Pendidikan Jawa Barat mendorong penguatan karakter religius sekaligus kepedulian terhadap lingkungan melalui kegiatan Pesantren Ekologi yang digelar SMKN 2 Bandung selama Ramadan 2026.
Bertemakan “Ramadhan Bersemi: Hijaukan Hati, Lestarikan Bumi”, program ini tidak hanya meningkatkan ketakwaan siswa, tetapi juga memperdalam pemahaman tentang penataan dan pelestarian lingkungan melalui aksi nyata di lingkungan sekolah.
Kegiatan Pesantren Ekologi tersebut dilaksanakan sesuai arahan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat yang merujuk kebijakan Dedi Mulyadi melalui Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Purwanto, dan dibuka serentak pada 24 Februari 2026 dalam jaringan (daring) di sekolah Jalan Ciliwung No 4, Kelurahan Cihapit, Kecamatan Bandung Wetan.
(Ayo bergabung menjadi mahasiswa baru Universitas Bale Bandung, kampus berkualitas, biaya terjangkau, lulusan mudah bekerja. Klik pendaftaran PMB Unibba Tahun Akademik 2026/2027 di https://pmb.unibba.ac.id/)
Sekretaris Panitia Pesantren Ekologi Ramadan 1447 H/2026 M, Guru Pendidikan Agama Islam (PAI), Agus Wahyu Fauzi, M.Pd., menyampaikan bahwa teknis pelaksanaan pesantren ekologi masuk ke dalam kegiatan ko-kurikuler bertema ekologi.
Sekretaris Panitia Pesantren Ekologi Ramadan 1447 H/2026 M, Guru Pendidikan Agama Islam (PAI), Agus Wahyu Fauzi, M.Pd
Menurutnya, pelaksanaan yang bertepatan dengan bulan Ramadan menuntut adanya integrasi antara nilai-nilai agama Islam dengan kesadaran ekologis.
Ia menjelaskan, integrasi tersebut diwujudkan melalui aksi nyata berupa penanaman pohon, kebersihan lingkungan, dan penghematan energi yang dinilai relevan dilaksanakan selama Ramadan.
Agus menilai program tersebut sangat baik karena memberikan pemahaman terlebih dahulu mengenai nilai-nilai keagamaan yang berkaitan dengan kelestarian lingkungan sebelum siswa melaksanakan aksi nyata di lapangan.
“Menurut saya program ini bagus. Namun untuk ko-kurikuler bertema ekologi berbeda dengan pesantren ekologi. Kalau ko-kurikuler itu ada kaitannya dengan pembiasaan bagaimana cara siswa untuk mengenal bagaimana melestarikan lingkungan dengan aksi nyata.”
Pemberian materi dari Guru, dalam kegiatan Pesantren Ekologi Ramadan 1447 H/2026 M
“Berarti dengan kata pesantren dalam ekologi, merujuk pada sisi keagamaan. Sehingga nilai-nilai agama terkait kelestarian lingkungan harus mereka pahami terlebih dahulu. Maka momentum ini sangat bagus jika dilaksanakan di bulan Ramadan,” kata Agus, Kamis (26/2/2026).
Pelaksanaan kegiatan internal di sekolah dimulai sejak 23 Februari hingga 13 Maret 2026. Agus mengungkapkan, selama Ramadan, kegiatan pesantren seperti tadarus bersama, salat Duha, serta tausiyah tetap berjalan seperti tahun-tahun sebelumnya.
Perbedaannya, selama bulan suci, tausiyah dilaksanakan setiap hari dengan tema ekologi pada hari efektif belajar mulai pukul 06.30 hingga 08.30 WIB.
Aksi ekologi yang akan direalisasikan dilaksanakan setiap hari Jumat 27 Februari dengan melibatkan sekitar 1.300 siswa kelas X dan XI, sementara siswa kelas XII tetap melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) seperti biasa karena tengah mempersiapkan ujian sekolah.
Pesantren Ekologi SMKN 2 Kota Bandung, diikuti sekitar 1.600 siswa kelas X dan XI
Penyampaian materi dilakukan di dua lokasi, yakni di lapangan upacara bagi siswa laki-laki dan di aula bagi siswa perempuan, oleh guru-guru PAI internal sekolah guna memudahkan pengondisian peserta.
“Jadi untuk KBM berjalan seperti biasa. Hanya saja yang membedakannya, kita setiap hari diawali dengan pesantren ekologi terlebih dahulu di setiap pagi. KBM jamnya bergeser agak siang yaitu pukul 08.30–13.00 WIB. Bulan Ramadhan KBM pun waktunya memang lebih singkat,” kata Agus.
Pada penutupan kegiatan yang dijadwalkan berlangsung 13 Maret 2026, siswa akan mengikuti musafahah atau saling bersalaman menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 H.
Selain kegiatan di sekolah, siswa juga diberikan tugas dalam bentuk jurnal Ramadan yang berisi laporan kegiatan ibadah seperti salat tarawih berjamaah, tadarus di rumah, hingga aktivitas silaturahmi.
Materi Pesantren Ekologi Ramadan, menitik beratkan penanaman nilai-nilai agama yang berkaitan dengan lingkungan
Buku jurnal Ramadhan tersebut akan ditandatangani oleh siswa, orangtua, serta ustad di lingkungan tempat tinggal masing-masing sebagai bentuk pertanggungjawaban kegiatan.
Jurnal dikumpulkan pasca Idul Fitri dan dinilai oleh seluruh guru PAI sebagai bagian dari pemantauan aktivitas ibadah dan silaturahmi siswa kepada ulama, kiai, maupun keluarga.
Agus menambahkan bahwa perbedaan utama pelaksanaan tahun ini terletak pada tema yang diusung, sejalan dengan kebijakan pemerintah daerah terkait perbaikan atau reservasi lingkungan.
Ia menilai bulan Ramadan merupakan momentum pendidikan untuk memperbaiki diri sekaligus mengimplementasikan nilai-nilai tersebut kepada siswa agar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Semangat para siswa dalam mengikuti Pesantren Ekologi Ramadan
“Yang berbeda dengan tahun sebelumnya sudah pasti dari tema. Perbaikan atau reservasi lingkungan yang diangkat Pak Gubernur, membuat kita harus mendukung itu semua.”
” Apalagi bulan Ramadhan ini adalah bulan pendidikan. Ini adalah momentum untuk memperbaiki diri kita langsung implementasikan kepada siswa, agar di 11 bulan lainnya mereka bisa terapkan hal-hal baik sejenis ini,” kata Agus.
Melalui kegiatan ini, Agus berharap Pesantren Ekologi mampu meningkatkan kepedulian siswa dalam memelihara dan menjaga lingkungan sebagai bagian dari ibadah.
Ia menekankan bahwa bumi yang terjaga dengan baik akan menjadi tempat bersujud yang nyaman, sehingga tanggung jawab menjaga kelestarian lingkungan tidak hanya dilakukan di masjid, tetapi juga di seluruh aspek kehidupan. [SR]***









