majalahsora.com, Kota Bandung – Pesantren Ekologi menjadi kekhasan pada Ramadan 1447 H/2026 M bagi siswa SMA, SMK dan SLB di Jawa Barat. Bertemakan pelestarian lingkungan yang didasarkan pada dalil-dalil agama, mengharuskan siswa untuk melakukan kebiasaan baru selain memperdalam agama secara spesifik.
Pada umumnya, yang menyampaikan materi kepada siswa mengenai cara memelihara lingkungan hidup yang berlandaskan nilai-nilai keislaman dilakukan melalui peran Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah.
Namun berbeda dengan SMAN 19 Bandung yang menyelenggarakan Pesantren Ekologi bekerja sama dengan pihak luar sekolah, yakni menggandeng mahasiswa dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung sebagai pemateri.
(Ayo bergabung menjadi mahasiswa baru Universitas Bale Bandung, kampus berkualitas, biaya terjangkau, lulusan mudah bekerja. Klik pendaftaran PMB Unibba Tahun Akademik 2026/2027 di https://pmb.unibba.ac.id/)
Robiyatul Adawiyah, S.Pd.I., Ketua Pelaksana Pesantren Ekologi Ramadan, yang merupakan Guru PAI, menjelaskan bahwa pihaknya sengaja mengundang pemateri dari Putera-Puteri Bumi Siliwangi di bidang lingkungan.
“Mereka mahasiswa UPI yang memberikan materi tentang energi dan lingkungan. Kebanyakan dari jurusan Energi Terbarukan. Alhamdulillah para siswa antusias menyimak dan aktif bertanya terkait kehidupan sehari-hari.”
“Pematerian ini di lapangan sekolah, disampaikan pada hari ketiga pesantren ekologi. Tepatnya Rabu 25 Februari 2026,” kata Robiya, akrab disapa, kepada majalahsora.com, perwakilan Forum Wartawan Pendidikan Jabar, di Jalan Ir H Djuanda, Dagopojok No 38, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kamis (26/2/2026).
Ia menjelaskan bahwa tujuan mengundang pemateri dari kalangan mahasiswa UPI, agar materi yang disampaikan lebih bervariasi dan mendalam.
Robiyatul Adawiyah, S.Pd.I., Ketua Pelaksana Pesantren Ekologi Ramadan 1447 H/2026 M
Dalam hal ini, Robiya menilai pihak UPI memiliki latar belakang keilmuan yang kuat di bidang lingkungan, terlebih para mahasiswanya dikenal sebagai pegiat lingkungan.
Masih dikatakan Robiya, setelah kegiatan pemberian materi di lapangan selesai, para siswa kembali ke kelas masing-masing untuk mengikuti pembelajaran lanjutan mengenai tata cara menanam pohon yang baik dan benar, yakni memahami hakikat menanam pohon itu sendiri.
Pasalnya menanam pohon bukanlah sekadar aktivitas menanam, melainkan sebuah perbuatan mulia yang selaras dengan ajaran Islam, karena di dalamnya terkandung tujuan dan manfaat yang besar bagi kehidupan.
Secara konkret, kata Robiya, menanam pohon dapat menjadi amal jariyah serta wujud kebaikan yang manfaatnya dapat dirasakan oleh banyak orang dan lingkungan sekitar.
Oleh karena itu, nilai pentingnya menanam pohon kepada para siswa dipandang sebagai upaya menumbuhkan kepedulian, tanggung jawab, serta kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian alam sejak dini.
Setelah itu kata Robiya, kegiatan dilanjutkan dengan aksi ekologi pada hari keempat pesantren, yaitu lomba membuat pot tanaman istimewa. Menggunakan bekas botol minuman air mineral yang dihias semenarik mungkin. Botol tersebut akan dimanfaatkan di lingkungan sekolah sebagai media tanam tanaman, seperti apotik hidup.
Setelah itu, menurut Robiya, kegiatan dilanjutkan dengan aksi ekologi pada hari keempat Pesantren Ekologi, yaitu lomba membuat pot tanaman istimewa dengan memanfaatkan botol bekas air mineral yang dihias semenarik mungkin.
Aksi ekologi peserta Pesantren Ekologi, membuat pot tanaman istimewa yang dilombakan
Botol-botol tersebut kemudian akan dimanfaatkan di lingkungan sekolah sebagai media tanam berbagai jenis tanaman, seperti tanaman apotek hidup.
Robiya juga menjelaskan bahwa Pesantren Ekologi SMAN 19 Bandung dilaksanakan pada 23–27 Februari 2026. Dua minggu setelah kegiatan tersebut akan diisi dengan penerapan aksi ekologi yang diawali dengan kegiatan belajar mengajar (KBM).
Jumlah peserta kegiatan ini mencapai 774 orang yang terdiri atas siswa kelas X dan XI, sementara siswa kelas XII sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai ujian sekolah.
Berbagai Lomba dan Kegiatan Pesantren Ekologi Ramadan SMAN 19 Bandung
Selain lomba kaligrafi, pada hari yang sama juga digelar lomba membuat bingkisan Ramadan. Setiap kelas diwajibkan menyiapkan tujuh bingkisan untuk dinilai sebelum kemudian dibagikan kepada warga sekitar.
Dari kegiatan ini, terkumpul 19 bingkisan Ramadan yang akan disalurkan kepada masyarakat di lingkungan sekitar sekolah, serta 120 bingkisan lainnya yang dibagikan kepada tetangga dan mereka yang membutuhkan, seperti tukang parkir, tukang becak, maupun masyarakat kurang mampu yang ditemui di jalan.
Seluruh rangkaian kegiatan tersebut akan didokumentasikan sebagai wujud kepedulian warga 19 terhadap masyarakat di bulan Ramadan.
Memasuki hari kelima, kegiatan dilanjutkan dengan aksi ekologi berupa pengumpulan tanaman. Setiap kelas diminta membawa satu tanaman untuk kemudian dikumpulkan. Pada hari yang sama juga dilaksanakan kegiatan berbagi secara simbolis kepada warga sekitar serta aksi bersih-bersih lingkungan.
Peserta sedang melakukan penanam tanaman di dalam pot
“Tema utama pesantren ekologi adalah membersihkan lingkungan. Pada minggu pertama fokus pada kegiatan bersih-bersih, minggu kedua pada penghematan energi, dan minggu ketiga diisi dengan penanaman pohon. Rencananya, pohon-pohon yang telah dikumpulkan akan ditanam pada 13 Maret 2026,” ujar Robiya.
Ia menambahkan bahwa sebagai panitia dirinya merasa sangat senang dengan adanya pesantren ekologi ini karena bertujuan menanamkan nilai Gapura Pancawaluya untuk mewujudkan manusia waluya yang rahmatan lil alamin.
Dirinya juga berharap kegiatan ini bisa membuat siswa memiliki kesadaran yang tinggi dan kuat untuk peka terhadap lingkungannya tanpa harus disuruh dan diminta.
Secara umum, Robiya menjelaskan bahwa transformasi pesantren pada umumnya menuju pesantren berbasis ekologi menghadirkan tantangan tersendiri bagi dirinya dan tim. Meski demikian, ia menyambut baik program tersebut dengan penuh antusias, terlebih tema yang diusung dinilai relevan dengan kondisi Jawa Barat saat ini yang tengah menghadapi sejumlah bencana di berbagai wilayah.
Petunjuk teknis pelaksanaan program telah dipelajari bersama tim melalui kegiatan sosialisasi terkait pesantren ekologi. Selanjutnya, Robiya bersama tim menyusun rancangan kegiatan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi di SMAN 19 Bandung.
“Alhamdulillah setelah terancang, kami memutuskan untuk memulai kegiatan ini pada 23 Februari 2026. Pada 24 Februari, kami tetap mengikuti pembukaan secara daring. Alasan dimulainya kegiatan pada 23 Februari adalah untuk keperluan persiapan.”
“Secara keseluruhan, program berlangsung dari 23 Februari hingga 13 Maret 2026. Namun, khusus untuk kegiatan tadabur alam atau pemahaman tentang lingkungan, kami selesaikan hingga 27 Februari 2026,” ungkap Robiya.
Peserta Pesantren Ekologi Ramadan 1447 H/2026 M, dengan latar bingkisan yang akan dibagikan kepada masyarakat sekitar yang membutuhian
Ia juga menjelaskan bahwa pada dua hari pertama dilaksanakan kegiatan niti surti dan niti harti. Dalam kegiatan tersebut, para Guru PAI memberikan materi tentang ekologi yang dikaitkan dengan nilai-nilai Islam, baik di lapangan maupun di dalam kelas. Khusus di kelas, para siswa diberikan tugas untuk mengisi Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang telah disiapkan.
“Untuk membuka kegiatan setiap hari, kami melakukan pembiasaan di lapangan terlebih dahulu, seperti melaksanakan salat Duha, zikir bersama, dan pembacaan Asmaul Husna. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan pematerian,” jelasnya.
Memasuki hari pertama pesantren, para siswa menerima materi tentang pentingnya kebersihan sebagai bagian dari iman di kelas masing-masing dengan pendampingan guru.
Siswa diminta mengeksplorasi keterkaitan antara konsep kebersihan sebagai bagian dari iman dengan kehidupan sehari-hari, sekaligus berkomitmen untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar.
Setelah sesi pematerian, kegiatan pembelajaran setiap harinya ditutup dengan pelaksanaan salat Duhur berjamaah. Pada hari kedua, kegiatan diawali dengan pembiasaan seperti biasa, kemudian para siswa mendapatkan materi tentang thaharah atau kebersihan sesuai ajaran Islam yang disampaikan oleh ustaz dari pihak eksternal.
Materi thaharah selanjutnya dikaitkan dengan praktik wudu yang juga memiliki relevansi dengan upaya penghematan energi, khususnya penggunaan air.
“Para siswa kemudian kembali ke kelas untuk memperdalam pemahaman mengenai pentingnya hemat energi sebagai salah satu nikmat yang diberikan Allah SWT, sehingga perlu dimanfaatkan secara bijak dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya. [SR]***









