majalahsora.com, Kota Bandung – Memasuki bulan suci Ramadhan tahun 1447 Hijriah, Gubernur Dedi Mulyadi membuat kebijakan baru terkait pesantren Ramadhan bagi sekolah-sekolah di Jawa Barat yang kini bertransformasi menjadi pesantren ekologi.
Kebijakan ini direspons cepat oleh SMKN 4 Bandung yang melaksanakan kegiatan pesantren ekologi pada 25–27 Februari 2026 di sekolah yang berada di Jalan Kliningan No 6, Kelurahan Turangga, Kecamatan Lengkong.
Melalui Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, seluruh sekolah jenjang SMA, SMK, dan SLB negeri swasta diajak untuk berikhtiar dalam merawat serta melestarikan bumi melalui pendidikan berbasis keimanan dan kepedulian lingkungan.
(Ayo bergabung menjadi mahasiswa baru Universitas Bale Bandung, kampus berkualitas, biaya terjangkau, lulusan mudah bekerja. Klik pendaftaran PMB Unibba Tahun Akademik 2026/2027 di https://pmb.unibba.ac.id/)
Program ini tidak hanya berfokus pada penguatan hubungan antar manusia, tetapi juga menekankan pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan alam sekitarnya.
Pesantren Ekologi Ramadan menurut Kepala SMKN 4 Bandung, Yudi Kartiwa, S.Pd., S.ST., M.Pd., sangat relevan untuk menanamkan siswa peduli terhadap lingkungan berdasarkan nilai-nilai Islam
Kepala SMKN 4 Bandung, Yudi Kartiwa, S.Pd., S.ST., M.Pd., menjelaskan bahwa pihaknya mengikuti arahan sekaligus mendukung program Pemerintah serta Dinas Pendidikan Jawa Barat, terkait Pesantren Ekologi Ramadan 1447 Hijriah.
Ia mengungkapkan bahwa terdapat pengembangan dalam pelaksanaan Pesantren Ramadan tahun ini.
“Untuk pesantren Ramadan 2026 ini ada pengembangan. Kalau dulu istilahnya smart tren Ramadan, sedangkan sekarang menjadi pesantren ekologi dari segi istilahnya,” ungkap Yudi di ruang kerjanya, Rabu (25/2/2026).
Menurutnya, kebijakan pemerintah saat ini tidak hanya mengharuskan siswa menjalin hubungan baik antar manusia, melainkan juga menjaga hubungan baik antara manusia dengan lingkungan alam sekitarnya.
Pesantren Ekologi Ramadan di SMKN 4 Kota Bandung
Pihak sekolah pun menyambut baik kegiatan tersebut dengan menyiapkan skenario atau rancangan kegiatan yang mengacu kepada pemeliharaan dan pelestarian lingkungan.
Ia berharap keimanan dan ketakwaan para siswa terus meningkat, sehingga tidak hanya memelihara hubungan dengan Tuhan dan sesama, tetapi juga terhadap pelestarian lingkungan sekitar yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sedangkan Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan, Siti Mulyati, S.Pd., menyampaikan bahwa tema pesantren ekologi di SMKN 14 yakni “Internalisasi Nilai Gapura Pancawaluya Guna Mewujudkan Manusia Waluya Rahmatan Lil Alamin” dengan peserta seluruh siswa sebanyak lebih dari 1.600 orang.
Ia menjelaskan bahwa secara teknis pelaksanaan kegiatan di SMK berbeda dengan jenjang SMA karena lebih banyak bersinggungan dengan jadwal kegiatan kelas XII seperti PKL (Praktik Kerja Lapangan), ujian sekolah, dan UKK.
Penulisan kaligrafi bertemakan linkungan
Sehingga walaupun seluruh jenjang mengikuti pesantren, yang diwajibkan mengikuti kegiatan secara penuh adalah siswa kelas X dan XI.
Sementara bagi siswa kelas XII, kegiatan dilaksanakan di rumah yang disesuaikan dengan waktu persiapan ujian sekolah dan tetap dipandu oleh guru Pendidikan Agama Islam (PAI).
Siti mengakui bahwa pesantren kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena menekankan aspek lingkungan sebagai isu utama.
“Kami merespons baik tentunya tentang pesantren yang menekankan masalah lingkungan. Karena lingkungan bukan masalah personal, tetapi semua warga yang terlibat di situ. Dengan kontribusi dan kerja sama, pemecahan masalah lingkungan menjadi tugas bersama,” ujar Siti.
Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan, Siti Mulyati, S.Pd
Ia menjelaskan bahwa kegiatan pesantren ekologi dibagi ke dalam tiga agenda utama, yakni pemberian materi pada 25 Februari 2026, penanaman pohon pada 26 Februari 2026, serta lomba kebersihan antar kelas pada 27 Februari 2026.
Pemberian materi dilaksanakan dalam dua bentuk kegiatan berupa tadabur alam serta penulisan kaligrafi yang mengkaji tanggung jawab manusia terhadap lingkungan.
Pembekalan materi tersebut diberikan oleh pemateri dari internal sekolah, yakni MGMP guru PAI SMKN 4 Bandung, tanpa melibatkan pemateri dari luar sekolah.
Kegiatan ini diperkuat dengan penulisan kaligrafi hadits yang berkaitan dengan ekologi guna memupuk kepedulian lingkungan sejak dini.
Siswa aktif bertanya terkait materi dalam Pesantren Ekologi Ramadan 1447 H/2026 M
“Di hari kedua, barulah kami melaksanakan aksi ekologi, yaitu melakukan penanaman pohon di lingkungan sekolah hingga bersih-bersih. Tidak hanya melibatkan siswa, namun para gurunya juga,” kata Siti.
Selain itu, siswa juga melaksanakan kegiatan nada dan dakwah dengan menyampaikan pemahamannya sejak proses tadabur alam hingga aktualisasi aksi ekologi.
Para siswa mengajak teman sebayanya untuk peduli lingkungan melalui penyampaian materi serta lagu bertema kecintaan terhadap lingkungan.
Pada hari terakhir, sekolah melombakan kebersihan kelas dalam rangkaian pesantren ekologinya. Meskipun kegiatan tatap muka dilaksanakan selama tiga hari, pesantren ekologi tetap berlanjut secara mandiri di rumah masing-masing yang dipandu oleh guru PAI, wali kelas, serta kolaborasi dengan guru projek IPAS.
Aksi nyata siswa menanam tanaman pada Pesantren Ekologi Ramadan 1447 H/2026 M, di SMKN 4 Bandung
Dalam kegiatan mandiri tersebut, siswa dibekali pengisian buku amaliah Ramadan yang memuat pelaporan rutinitas harian seperti bangun pagi, sahur, olahraga, membantu orang tua, pelaksanaan salat wajib, tarawih, ceramah hingga aksi ekologi di rumah berupa merawat tanaman, menjaga kebersihan lingkungan rumah, memilah sampah, dan melakukan gerakan hemat energi.
“Menurut saya kegiatan ini sangat bagus karena menyadarkan siswa betapa pentingnya menjaga lingkungan. Apalagi siswa yang hadir ke sekolah itu berbeda latar belakang, membuka wawasan mereka tentang cara-cara cinta lingkungan itu seperti apa saja. Sehingga harapannya tidak hanya saat Ramadhan saja mereka peduli lingkungan, tetapi juga seterusnya,” ujar Siti menjelaskan.
Terlebih, SMKN 4 Bandung sendiri telah menerapkan program mawadah (membawa wadah sendiri) untuk bekal makanan dan minuman, sehingga para siswa sudah terbiasa memilah sampah dan menjaga lingkungan agar tetap asri dalam keseharian.
Siti berharap para siswa dapat mengembangkan ilmu yang sudah ditanamkan di sekolah, khususnya selama Ramadhan, sehingga kegiatan Ramadhan menjadi lebih bermakna dan bermanfaat minimal bagi diri sendiri serta lingkungan sekitarnya, bahkan dapat diterapkan dan disebarkan hingga ke lingkungan rumah. [SR]***











