majalahsora.com, Kota Bandung – Dalam rangka mengisi kegiatan di bulan suci Ramadan yang penuh berkah, biasanya para pelajar beragama Islam mengikuti pesantren Ramadan yang diadakan di sekolah. Begitu pun dengan Ramadan 1447 Hijriah, kegiatan pesantren Ramadan di bawah naungan Dinas Pendidikan Jawa Barat tahun ini mengusung konsep baru melalui program Pesantren Ekologi Ramadan dengan tema “Internalisasi Nilai Gapura Pancawulya Guna Mewujudkan Manusia Waluya Rahmatan Lil Alamin”.
Program ini bertujuan membentuk karakter siswa dan memiliki pemahaman agama yang lebih dalam, sehingga terbentuk pribadi religius, taat dalam menjalankan, menjauhi larangan Allah SWT serta lebih peduli terhadap lingkungan.
Kegiatan Pesantren Ekologi Ramadan dijadwalkan akan dilaksanakan pada 23 Februari hingga 13 Maret 2026, dan diharapkan mampu menjawab berbagai isu aktual lingkungan yang dihadapi masyarakat saat ini.
Sedangkan launching kegiatan ini akan dilangsungkan pada Selasa 24 Februari 2026. Rencananya akan dibuka oleh Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM).
Dalam rangka mematangkan program tersebut, diadakan kegiatan pembekalan materi kegiatan Pesantren Ekologi secara daring (dalam jaringan) pada Sabtu (21/2/2026) yang diikuti lebih dari seribu perwakilan sekolah.
Kepala Bidang Pendidikan Khusus Layanan Khusus, Ai Nurhasan, yang membuka acara menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak terlepas dari dukungan Kanwil Kemenag dan banyak pihak.
“Ini merupakan tahun pertama kita mendesain kegiatan pesantren Ramadan yang kita kaitkan dengan isu aktual yang kita hadapi di saat ini.”
“Ramadan ini merupakan momen yang sangat luar biasa yang kita tunggu-tunggu, dimana di saat ini kita merefleksikan kembali apa yang sudah kita lakukan selama ini dan apa yang harus kita lakukan dalam upaya memperbaikinya,” kata Ai Nurhasan.
Ia juga menegaskan bahwa sekolah sudah semestinya menjadi pusat peradaban, pusat pengetahuan, serta pusat perubahan. Semangat tersebut diimplementasikan melalui kegiatan Ramadan berbasis ekologi, mengingat berbagai persoalan seperti banjir, longsor, serta musibah yang terjadi di masyarakat juga diawali dari perilaku manusia yang tidak menghargai lingkungan, seperti membuang sampah sembarangan hingga membabat hutan.
Menurutnya, ajaran Islam menegaskan bahwa manusia adalah khalifah di muka bumi yang harus melindungi, menjaga, dan memelihara lingkungan. Namun faktanya saat ini, berbagai musibah terjadi di berbagai wilayah dan salah satu penyebabnya adalah perilaku manusia itu sendiri.
Melalui kegiatan Pesantren Ekologi Ramadan 1447 Hijriah 2026 Masehi, siswa diharapkan tidak hanya berdiam diri, tetapi lebih banyak melakukan aktivitas berbasis aksi nyata.
(Ayo bergabung menjadi mahasiswa baru Universitas Bale Bandung, kampus berkualitas, biaya terjangkau, lulusan mudah bekerja. Klik pendaftaran PMB Unibba Tahun Akademik 2026/2027 di https://pmb.unibba.ac.id/)
Masih dikatakan Ai, kegiatan Ramadan kali ini dibagi ke dalam siklus rangkaian aktivitas pancaniti selama tiga minggu, dimulai dari 23 Februari hingga 14 Maret 2026.
Setiap siklus meliputi kegiatan menghapal ayat suci Al-Qur’an, hadis-hadis yang terkait dengan ekologi sesuai tema mingguan, serta pemahaman faktual oleh ustadz maupun guru agama.
“Sekolah juga dapat menghadirkan ustadz atau ulama dari internal maupun eksternal sesuai kebutuhan dengan tetap mengacu pada tema yang direkomendasikan,” kata Ai.
Selain itu, kegiatan akan diisi dengan diskusi, membahas, bedah kasus, serta diakhiri dengan aksi ekologi pada setiap sesi temanya.
Dalam satu bulan Ramadan akan dilaksanakan tiga aksi ekologi, yakni aksi pertama pada 27 Februari dengan tema kebersihan lingkungan (pengelolaan sampah).
“Sampah ini bukanlah tentang sampah plastik saja, termasuk kotoran, misalkan membersihkan masjid, musola, ruang kelas, lingkungan, itu bagian dari tema yang sama,” katanya.
Aksi kedua pada 6 Februari 2026 mengenai hemat energi, dan aksi ketiga 13 Maret 2026 berupa kelestarian alam (penanaman pohon atau penghijauan).
Lanjutnya setelah Ramadan, peserta didik diharapkan menjadi manusia waluya yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Sekolah pun diharapkan dapat menjalankan perannya sebagai pusat informasi, pusat peradaban, pusat budaya, sekaligus menjadi bagian dari perubahan di lingkungan masyarakat.
“Kita tidak bisa merubah total kondisi masyarakat, tapi kita menjadi bagian yang bisa memberikan perubahan di lingkungan sekolah, dan insya Allah itu akan menjadi perubahan total kepada masyarakat kita di waktu yang akan datang,” pungkasnya.
Sekedar diketahui dalam rangakaian pesantren Ramadan tahun ini, disamping kegiatan tadabur alam serta aksi ekologi, juga bisa melaksanakan kegiatan pesantren Ramadan seperti tahun lalu, antara lain rantang kanyaah, pembiasaan harian, wakaf Al Quran dan lainnya. [SR]***





