majalahsora.com, Kota Bandung – Program Pesantren Ekologi Ramadan 1447 H/2026 M di SMK Negeri 14 Bandung hadir dengan konsep berbeda. Ini sesuai arahan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, dengan menitikberatkan pada internalisasi nilai-nilai keagamaan yang dikolaborasikan dengan kepedulian terhadap lingkungan hidup.
Dilaksanakan tanggal 23 Februari hingga 13 Maret 2026. Mengusung tema “Internalisasi Nilai Gapura Pancawaluya Guna Mewujudkan Manusa Waluya Rahmatan Lil Alamin” dalam upaya membangun generasi yang lebih mencintai dan memperhatikan alam.
(Ayo bergabung menjadi mahasiswa baru Universitas Bale Bandung, kampus berkualitas, biaya terjangkau, lulusan mudah bekerja. Klik pendaftaran PMB Unibba Tahun Akademik 2026/2027 di https://pmb.unibba.ac.id/)
Kegiatan Pesantren Ekologi Ramadan ini tidak hanya berfokus pada penyampaian materi keagamaan semata, tetapi juga mendorong pembiasaan perilaku ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari melalui tiga siklus utama yakni kebersihan lingkungan, hemat energi, dan penanaman pohon.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Hapipudin, S.Ag., selaku Pengarah Pesantren Ekologi Ramadan 1447 H
Guru Pendidikan Agama Islam (PAI), Fitri Oktaviani, S.Pd.I., menjelaskan bahwa kegiatan Pesantren Ekologi Ramadan di SMKN 14, dilaksanakan dalam tiga siklus selama tiga minggu.
Kegiatannya dibuka oleh Kepala SMKN 14 Bandung Dudi Rudiatna Senin (23/2/2026). Diikuti oleh sekitar 900 siswa kelas X dan XI. Setiap hari masuk pukul 06.30 sampai 13.00. Diawali dengan salat Duha dilanjutkan tadarus.
Masih dari keterangan Fitri pada minggu pertama, kegiatannya diperuntukan bagi siswa kelas X saja. Mendapatkan materi terkait kebersihan lingkungan yang diakhiri dengan aksi ekologi berupa pengumpulan sampah di lingkungan sekolah maupun rumah untuk didaur ulang agar lebih bermanfaat.
Siswa kelas X yang mengikuti Pesantren Ekologi Ramadan 1447 H/2026 M
“Pada minggu pertama siswa kelas XI tidak mengikuti Pesantren Ekologi tetapi mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) seperti biasa,” kata Fitri, di SMKN 14 Kota Bandung, Jalan Cijawura Hilir No 341, Kamis (26/2/2026).
Untuk pematerinya menghadirkan penyuluh dari Kemenag memberikan materi keagamaan sekaligus menanamkan nilai-nilai kecintaan terhadap lingkungan. Antara lain mengenai “Kebersihan Bagian dari Iman”, “Belajar Lewat Aksi Nyata“, “Ide Baik akan mengubah Dunia Jika dikerjakan Bersama” dan lainnya.
Di samping itu ada juga materi mengenai nilai-nilai pancaniti (niti harti, niti surti, niti bukti, niti bakti, niti sajati). Contoh mengenai niti harti terkait audit lingkungan sekolah yang disampaikan oleh guru.
Guru Pendidikan Agama Islam (PAI), Fitri Oktaviani, S.Pd.I., bersama Lina Sumarlina, S.Pd
Sedangkan pada minggu kedua kata Fitri, diperuntukkan bagi siswa kelas XI dengan materi hemat energi, yang diimplementasikan melalui pembuatan slogan, poster, serta video pendek terkait hemat energi.
“Pada minggu kedua siswa kelas X, tidak mengikuti kegiatan Pesantren Ekologi, namun seperti kelas XI pada minggu pertama, mengikuti KBM,” kata Fitri.
Sementara pada minggu ketiga, kata Fitri seluruh peserta dari kelas X dan XI akan melaksanakan aksi penanaman pohon di lingkungan sekolah dengan target tanaman buah yang nantinya akan dirawat secara berkelanjutan.
Suasana Pesantren Ekologi Ramadan 1447 H, SMKN 14 Kota Bandung
Sedangkan bagi siswa kelas XII tidak disertakan karena akan mengikuti Penilaian Sumatif Akhir Jenjang (PSAJ) pada tanggal 6 Maret hingga 13 Maret 2026.
Saat disinggung mengenai siswa non-muslim, pihak sekolah telah berkoordinasi dengan guru Pendidikan Agama masing-masing agar tetap mengikuti kegiatan kajian sesuai agama dengan tematik ekologi.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Hapipudin, S.Ag., selaku Pengarah Pesantren Ekologi Ramadan 1447 H menambahkan, bahwa kegiatan ini tetap fokus pada nilai-nilai agama Islam yang ditanamkan kepada siswa, namun dengan pendekatan berbeda dibandingkan tahun sebelumnya.
Panitia Pesantren Ekologi Ramadan 1447 H, SMKN 14 Kota Bandung
“Pesantren di tahun ini mungkin akan lebih ke tema-tema sentral lingkungan dan alam, sehingga dibuat menjadi tiga siklus, yang pertama terkait dengan kebersihan lingkungan, kemudian siklus kedua terkait dengan hemat energi, dan yang ketiga tentang penanaman pohon,” kata Hapipudin.
Lanjutnya program tersebut seiring dengan program Pemerintah Provinsi Jawa Barat sehingga sekolah memiliki andil untuk ikut serta dalam menyukseskan pencanangan agar warga Jawa Barat lebih cinta dan memperhatikan alam.
Secara tidak langsung, ia menyampaikan bahwa konsep Pesantren Ekologi Ramadan tahun ini tidak hanya menitikberatkan pada materi, tetapi juga pada internalisasi perilaku melalui pendekatan ayat Al-Qur’an yang dikolaborasikan dengan pembuktian dalam kehidupan sehari-hari.
Pembuatan ecobrick aksi nyata dalam Pesantren Ekologi Ramadan 1447 H
Hapipudin menuturkan bahwa poin penting yang ingin dicapai adalah adanya pembiasaan dari sekolah kepada para siswa agar dapat lebih memperhatikan lingkungan serta memberikan solusi tidak hanya dalam konsep di sekolah, tetapi juga dapat dilaksanakan di keluarga dan lingkungan sekitar.
Dalam pelaksanaannya, sekolah juga menyiapkan Buku Panduan Ramadan (Lembar Kerja Peserta Didik) yang memuat aktivitas ibadah harian seperti salat, tadarus Al-Qur’an dan lainnya.
“Mereka tetap dalam jalur yang kita harapkan, bisa mengisi bulan Ramadan ini dengan sebaik mungkin, tidak hanya di sekolah, tetapi juga di keluarga dan lingkungannya,” tegas Hapipudin.
Pandangan Siswa terkait Pesantren Ekologi Ramadan
Daur ulang sampah, sebagai bagian dari menjaga kebersihan lingkungan
Salah satu panitia dari kelas X DKV 2, Fathiya Mubarokah, mengungkapkan bahwa kegiatan Pesantren Ekologi Ramadan diawali dengan analisis lingkungan sekolah seperti kantin dan taman untuk mengamati kondisi kebersihannya.
“Hari sekarang baru mulai proyeknya yaitu membuat ecobrick dari sampah-sampah yang dikumpulkan, dimasukkan ke dalam botol, yang nantinya akan dimanfaatkan menjadi rak sepatu,” kata Fathiya.
Sementara itu, Keinan Adhnan Rachim dari kelas X DKV 2, menilai kegiatan tersebut menjadi pengalaman baru dalam mengisi Ramadan.
Ecobrick yang akan dijadikan rak sepatu
“Dengan adanya kegiatan seperti ini akan membuat kita jadi lebih bijak untuk mengelola sampah dan cara mengaturnya.”
Peserta lain, Ridhwan Aditya Ozora, kelas X DKV 2 juga menilai kegiatan ini positif karena Ramadan diisi dengan aktivitas yang bermanfaat.
Ia mengatakan bahwa pembelajaran mengelola sampah menjadi hal menarik, serta menegaskan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan bagi generasi muda demi masa depan bumi agar udara tetap bersih dan lingkungan nyaman.
Ridhwan Aditya Ozora, Fathiya Mubarokah dan Keinan Adhnan Rachim
Selama Ramadan ini mereka pun melakukan berbagai ibadah harian seperti puasa, tadarus, salat lima waktu, salat Taraweh dan lainnya.
Melalui Pesantren Ekologi Ramadan 1447 H/2026 M ini, sekolah berharap terbentuk pembiasaan positif pada siswa dalam menjaga kebersihan lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas ibadah seperti salat lima waktu dan membaca Al-Qur’an secara konsisten.
Program ini diharapkan meninggalkan bekas yang tidak hanya berdampak selama Ramadan, tetapi juga mendorong siswa untuk terus menanam pohon serta merawat lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. [SR]***














