majalahsora.com, Kota Bamdung – Sebagai bagian dari pelaksanaan program Pemerintah, SMKN 8 Bandung menyelenggarakan program Pesantren Ekologi di sekolah yang berada di Jalan Kliningan No 31, Kelurahan Turangga, Kecamatan Lengkong.
Pesantren dengan konsep menanamkan nilai-nilai kelestarian lingkungan dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ini, mengharuskan siswa tidak hanya sekedar malakukan amailiah di bulan penuh berkah dan ampunan.
Selain membina hubungan dengan Tuhan serta teman-temannya, mereka pun dilatih agar menjadi pribadi yang peduli terhadap lingkungan sekitar dengan memelihara, menjaga dan melestarikannya.
(Ayo bergabung menjadi mahasiswa baru Universitas Bale Bandung, kampus berkualitas, biaya terjangkau, lulusan mudah bekerja. Klik pendaftaran PMB Unibba Tahun Akademik 2026/2027 di https://pmb.unibba.ac.id/)
Lebih jauh, Kepala SMKN 8 Kota Bandung, Supeno Martadi, S.Pd., M.T., menyampaikan bahwa Pesantren Ekologi sebenarnya tidak jauh berbeda dengan smartTren Ramadan pada tahun-tahun sebelumnya. Hanya berubah istilah dan beberapa aspek saja.
“Makanya Ini bukan suatu hal yang baru, hanya istilahnya saja berbeda. Karena setiap tahun sekolah memang sudah biasa melaksanakan program yang dilaksanakan di bulan Ramadan.”
Kepala SMKN 8 Kota Bandung, Supeno Martadi, S.Pd., M.T
“Untuk pembukaannya kami ikuti di hari kemarin 24 Februari 2026 secara massal melalui zoom meeting (Disdik Jabar),” ungkap Supeno di ruang kerjanya, Rabu (25/2/2026).
Menurutnya, Pesantren Ekologi dapat membawa karakter baik bagi siswa untuk menumbuhkan kesadaran dalam menjaga lingkungan terutama dari aspek keagamaan. Pasalnya kata Supeno dalam Islam sendiri, diajarkan mengenai hubungan bermasyarakat dan beragama secara baik dan benar.
Supeno berharap konsep Pesantren Ekologi Ramadan ini dapat memotivasi warga sekolah, lebih peduli terhadap lingkungannya.
Sehingga kebiasaan baik yang ditanamkan dalam bulan Ramadan ini, tidak hanya dilakukan pada saat kegiatan Pesantren Ekoligi saja, tetapi tertanam dalam kalbu mereka dan bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Pada kesempatan yang sama Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan, Abdurahman Hidayat, S.Pd., menambahkan bahwa garis besar kegiatan Pesantren Ekologi di SMKN 8 berupa ta’lim, wakaf Qur’an, rantang kanyaah dan penanaman pohon.
Suasana pelaksanaan Pesantren Ekologi Ramadan 1447 H/2026 M, di SMKN 8 Kota Bandung
Pelaksanaannya usai Kegiatan Belajar Mengajar yang dilaksanakan dari pukul 06.30-12.00 WIB. Setelah pukul 12.00 dan melaksanakan shalat Duhur berjamaah, Pesantren Ekologi dimulai hingga pukul 13.00 WIB yang diikuti oleh siswa kelas X dan XI.
“Kegiatan inti dari Pesantren Ekologi itu berupa ta’lim, yang dilaksanakan ba’da salat Duhur. Mereka kami kumpulkan sesuai jadwal yang telah ditentukanm Jadi salat Duhur dulu berjamaah, barulah mendengarkan ta’lim atau ceramah yang dibimbing oleh dua penceramah. Ceramahnya di dua tempat, di mesjid dan aula sekolah,” kata Abdurahman.
Dari segi teknis, ta’lim dilaksanakan seminggu sekali untuk setiap angkatannya. Di hari pertama, dilaksanakan bagi siswa kelas X dan di hari kedua bagi kelas XI.
Saat awak media majalahsora.com, melakukan peliputan, merupakan hari pertama kegiatan Pesantren Ekologi di SMKN 8 Bandung. Diikuti oleh semua jurusan siswa kelas X. Dua jurusan ditempatkan di mesjid dan dua jurusan lainnya di aula. Kemudian pada minggu berikutnya, ta’lim bisa saja dimulai dari hari Senin, Selasa atau hari lainnya.
Masih dijelaskan Abdurahman pemateriannya diberikan oleh Guru PAI, tidak dari luar sekolah. Materi ceramahnya berkaitan dengan tema menjaga, memelihara dan melestarikan lingkungan yang ada kaitannya dengan nilai-nilai keislaman.
Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan, Abdurahman Hidayat, S.Pd
Sedangkan untuk siswa kelas XII tidak diikutsertakan dalam kegaitan Pesantren Ekologi secara tatap muka langsung. Melainkan diberi tugas berupa mengisi Lembar Kerja Peserta Didik (LKDP) dari Guru PAI. Hal ini dikarenakan mereka diharuskan untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi ujian akhir dan ujian praktek.
“Sedangkan untuk kelas XI, di hari yang berbeda. Setengahnya dari delapan kelas itu di industri dan sisanya di sekolah. Sehingga pelaksanaan untuk kelas XI bisa hanya di mesjid saja. Itu cukup untuk menampung dari setengahnya delapan kelas,” ungkap Abdurahman.
Secara makna dari Pesantren Ekologi, Abdurahman terapkan di keseharian para siswa dalam pembelajaran di kelas.
Seperti menjaga kebersihan lingkungan sekolah, menyapu dan membersihkan halaman sekolah (bagi siswa yang terlambat) dan sebagainya. Sehingga tiga siklus Pesantren Ekologi dapat tercapai, antara lain kebersihab lingkungan, hemat energi dan pelestarian lingkungan.
Lanjutnya pada minggu ketiga, akan dilaksanakan aksi ekologi menanam pohon di lingkungan sekitar termasuk di rumahnya masing-masing, tidak di sekolah. Mereka harus mendokumentasikannya kemudian dinilai oleh Guru PAI.
Salah saru Guru sedang memberikan materi Pesantren Ekologi Ramadan
“Alhamdulillah dengan adanya Pesantren Ekologi ini dapat menanamkan kesadaran siswa sebagai generasi penerus yang cinta terhadap lingkungan.”
“Jangan sampai terjadi bencana dikarenakan tidak menjaga lingkungan. Mudah-mudahan siswa bisa terus mempraktekannya hingga di kemudian hari,” ungkap Abdurahman.
Di samping itu kata Abdurahman pembiasaan baik lainnya seperti sapoe sarebu (Poe Ibu), serta kegiatan yang dilakukan pada Pesantren Ramadan pada tahun-tahun sebelumnya pun masih dilakukan, antara lain rantang kanyaah dan wakaf Al Qur’an yang diikuti oleh siswa dan guru.
“Insya Allah pada minggu ini kami akan mengumpulkan dana untuk wakaf Al Qur’an, pengelolaannya oleh Bapak, Ibu Guru PAI,” kata Abdurahman menambahkan.
Dengan begitu, kata Abdurahman pihaknya berharap siswa SMKN 8 Kota Bandung bisa menjadi anak saleh dan berakhlakul karimah yang taat serta hormat kepada orangtua juga para guru. [SR]***









