Majalah Sora|Tuesday, March 19, 2019
You are here: Home » Serba Serbi » Tjetje Hidayat: Rektor Unpad Yang Penting Nyaah dan Memajukan Sunda

Tjetje Hidayat: Rektor Unpad Yang Penting Nyaah dan Memajukan Sunda 

SONY DSCDok majalahsora.com, panitia pemilihan Rektor Unpad periode 2019-2024

majalahsora.com, Kota Bandung – Pemilihan Rektor Unpad periode 2019-2024 akan dilaksanakan tanggal 27 Oktober 2018, mendatang. Kini ada tiga calon Rektor Unpad yang akan bersaing menduduki posisi tersebut, sesuai alfabetis, yaitu Aldrin Herwany, S.E., M.M., Ph.D., (FEB); Prof. H. Atip Latipulhayat, S.H., LL.M., Ph.D., (FH) serta Prof. Dr. Obsatar Sinaga, S.IP., M.Si., (FISIP).

Mekanisme pemilihan Rektor Unpad kali ini, berbeda dengan sebelumnya, saat ini pemilihan rektor dilakukan oleh MWA (Majelis Wali Amanat). Dari 17 anggota MWA, hanya 15 anggota yang memiliki hak pilih. Dua anggota yang tidak memiliki hak pilih yaitu Ketua Senat Akademik dan Rektor.

Adapun anggota MWA yang memiliki hak pilih meliputi Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Gubernur Jawa Barat, serta perwakilan dosen, masyarakat, alumni, mahasiswa, dan tenaga kependidikan.

Masih berkaitan dengan pemilihan Rektor Unpad, beberapa waktu lalu, Jumat 28 September 2018, sore, di Gedung Indonesia Menggugat, Kota Bandung, beberapa tokoh Sunda, seperti Dindin S Maolani, Acil Bimbo, Memet Hamdan, Andri Kartaprawira, dan lainnya, menginginkan Rektor Unpad dari suku Sunda.

Selain itu menuntut salah satu Calon Rektor Unpad, mengundurkan diri, karena diisukan terlibat KDRT, kepada mantan istrinya, yang terjadi 17 tahun yang lalu. Selanjutnya akan melaporkan ke MWA serta ke Kemendikti untuk diteruskan ke Presiden Joko Widodo.

Berkaitan dengan masalah tersebut Tjetje Hidayat Padmadinata, menanggapinya, dan menyayangkan hal itu terjadi. Melalui sambungan telepon Kang Tjetje selaku sesepuh Sunda, mengatakan bahwa pemilihan Rektor Unpad harus diserahkan seluruhnya kepada MWA (Majelis Wali Amanat) Unpad jangan ada tekanan.

“Ya saya dengar ada isu itu, yang jelas saya tidak terlibat secara internal. Saya sebagai yang dikolotkeun di Jabar, berpesan agar MWA berpegang teguh kepada aturan yang berlaku, itu saja pesan saya. Kini ada tiga calon rektor yang akan dipilih, berarti sudah melaui proses yang matang, tidak serta merta terpilih begitu saja,” kata Kang Tjetje, Minggu (30/9/2018).

Dirinya  pun menambahkan jangan sampai isu kesukuan di kedepankan, yang lebih utama memilih rektor yang memang nyaah ka Sunda yang merupakan kampus kebanggan warga Jawa Barat dan Indonesia.

“Unpad itu kan bisa diibaratkan pusat pendidikan intelektual dan keunggulan,” katanya.

Sementara itu di kesempatan yang berbeda Abdullah Mustappa, Budayawan Sunda, memaparkan Rektor Unpad itu boleh berasal dari suku selain Sunda, yang penting bisa memajukan Unpad agar bisa bersaing dengan ITB, UI, UGM, IPB, dan perguruan tinggi lainnya.

“Dulu pernah orang Sunda, yaitu Koesnadi Hardjasoemantri, yang menjadi Rektor UGM, ia berhasil memimpin UGM menjadi maju dan memimpin selama dua periode. Sebagai penghargaan ada salah satu gedung yang memakai namanya,” katanya.

Lebih lanjut ia menuturkan, yang lebih penting itu memimikirkan kalau orang Sunda itu bisa menjadi rektor di kampus-kampus top, bukan hanya di Unpad saja.

Ia pun berpendapat agar yang memimpin Unpad itu tidak melihat kesukuannya. [SR]***