Majalah Sora|Tuesday, March 19, 2019
You are here: Home » Serba Serbi » Tiga Guru Bahasa Sunda Peraih Hadiah Hardjapamekas 2018

Tiga Guru Bahasa Sunda Peraih Hadiah Hardjapamekas 2018 

hadiah hardjapamekas 2018Poto kiri ke kanan: Wakil Rektor IV UPI Didi Sukyadi, Safrina Noorman (Anggota Dewan Juri), Ajip Rosidi, penerima Hadiah Hardjapamekas Rani Rabiusani (Guru Bahasa Sunda SMKN 13 Kota Bandung), Iis Aisyah (Guru BAhasa Sunda SMPN 4 Curigbitung, Kabupaten Lebak, Banten), Enung Komaraningsih (Guru Basa Sunda SDN Cikalong 02 Kabupaten Bandung), Erry Riana Hardjapamekas, Elin Syamsuri (Ketua Dewan Juri), dan Ketua Penyelenggara Hadiah Hardjapamekas Dinding Haerudin

majalahsora.com, Kota Bandung – Tiga Guru Bahasa Sunda berhasil menerima Hadiah Hardjapamekas tahun 2018, diraih oleh Enung Komaraningsih, S.Pd., Guru SDN Cikalong 2 Kabupaten Bandung; Iis Aisyah, S.Pd., Guru Bahasa Sunda SMPN 4 Curugbitung Kabupaten Lebak, Propinsi Banten; serta Rani Rabiusani, M.Pd., Guru Bahasa Sunda SMKN 13 Kota Bandung.

Penyerahannya digelar di Auditorium Lt 6 Pendidikan Ekonomi dan Bisnis UPI (Universitas Pendidikan Indonesia), Sabtu 3 November 2018. Merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan bagi Guru Bahasa Sunda tingkat SD, SMP serta SMA.

Masing-masing pemenang mendapat piagam penghargaan serta uang tunai senilai Rp 5 juta dari pihak penyelenggara.

Para pemenang tersebut dianggap telah berhasil mengajarkan Bahasa Sunda kepada siswanya. Di samping itu mereka memiliki minat yang tinggi serta tenaga ekstra dalam meningkatkan motivasi pembelajaran Bahasa Sunda yang syarat dengan muatan karakter.

Safrina Noorman salah satu jurinya saat membacakan sambutannya memaparkan, bahwa Guru Bahasa Sunda saat ini memiliki tugas yang tidak mudah tidak seperti bidang studi lainnya. Hal itu disebabkan oleh dampak dari melemahnya intensitas penggunaan Bahasa Sunda di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Lebih lanjut untuk menghadapi tantangan tersebut guru harus memiliki “padika” sebagai kemampuan pribadi dalam melengkapai kompetensi profesi, pedagogi, sosial serta kepribadian, yaitu: motekar, bear dan hegar, cenghar, beunghar serta sonagar.

Hadiah Hardjapamekas 2018

Erry Riyana Hardjapamekas saat menyerahkan Hadiah Rancage kepada Guru SDN Cikalong 2 Kabupaten Bandung

Masih kata Safrina, guru yang memiliki lima kecerdasan tersebut bisa terpancar dari karakter serta prilakunya sehari-hari. Baik ketika mengajar ataupun dalam kehidupan di tengah masyarakat.

“Itulah yang dimaksud kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan moral, kecerdasan spiritual dan kecerdasan sosial,” kata Safrina pada pidatonya, Sabtu (3/11/2018) siang.  

Sementara itu Dingding Haerudin Ketua Pelaksana kegiatan mengatakan tujuan dari diadakannya Hadiah Hardjapamekas untuk meningkatkan motivasi guru mengajar Bahasa Sunda dan memberikan penghargaan bagi guru yang memiliki minat yang tinggi dalam mengajarkan Bahasa Sunda.

“Mengajar Bahasa Sunda itu tidak banyak diminati oleh semua guru,” katanya.

Sebagai lembaga pendidikan pencetak guru, Dingding berharap dengan kegiatan ini tidak hanya berhenti pada saat ini tetapi berlangsung terus menerus.

“Kami cukup bahagia dengan gelaran ini karena respon dari rektorat cukup bagus dan tinggi. Sehingga bisa bekerjasama dengan Yayasan Rancage serta keluarga Hardjapamekas. Menjadi daya dorong yang sangat ampuh untuk menyelenggarakan kegiatan ini lebih besar dan luas jangkauannya,” kata Dingding.

Hadiah Hardjapamekas 2018Ajip Rosidi menyerahkan Hadiah Rancage untuk kategori SMP yaitu Iis Aisyah, S.Pd., Guru Bahasa Sunda SMPN 4 Curugbitung Kabupaten Lebak, Propinsi Banten

Pada kesempatan yang sama Erry Riyana Hardjapamekas menuturkan penyelenggaraan Hadiah Hardjapamekas tahun ini diselenggrakan untuk ke-11 kalinya. Dihadiahkan kepada Guru Bahasa Sunda yang dianggap kreatif tetap mempertahankan kompetensi Bahasa Sunda serta bergaul dengan masyarakat luas.

Bisa terselenggaranya kegiatan yang diadakan setahun sekali ini tidak terlepas dari dukungan UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) dan Yayasan Rancage.

“UPI merupakan mitra kami yang menilai, melacak dan menemukan calon-calon guru penerima Hadiah Hardjapamekas,” kata Erry.

Lebih lanjut kata Erry penerima Hadiah Hardjapamekas makin ke sini makin banyak guru muda yang menerimanya.

“Hal itu membuktikan bahwa perkembangan Guru Bahasa Sunda semakin baik dan berkualitas. Makin muda yang memperoleh penghargaan Basa Sunda artinya semakin baik. Karena saat awal-awal diadakannya Hadiah Hardjapamekas banyak Guru Bahasa Sunda senior yang menerimanya,” kata Erry.

Masih kata Erry secara wilayah pun semakin melebar (yang mendapatkan penghargaan tersebut). Dulu hanya daerah Bandung dan Priangan.

“Penerimanya malah pernah ada yang dari Brebes Jawa Tengah. Karena ada beberapa kecamatan di sana (Brebes) yang masih mengajarkan Bahasa Sunda. Tahun ini pun ada pemenang dari Lebak, Propinsi Banten. Dengan begitu pengajaran Bahasa Sunda ada harapan untuk diajarkan dengan baik yang tadinya kita anggap tidak lagi mengajarkan Basa Sunda,” terangnya.

Hadiah Hardjapamekas 2018Didi mewakili Rektor UPI menyerahkan Hadiah Hardjapamekas kepada Rani Rabiusani, M.Pd., Guru Bahasa Sunda SMKN 13 Kota Bandung

Saat majalahsora.com  menanyakan mengenai latar belakang diadakannya Hadiah Hardjapamekas, dirinya memaparkan bahwa adanya kegiatan itu tidak terlepas dari gagasan salah seorang pengurus Yayasan Rancage Hasan Kartajumena.

“Hal itu sejalan dengan apa yang saya ceritakan ketika bertanya kepada ayah saya (Hardjapamekas) yang menguasai Bahasa Belanda, Inggris, Jerman di samping Bahasa Sunda serta Indonesia.  Beliau selalu mengatakan bahwa ia tetap menguasai/mengutamakan Bahasa Indonesia dan Sunda. Waktu saya Tanya mana yang paling dikuasai, beliau tanpa berpikir panjang mengatakan Bahasa Sunda. Padahal beliau merupakan dosen Bahasa Jerman di UPI (IKIP waktu itu). Artinya meskipun mengusai beberapa bahasa asing, beliau tetap mementingkan Bahasa Ibu/bahasa daerah (Bahasa Sunda),” papar Erry.

Dirinya berharap dengan adanya penyerahan Hadiah Hardjapamekas bisa menginspirasi bagi semua orang memelihara Bahasa Ibunya, tidak hanya Bahasa Sunda tetapi Bahasa Ibu yang ada di Indonesia. [SR]***