Majalah Sora|Wednesday, March 20, 2019
You are here: Home » Sora Sakola » Sugiarto Kepala SMAN 18 Kota Bandung: Hampir Satu Tahun Alih Kelola SMA/SMK oleh Disdik Jabar Banyak Perubahan Positif

Sugiarto Kepala SMAN 18 Kota Bandung: Hampir Satu Tahun Alih Kelola SMA/SMK oleh Disdik Jabar Banyak Perubahan Positif 

SONY DSCDrs. H. Sugiarto, M.M., Kepala SMAN 118 Kota Bandung

majalahsora.com, Kota Bandung – Tidak terasa alih kelola SMA/SMK dari 27 kabupaten/kota ke Propinsi Jawa Barat, telah berjalan hampir satu tahun. Resminya per tanggal 1 Januari 2017.

Berkaitan dengan hal tersebut, majalahsora.com, berkunjung ke SMAN 18 Kota Bandung yang dipimpin oleh Drs. H. Sugiarto, M. M, (Toto). Ia menuturkan selama SMA/SMK dikelola oleh Disdik Jabar, banyak hal positif yang dirasakan. “Banyak sekali perubahannya terutama berkaitan dengan keterbukaan di bidang manajemen, maupun organisasi dalam potensi individu maupun potensi sekolah. Utamanya dalam upaya meningkatkan prestasi akademik. Begitu pun kala pelaksanaan PPDB 2017 secara online, sangat terbuka,” kata Toto, Senin sore (11/12/2017) di ruang kerjanya.

Dirinya menambahkan, bahwa setelah alih kelola, silaturahmi antar sekolah dan kepala sekolahnya terjalin lebih luas. “Dulunya kita tidak ‘sedekat’ sekarang. Karena waktu itu SMA/SMK masih dikelola oleh masing-masing daerah. Kini setelah dikelola oleh Dinas Pendidikan Jawa Barat (Disdik Jabar) jadi lebih akrab, karena sering bertemu diberbagai kegiatan dan kesempatan.

Selain itu Iia menilai, secara persaingan akademik jadi lebih kompetitif serta bersaing secara sehat. Setiap sekolah di 27 kabupaten/kota sudah mulai menunjukkan prestasi-prestasinya. “Sekarang ada kebiasaan yang mulai bergeser, tidak ada lagi sekolah yang merasa sekolah yang terbaik, terhebat sementara sekolah lain dianggap biasa-biasa saja. Hal itu memacu peningkatan prestasi akademik SMA/SMK di seluruh penjuru Jawa Barat,” imbuhnya. 

Toto pun,  sangat berterima kasih kepada Dr. Ir H. Ahmad Hadadi, M.Si., Kepala Disdik Jabar dan Drs. H. Dede Amar, M.M.Pd., Kepala BP 3 Wilayah 4, bahwa lahan untuk berkiprah menjadi kepala sekolah itu tidak hanya di sekitar kabupaten/kota setempat, siapa pun bisa menunjukkan prestasi ketika diberi amanah menjadi kepala sekolah di SMA/SMK negeri.

“Kalau yang berkiprah di Kota Bandung, nantinya bisa ditempatkan di kabupaten/kota lain, begitu pun sebaliknya,” jelas mantan Kepala SMAN 15 dan SMAN 5 Kota Bandung.

Di samping itu Toto memuji akan kebijakan Pemerintah Jawa Barat, melalui Disdik Jabar yang telah merealisasikan dan meningkatkan kesejahteraan para guru, kepala sekolah dan tenaga kependidikan. “Alhamdulillah untuk guru PNS dan kepala sekolah, secara kesejahteraan mulai naik, sekarang ada tunjangan daerah, uang transportasi dan uang makan. Begitupun dengan guru honorer, gajinya jadi  lebih besar. Beban internal sekolah pun menjadi berkurang,” kata kepala sekolah berperawakan tinggi besar.

Perihal bantuan untuk peningkatan sarana prasarana dan lainnya dari Disdik Jabar ke sekolah, dirinya menilai tetap masih dalam batas wajar. “Masalah bantuan dari pemerintah itu tergantung dari pengisian dapodik yang menjadi dasar bantuan-bantuan yang akan diterima oleh sekolah, baik itu bantuan dari APBN maupun APBD,” tutur Toto.

Meskipun demikian, ia berharap ke depannya dalam hal pembayaran bisa lebih tepat waktu. “Memang masih ada keterlambatan, kami maklumi karena Disdik Jabar masih melakukan transisi, apalagi mengelola ribuan SMA/SMK di Jabar sekaligus. Mudah-mudahan ke depannya bisa lebih baik segala sesuatunya,” harap Kepala SMAN 18.

“Secara keseluruhan setelah alih kelola ke Disdik Jabar banyak hal baiknya, seperti yang saya tadi katakan.  Harapan saya monitoring sekolah dan kepala sekolah harus mejadi tolak ukur, sehingga menjadi kompetensi dan motivasi untuk semua SDM, baik itu guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan dan caraka,” tambahnya.

Waktu majalahsora.com, meminta kamandang ‘pendapat’ mengenai rencana Disdik Jabar memekarkan BP3 yang tadinya hanya ada di tujuh wilayah, berubah menjadi  Cabang Dinas Pendidikan serta berkembang menjadi 13 wilayah, Toto menilai hal tersebut merupakan itikad baik Disdik Jabar, untuk lebih memudahkan berbagai urusan yang berkaitan dengan kepentingan sekolah dan kemajuan serta pemerataan pendidikan di seluruh penjuru Jawa Barat. [SR]***