Majalah Sora|Wednesday, March 20, 2019
You are here: Home » Serba Serbi » Sekjen BPC Siliwangi: Dalam Pemilihan Rektor Unpad MWA Jangan Terpengaruh Isu Etnisitas

Sekjen BPC Siliwangi: Dalam Pemilihan Rektor Unpad MWA Jangan Terpengaruh Isu Etnisitas 

SONY DSCPoto kiri ke kanan: Drs. Ade Jamhuri, MA., Wakil Ketua Bidang III, Sadiah Sasmita, Bendahara, serta Kol (Purn) Herman Ibrahim, Sekjen BPC Siliwangi 

majalahsora.com, Kota Bandung – Isu etnisitas pada pemilihan Rektor Unpad periode 2019-2024, oleh sekelompok orang, dari segelintir organisasi kesundaan (menginginkan Rektor Unpad pituin Sunda) terus mencuat. Hal itu mendapat perhatian dari Kol (Purn) Herman Ibrahim, Sekretaris Umum BPC (Badan Pembina Citra) Siliwangi Pusat.

Seperti diketahui, MWA (Majelis Wali Amanat) Unpad telah memilih tiga besar dari delapan calon Rektor Unpad periode 2019-2024. Hasil tersebut diraih dari pemungutan suara yang dilaksanakan di sekretariat MWA Bandung di Jalan Cimandiri,  Sabtu (15/9/2018) lalu.

Ketiga calon tersebut, yaitu  Prof. Dr. H. Obsatar Sinaga (Prof Obi), meraih 13 suara; Aldrin Herwany, SE, MM, Ph.D meraih, 7 suara; dan Prof. H. Atip Latipulhayat, SH, LLM, meraih 6 suara.

Mencuatnya isu etnisitas tersebut di atas tidak terlepas dari calon kuat Rektor Unpad (Prof Obi) yang bukan asli Sunda, melainkan campuran ayahnya dari Batak dan Ibunya dari Sunda.

Menilik hal itu, Herman pun memaparkan agar pemilihan Rektor Unpad, harus melalui pendekatan demokrasi.

Herman yang merupakan putra daerah (Sunda) bukan tidak setuju dengan nilai-nilai kesundaan, tetapi nilai-nilai kesundaan bukan diperlakukan sacara tidak adil.

“Tidak ada larangan orang yang bukan orang Sunda memimpin lembaga yang ada di tatar Sunda, seperti Unpad. Orang Sunda juga banyak yang menjadi pejabat, baik bupati, walikota, gubernur, dan lainnya,” katanya

Lebih lanjut dirinya mengatakan, pemilihan Rektor Unpad harus dipilih secara demokratis dan langsung tidak ada tekanan dari pihak manapun.

“Untuk itu solusinya, panitia pemilihan Rektor Unpad (MWA) menjalankan segala ketentuan secara demokratis dan tidak ada tekanan dari pihak manapun. Pangdam III Siliwangi saja kebanyakan bukan orang Sunda, tetapi dicintai prajuritnya yang kebanyakan orang Sunda dan Pangdam pun nyaah ka Sunda. Tentara saja bisa sangat demokratis, apalagi ini institusi pendidikan,” pungkasnya. [SR]***