Majalah Sora|Tuesday, March 26, 2019
You are here: Home » Serba Serbi » Prof Erri: Proses Pemilihan Rektor Unpad Masih “On The Track”

Prof Erri: Proses Pemilihan Rektor Unpad Masih “On The Track” 

SONY DSCProf. Dr. Erri N. Megantara, Sekretaris MWA Unpad

majalahsora.com, Kota Bandung – Gempungan Warga Peduli Unpad (Universitas Padjadjaran), akan menemui MWA (Majelis Wali Amanat) untuk mendiskualifikasi salah satu Calon Rektor Unpad pada pemilihan yang akan digelar 27 Oktober 2018 mendatang. Alasannya disinyalir adanya permasalahan etika dan pelanggaran moral.

Hal di atas merupakan kelanjutan dari pertemuan beberapa kelompok masyarakat kesundaan, di Gedung Indonesia Menggugat (Jumat, 28/9/2018).

Rencananya elemen masyarakat yang digagas oleh Memet Hamdan, Dindin S Maolani, Acil Darmawan tersebut, akan mendatangi sekretariat MWA Unpad Jumat 12 Oktober 2018.

Tercatat kini ada tiga Calon Rektor yang akan bersaing memperebutkan pucuk pimpinan tertinggi Unpad. Ketiga Calon Rektor Unpad 2019-2024 yang akan bersaing, yaitu (secara alfabetis): Aldrin Herwany, M.M., PhD, Prof. H. Atip Latipulhayat, LL.M., PhD., dan Prof. Dr. H. Obsatar Sinaga, M.Si.

Menurut informasi ada 17 anggota MWA Unpad. Dari jumlah tersebut, hanya dua anggota MWA yang tidak memiliki hak pilih (Rektor dan Ketua Senat Akademik Unpad). 15 anggota MWA lainnya, memiliki hak pilih, dalam pemilihan Rektor Unpad 2019-2024 nanti.

Berkaitan dengan hal di atas pada sela-sela kegiatan sosialisasi dan gagasan calon Rektor Unpad Periode 2019-2024, majalahsora.com berhasil menemui Prof. Dr. Erri N. Megantara Sekretaris MWA. Bertempat di Pikiran Rakyat (Selasa, 9/10/2018), Dirinya memaparkan akan menyerahkan segala sesuatunya kepada anggota MWA yang sifatnya kolektif kolegial.

“Diterima tidaknya nanti kami diskusikan. MWA ini kan sifatnya kolektif kolegial, tidak ada keputusan itu harus ditentukan siapa, misalnya oleh ketua atau saya. Mereka (anggota MWA) merupakan perwakilan masyarakat yang memiliki pandangan dan hak masing-masing. Biarkan mereka yang menentukan sendiri, menyerap berbagai aspirasi. Itu keunikan dari MWA,” katanya.

“Wakil dari alumni memiliki konstituennya tersendiri juga. Tidak ada pemaksaan, sekalipun dari ketua MWA. Semuanya mengikuti mekanisme,” imbuh Prof Erri.

Lebih lanjut dalam menanggapi penggiringan opini mengenai salah satu rektor yang memiliki etika dan pelanggaran moral, dirinya menjelaskan tidak semua isu akan dirapatkan.

“Cape dong kalau setiap ada isu kita selalu rapatkan. Alhamdulillah dalam proses pemilihan Rektor Unpad selama ini masih on the track. Calonnya pun masih tiga. Kami pun tidak pernah membahasnya. Kalau ada masukan dari masyarakat ya kami terima. Nanti silahkan anggota MWA untuk memikirkannya masing-masing,” pungkasnya. [SR]***