Majalah Sora|Monday, March 18, 2019
You are here: Home » Serba Serbi » Paguyuban Pasundan Dan Forum Masyarakat Jabar Akan Kawal Pemilihan Rektor Unpad 2019-2024

Paguyuban Pasundan Dan Forum Masyarakat Jabar Akan Kawal Pemilihan Rektor Unpad 2019-2024 

SONY DSCProf H. Didi Turmudzi, Ketua Umum Paguyuban Pasundan

majalahsora.com, Kota Bandung – Ketua Umum Paguyuban Pasundan Didi Turmudzi, Dewan Pangaping Paguyuban Pasundan Uu Rukmana, Rektor Unpas merangkap Ketua Forum Rektor Indonesia Wilayah Jabar Prof Eddy Yusuf, nonoman Sunda Asep B Kurnia, puluhan perwakilan LSM beserta Ormas di Jabar,  yang tergabung dalam Forum Masyarakat Jabar melakukan audiensi dengan MWA (Majelis Wali Amanat) Unpad.

Berlangsung Jumat (12/10/2018) siang di sekretariat MWA Unpad Jalan Cimandiri, Kota Bandung. Adapun maksud tujuannya, mendukung MWA agar tidak terpengaruh oleh pihak manapun dalam proses pemilihan Rektor Unpad periode 2019-2024.

Terlebih adanya beberapa unsur masyarakat yang tergabung dalam Gempungan Warga Peduli Unpad (GWPU) menginginkan salah satu calon Rektor Unpad (Prof Obsatar Sinaga/Obi) untuk mundur. Alasannya karena pernah melakukan KDRT kepada mantan istrinya (17 tahun silam). Di samping itu diduga melakukan perselingkuhan.

Dari beberapa sumber pemberitaan, Prof Obi pun telah memberikan bukti-bukti serta klarifikasi tehadap tuduhan tersebut. Ia jelaskan semua akar permasalahan yang sebenarnya di berbagai media massa, baik secara langsung maupun melalui kuasa hukumnya.

SONY DSCH. Uu Rukmana (kemeja biru)

Apabila menilik dari serangkaian proses pemilihan dan rapat pleno yang berlangsung bulan lalu, dari delapan calon Rektor Unpad kini sudah mengerucut menjadi tiga calon.

Ketiga calon tersebut yaitu Dr Aldrin Herwany (Fakultas Ekonomi dan Bisnis) meraih 7 suara, Prof Atip Latipulhayat (Fakultas Hukum) meraih 6 suara, dan Prof Obsatar Sinaga (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) unggul dengan raihan 13 suara. Pemilihannya sendiri akan digelar tanggal 27 Oktober 2018.

Menurut Didi Tumudzi, lahirnya Unpad di tahun 1957 tidak lepas dari peran Ketua Paguyuban Pasundan waktu itu Suradiradja yang menjadi salah satu panitia pembentukan Unpad.

“Jadi ada irisan kesejarahan antara Unpad dengan Paguyuban Pasundan. Oleh karena itu kami ingin membantu sekecil apapun peran-peran kami terhadap nama besar Unpad,” kata Didi saat jumpa media, di sekretariat MWA, Ju’mat (12/10/2018) siang.

Berkaitan dengan pemilihan Rektor Unpad, Didi Turmudzi membacakan surat pernyataan mengenai adanya intervensi terhadap salah satu calon Rektor Unpad, yang dianggap tidak layak menjadi pucuk pimpinan tertinggi di Universitas Padjadjaran.

Pada kesempatan tersebut Didi Turmudzi membacakan surat pernyataan Paguyuban Pasundan beserta orsasi-orsasi, komunitas dan perorangan yang tergabung dalam Forum Masyarakat Jabar terkait dengan proses pemilihan Rektor Unpad, menyatakan: Mendukukung setiap keputusan yang di keluarkan MWA Unpad yang kami yakini sebagai hasil kajian yang mendalam; Kami percaya bahwa MWA Unpad adalah majelis yang terhormat berwibawa dan amanah tidak akan mudah terintervensi baik pikiran atau tindakan oleh pihak manapun; Kami yakin MWA Unpad akan melanjutkan proses ke tahap selanjutnya, mengingat waktu biaya tenaga dan pikiran yang sudah banyak tercurahkan untuk kegiatan ini.

SONY DSCProf Eddy Yusuf, Ketua Forum Rektor Indonesia Wilayah Jabar (duduk tengah)

Lebih lanjut dirinya mengatakan, bahwa masalah-masalah pribadi jangan dipolitisir dalam pemilihan Rektor Unpad ini. Terlebih menistakan MWA Unpad.

“Kalau yang terkait masalah keluarga (kejadiannya 17 tahun silam) harus ada yang memediasi. Jangan campurkan proses pemilihan rektor yang sudah ada acuannya dengan hal-hal lain,” kata Didi.

Menurutnya setiap manusia tidak akan selamanya benar karena buka malaikat serta tidak selamanya salah karena bukan setan. Masih kata Didi, setiap kesalahan bisa dilakukan oleh setiap orang.

“Kesalahan itu ada yang dibukakan oleh Alloh SWT, ada juga yang ditutupi. Mungkin karena Alloh menutup aib-aib kita, kita jadi merasa benar, terhormat, hebat,” tuturnya.

Oleh karena itu kata Didi, kita harus memiliki kedewasaan dalam memandang hal tersebut. Jangan sampai menjadi opini. Hal itu bisa merusak citra Unpad.

Menurutnya ketiga calon Rektor Unpad yang nanti akan dipilih dan ditetapkan tanggal 27 Oktober 2018 merupakan saudara kita.

“Kami mengajak kepada saudara kita yang memiliki pandangan yang berbeda untuk duduk bareng. Membesarkan nama Unpad, sehingga Unpad tidak terganggu oleh masalah-masalah yang kecil. Karena ada hal besar yang akan dihadapi ke depan. Terkait menghadapi revolusi industri 4.0 yang tidak bisa dianggap sepele. Harus mengatisipasi kurikulum, SDM, lingkungan, dan lainnya” katanya.

SONY DSCAsep B Kurnia, biasa dipanggil Aa Maung, nonoman Sunda tergabung dalam Forum Masyarakat Jabar (kemeja putih)

Didi  pun mengajak semua unsur agar memberikan kesempatan kepada MWA Unpad untuk melaksanakan tugasnya tanpa ada gangguan, penistaan dan intervensi.

Menanggapi hal itu di tempat yang sama Sekretaris MWA Prof Erri  Megantara, memaparkan bahwa MWA akan melaksanakan tugasnya sebaik-baiknya. Sesuai dengan yang diharapkan oleh berbagai pihak, termasuk dari GWPU yang sebelumnya datang (Jumat, 12/10/2018, pagi).

“Berbagai masukan akan memperkaya informasi bagi anggota MWA, dalam menentukan Rektor Unpad yang akan datang,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Uu Rukmana menyayangkan gonjang-ganjing pada pemilihan Rektor Unpad.

Acan ge pemilihan geus ribut. Sebetulnya Prof Obi diuntungkan karena dipikasieun/ditakuti. Prof Obi ditakuti karena diperkirakan menang dalam pemilihan Rektor Unpad ini,” kata Uu di depan awak media.

“Pokoknya begini saja, sekarang kita serahkan saja kepada MWA Unpad yang merupakan lembaga terhormat di Unpad. Tapi kalau ada yang mengganggu MWA Unpad urusanna jeung urang. Do’a bagi MWA pokoknya sukses. Bukan membela satu pihak, tetapi kita ingin Unpad maju,” imbuh Uu.  

Rektor Unpas merangkap Ketua Forum Rektor Indonesia Wilayah Jabar serta Aptisi Jabar, Prof Eddy Yusuf pun memberikan pandangannya. Menurut Eddy, dirinya telah mengingatkan kepada ketiga calon Rektor Unpad saat proses sosialisasi beberapa waktu lalu.

“Di Jabar ada 378 perguruan tinggi swasta (PTS), yang menjadi mitra dengan Unpad. Saya yakin Unpad tidak akan bisa menampung calon mahasiswa se-Jabar bahkan nasional. Makanya siapa pun nanti yang menjadi Rektor Unpad, nitip agar bisa berkolaborasi dengan 378 PTS. Untuk mencerdaskan masyarakat Jabar dan Indonesia,” katanya.

Sementara itu Asep B Kurnia, yang mewakili organisasi ormas dan LSM ikut memberikan masukan. Dalam paparannya, ia menegaskan kurang simpati terhadap orang yang ikut campur mengurusi rumah tangga orang lain.

“Saya yakin dan percaya bahwa dalam menentukan ketiga calon Rektor Unpad, MWA sudah melewati proses dan aturan yang berlaku. Saya percaya kepada MWA akan memilih yang terbaik. Tidak ada intervensi dari pihak manapun,” pungkas Aa Maung, sapaan akrabnya. [SR]***