Majalah Sora|Tuesday, March 26, 2019
You are here: Home » Serba Serbi » Normalkan Harga Ayam KPPU Datangi Peternak Di Majalaya

Normalkan Harga Ayam KPPU Datangi Peternak Di Majalaya 

SONY DSCGopprera Panggabean, Direktur Penindakan KPPU

majalahsora.com, Kota Bandung – Dalam upaya normalkan harga ayam potong (broiler) pada konsumen yang tidak terkontrol, anggota KPPU (Komisi Pengawasan Persaingan Usaha) didampingi dari pihak kepolisian, kementrian perdagangan, Disperindag Jabar, dan dinas terkait lainnya, lakukan peninjauan ke peternakan ayam, yang berada di Kampung Pasirpanjang, Kecamatan Paseh, Majalaya Kabupaten Bandung.

Hal tersebut dilakukan untuk mencari akar permasalahan, mengenai melonjaknya harga ayam potong, yang kini ada diangka Rp 40 – 45 ribu per kg. Padahal menurut Taufik anggota KPPU yang ikut hadir, pemerintah menghimbau HPP (harga pokok produksi) ayam broiler harusnya ada di angka Rp 18.500. 

Sementara itu, Gopprera Panggabean, Direktur Penindakan KPPU, setelah melakukan diskusi dengan peternak di tempat tersebut, menyimpulkan bahwa, akar permasalahan melonjaknya harga ayam pada konsumen, adalah karena mahalnya biaya produksi. Seperti mahalnya harga pakan (bahan baku impor) dan DOC dengan kualitas yang kurang baik serta melemahnya rupiah terhadap dollar Amerika.

Di samping itu adanya spekulan yang memainkan harga ayam potong hingga Rp 45 rb/kg.

Dirinya menerangkan, alur ayam potong tersebut dimulai dari peternak-broker-bandar-tukang potong-penjual-konsumen.

“Tadi beberapa peternak mandiri, bilang harga tertinggi dari peternak dijual ke broker antara Rp 23- Rp 24 ribu/kg. Namun per hari ini ada di harga Rp 21 – Rp 22 rb. Kita akan coba menekan DOC dan harga pakan dengan kualitas baik,” terang Panggabean, di peternakan ayam broiler milik H Dasikin, Majalaya, Jum’at, (27/7/2018) siang.

SONY DSCKPPU, kepolisan, kementrian perdagangan, Disperidag Jabar, dan dinas terkait saat lakukan kunjungan ke peternak ayam di Majalaya, Kabupaten Bandung

Lebih lanjut dirinya menjelaskan bahwa, harga normal ayam broiler yang dijual ke masyarakat maksimal pengkalinya 1,6 dari HPP (harga pokok produksi).

“Untuk itu kami akan terus cari akar masalahnya. Apakah yang memainkan harga itu broker, bandar, atau siapa?” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Yunus salah satu peternak ayam broiler mengatakan, bahwa sudah 3 bulan harga ayam broiler melonjak. Begitu pun saat di jual ke konsumen.

Masih kata Yunus, bahwa harga DOC bibit ayam broiler/potong, dari April 2018 sampai kini, harganya ada dikisaran Rp 7500/ekor. Yang idealnya Rp 3000 – Rp 4000.

Untuk biaya pakan sendiri memerlukan sebanyak 2,5 kg/ekor, sampai panen ayam broiler (selama kurang lebih 28 hari), dengan harga pakan Rp 7000 – Rp 8000/kg.

“Dengan biaya produksi ayam broiler yang tinggi (DOC dan pakan) membuat beban peternak semakin berat. Belum kalau ada ayam yang mati. Maka kita semakin merugi, malah sudah tiga bulan ini, hal itu terjadi,” terang Yunus.

SONY DSCPeternakan ayam broiler milik H. Dasikin Majalaya

Selama ini harga pakan tersebut masih tergantung fluktuasi tukar rupiah terhadap dollar Amerika.”Pabrik pakan yang ada di kita, bahan bakunya masih mengimpor dari luar negeri. Sehingga nilai tukar rupiah ke dollar Amerika yang menginjak angka Rp 14.500, menjadi sangat mempengaruhi terhadap mahalnya harga pakan,” ujar Yunus.

Selain itu, menurut Yunus, 80 persen pasar ayam broiler di Indonesia dikuasai oleh pemain besar (close house). “Mereka memiliki kualitas DOC yang baik (berat 30-40 gr/ekor) dan memproduksi pakan sendiri, terus beternak sendiri. Sehingga leluasa. DOC yang kurang bagus mutunya (berat 20-25 gr/ekor) mereka lempar ke kami. Begitu pun dengan pakan yang kandungan nutrisinya kurang baik. Sehingga dengan kualitas seperti itu para peternak akan terus dirugikan,” keluhnya.

Lebih lanjut Yunus mengatakan, kini hasil panen ayam broiler dari petani itu, beratnya cuma 800 gr, yang harusnya bisa mencapai 1-1.3 kg/ekor.

Ia dan peternak ayam pada umumnya, ingin KPPU bisa mengatasi hal tersebut, berharap pemodal besar hanya menguasai 50% market Indonesia. Sisa marketnya bisa dirasakan oleh para peternak yang ada.

Menilik hal tersebut Panggabean mengatakan KPPU akan usut sampai tuntas. Malah akan melakukan jalur hukum. Seperti saat menangani kartel daging sapi, hingga harganya normal kembali. [SR]***