Majalah Sora|Monday, March 18, 2019
You are here: Home » Serba Serbi » Disbudpar Kota Bandung Soft Launching Bandung Creative Belt di C-59

Disbudpar Kota Bandung Soft Launching Bandung Creative Belt di C-59 

SONY DSCPoto kiri ke kanan: Wiwied pemilik C-59, Kenny Dewi Kaniasari, Kadisbudpar Kota Bandung serta Tris Avianti, Kabid Ekonomi Kreatif Disbudpar Kota Bandung

majalahsora.com, Kota Bandung – Kota Bandung merupakan salah satu destinasi/tujuan wisata di Jawa Barat dan Indonesia yang memiliki daya tarik mendatangkan wisatawan, baik lokal, maupun mancanegara. Menawarkan berbagai pilihan wisata, seperti heritage, belanja, fashion, kuliner, hiburan dan lain sebagainya.

Tercatat ada beberapa tempat yang telah menjadi ikon wisata Kota Bandung, antara lain, Gedung Merdeka, Gedung Sate, Cihampelas, Cibaduyut, Dago, Braga, Pasar Baru, Taman Lalu Lintas, Kebun Binatang, dan lainnya. Di samping itu Kota Bandung pun terkenal dengan industri kreatifnya.

Dalam upaya meningkatkan destinasi wisata industri kreatif di Kota Bandung, Kenny Dewi Kaniasari, Kepala Disbudpar (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata) Kota Bandung beserta jajarannya, menggelar kegiatan Soft Launching Bandung Creative Belt dan Gelar Produk Kreatif. Berlangsung di Aula C-59, Jalan Cigadung Raya Timur, Kamis 28 Juni 2018.

Pada kesempatan tersebut Kenny mengatakan, bahwa Pemerintah Kota Bandung terus berupaya mendiversifikasi (penganekaragaman) destinasi wisata, tidak hanya mempromosikan tempat wisata yang sudah menjadi icon Kota Bandung selama ini. “Kami akan terus gali potensi-potensi wisata di luar yang sudah ada, salah satunya di Kelurahan Cigadung ini,” ujar Kenny di hadapan awak media, Kamis (28/6/2018) sore.

Lebih lanjut Kenny, mengatakan bahwa di daerah Cigadung sendiri, memiliki potensi wisata yang banyak. Di antaranya adanya rumah produksi Hasanbatik, Batik Komar, Galeri Rosyid, pabrik kaos C-59, dan sebagainya.  Namun tidak sedikit wisatawan lokal dan mancanegara yang belum mengetahuinya. Oleh karena itu melalui program Bandung Creative Belt, institusinya terus bereksplorasi dan bekerjasama dengan para pengusaha yang sudah ada di daerah Cigadung.

“Sebetulnya, banyak perusahaan yang sudah tumbuh, seperti C-59, yang ownernya Pa Wiwied, hadir sejak tahun 1980-an. Namun selama ini mungkin belum terasa perhatian dan dukungan dari pemerintah. Nah saatnya sekarang kita dukung dijadikan satu, melalui ‘belt’ ini. Merupakan suatu pola wisata, menjadi referensi untuk para agen travel, khususnya yang ada di bawah naungan ASITA (Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies/ Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia), untuk dipromosikan dan dikemas menjadi suatu paket wisata yang baru, seperti di Cigadung ini,” terangnya.

SONY DSCSoft launching Bandung Creative Belt di  C-59

Ia berharap dengan banyaknya ‘belt-belt’ atau pola-pola wisata yang baru di setiap kecamatan yang ada di Kota Bandung (30 kecamatan) yang tergali dan seluruh potensi bisa dioptimalkan, maka Kota Bandung tidak akan kalah dengan Yogyakarta dan daerah wisata lainnya. “Selain itu kita juga bisa berkolaborasi dengan kota/kabupaten yang ada di sekitar Kota Bandung. Tadi hadir, dari Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, kita bisa menjadi vocal point wisata baru di Indonesia,” ujar Kenny.

Untuk menggapai tujuan tersebut, Kenny pun ke depan ingin kegiatan Disbudpar terus bersinergi serta memiliki persepsi yang sama dengan para camat, lurah, karang taruna, LPM, kelompok penggerak pariwisata yang ada di tiap kecamatan. “Di dinas yang saya pimpin memiliki lima bidang. Pokonya saling terkait, seperti filosofi kue donat, dari mulai pengkajian kebudayaannya sampai bidang pemasarannya. Kami ajak rekan-rekan yang ada di Disbudpar turun langsung ke masyarakat, sejak setahun lalu dimulainya, semenjak saya memimpin Disbudpar. Lebih proaktif, jadi tidak diam di kantor saja. Sehingga bisa bersilaturahmi langsung, menjadi lebih akrab dan kenal dengan stakeholder yang ada. Dengan begitu lebih tahu akan kebutuhannya, dan menyalurkan aspirasi ke pemerintah, ” katanya.

Sementara itu Tris Avianti, Kabid Ekonomi Kreatif Disbudpar Kota Bandung, mengatakan bahwa, Kelurahan Cigadung, Kecamatan Cibeunying Kaler menjadi prototype Bandung Creative Belt, yang nantinya akan dikembangkan di wilayah lainnya. “Alhamdulillah di Cigadung sudah kompak, yang utama ada komunikasi dan kolaborasi yang berkelanjutan. Meskipun masih ada pekerjaan rumah ke depan. Bagaimana terus menggali potensi wisata yang ada di Cigadung untuk dijadikan data base dan disambungkan menjadi paket-paket wisata. Insya Alloh dalam satu tahun ke depan bisa selesai di 30 kecamatan yang terbagi dalam 15 ‘belt’, akan terus dikembangkan,” kata Tris.

SONY DSCYani dan Nia, pemilik Hasanbatik, ikut kegiatan Bandung Creative Belt, Disbudpar Kota Bandung

Dirinya optimis dengan kolaborasi tersebut. Hal itu tidak terlepas dari dukungan dan kerjasama dengan para akademisi, pebisnis, pelaku, komunitas, pemerintah serta media. “Peran media sangat membantu untuk mewartakan, mempublikasikan, mempromosikan wisata industri kreatif dijadikan destinasi pawisata yang bisa mendatangkan wisatawan lokal dan mancanegara,” sambungnya.

Di tempat yang sama Marius Widyarto atau akrab dipanggil Wiwied, bos kaos oblong ternama C-59 (PT. Caladi Lima Sembilan), menyambut baik Soft Launching Bandung Creative Belt di tempatnya. Menurutnya Disbudpar Kota Bandung memiliki itikad yang baik dengan adanya kegiatan tersebut.

“Tadi ada berapa ‘C’ ya. Bu Kadis datang ke sini (C-59) kan karena cinta, dalam cinta ada kreativitas, komunikasi, kompetensinya, kolaborasi, capital gain/keuntungan yang tidak kelihatan. Tempat kami bisa dipakai kegiatan, jadi tidak sungkan antara kami selaku pelaku bisnis dan pemerintah. Pokoknya harus dibuat banyak event. Ada pribahasa tak kenal maka tak sayang,” katanya, saat menemani Kadisbudpar dan Kabid Ekonomi Kreatif Disbudpar Kota Bandung.

Masih kata Wiwied, bahwa Kota Bandung itu adalah ‘segala-galanya’. Apalagi kalau dikelola dengan baik, seperti bidang pariwisata. Ke depan berharap yang berwisata ke ‘Kota Kembang’ ada wisata edutaimentnya. “Orang berwisata atau liburan ke Bandung tidak hanya liburan saja, tetapi ada gagasan serta ilmu yang didapat. Sehingga bisa membantu mencerdaskan anak bangsa. Ya kalau ke C-59 jadi tahu cara menyablon dan lainnya,” terangnya.

Wiwied pun akan selalu menerima semua pihak dengan tangan terbuka, terutama kerjasama dalam mensukseskan kegiatan Bandung Creative Belt. [SR]***