Majalah Sora|Tuesday, March 19, 2019
You are here: Home » Serba Serbi » Darus Anggota DPR-RI Komisi X Sayangkan Politisasi Pemilihan Rektor Unpad

Darus Anggota DPR-RI Komisi X Sayangkan Politisasi Pemilihan Rektor Unpad 

Darus Nasdem Komisi X DPR-RIDadang Rusdiana anggota DPR-RI Komisi X (pendidikan) DPR-RI 

majalahsora.com, Kota Bandung – Isu primordialistik dan politisasi dalam pemilihan Rektor Unpad periode 2019-2024, mendapat perhatian dari Dadang Rusdiana anggota DPR-RI Komisi X (pendidikan) partai Nasdem (Nasional Demokat).

Mencuatnya hal itu tidak terlepas dari pemberitaan di media massa baik online, elektronik serta cetak. Tertuju kepada Prof Obsatar Sinaga, salah satu kandidat kuat Rektor Unpad.

Sebelumnya ada berbagai tahapan dan proses yang diikuti oleh para kandidat. Dari awalnya ada delapan kandidat, kini mengerucut menjadi tiga calon.

Secara alfabetis, ketiga Calon Rektor tersebut yaitu: Aldrin Herwany, PhD, (Fakultas Ekonomi dan Bisnis) memperoleh 7 suara, Prof. Atip Latipulhayat, PhD, (Fakultas Hukum) memperoleh 6 suara, dan Prof. Dr. Obsatar Sinaga (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) unggul dengan 13 suara.

Patut diketahui ketiga calon tersebut telah diputuskan melalui rapat pleno Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Padjadjaran. Memilih dan menetapkan tiga Calon Rektor Unpad periode 2019-2024 berdasarkan hasil rapat pleno yang digelar di Sekretariat MWA Unpad, Jalan Hayam Wuruk No. 14, Bandung, Sabtu (15/9/2018).

Rapat Pleno dilakukan setelah Panitia Pemilihan Rektor (PPR) secara resmi menyerahkan berkas pemeriksaan administratif delapan Bakal Calon Rektor kepada MWA Unpad, Jumat (14/9/2018). Berkas ini menjadi penentuan MWA dalam memilih dan menetapkan calon rektor.

Ketiga calon tersebut telah lulus dan melewati berbagai tes, seperti kesehatan, psikologi, uji kompetensi administrasi dan lainnya.

Menjelang masa-masa pemilihan yang akan dilaksanakan tanggal 27 Oktober 2018, ada beberapa unsur masyarakat yang menginginkan salah satu calonnya (Prof Obi) di diskualisifikasi/dikaji ulang.

Alasannya karena memiliki rekam jejak yang kurang baik, yaitu melakukan KDRT terhadap mantan istrinya (17 tahun silam) serta perselingkuhan. Mereka pun mendesak MWA untuk mengkajinya.

Namun semua tuduhan tersebut telah diklarifikasi oleh Prof Obi, baik secara langsung maupun melalui kuasa hukumnya yaitu Bintang Yalasena HP, SS, SH, MH. Ia dan kuasa hukumnya telah menjelaskan semua akar permasalahan yang sebenarnya. 

Klarifikasi tersebut sudah dipublikaikan diberbagai media massa (online, elektronik dan cetak), termasuk di majalahsora.com. Di samping itu tuduhan pihak lain terhadap Prof Obi harus dibuktikan secara KUHAP.

Menanggapi hal di atas Darus sapaan akrab dari Dadang Rusdiana, menyayangkannya. Apalagi isunya primordialistik dan politisasi terhadap Prof Obi.

“Pada dasarnya pemilihan rektor serahkan saja pada mekanisme yang ada. Sudah diatur dengan pendekatan profesional. Pokoknya jangan sampai dipolitisasi mengungkap-ungkap kesalahan masa lalu yang tidak ada relevansinya dengan pemilihan rektor. Seharusnya yang dilihat itu adu visinya,” kata Darus, melalui sambungan telepon, Jum’at malam (12/10/2018).

Lebih lanjut Darus mengatakan Pemilihan Rektor Unpad harus mengedepankan obyektifitas serta kemuliaan akademis. Jangan membawa isu primordialistik yang tidak sehat. Begitupun dengan putusan MWA yang sudah memilih tiga colon Rektor Unpad, ajeg pada putusannya.

“Seharusnya sudah memikirkan Unpad ke depan, untuk mengejar ketertinggalan dari perguruan tinggi yang rengkingya lebih baik, seperti UI, ITB dan UGM,” imbuhnya.

Intinya pilih rektor yang bisa membawa Unpad ke arah yang lebih baik serta maju. Sebagai perguruan tinggi yang disegani. Sekali lagi ia menekankan pada pemilihan Rektor Unpad jangan sampai ada intervensi ataupun politicking. [SR]***