Majalah Sora|Tuesday, March 19, 2019
You are here: Home » Serba Serbi » Pemkot Bandung Didukung BIGRS Memperingati Hari Korban Tabrakan Lalu Lintas Sedunia dan Meluncurkan Situs stopngebut.com

Pemkot Bandung Didukung BIGRS Memperingati Hari Korban Tabrakan Lalu Lintas Sedunia dan Meluncurkan Situs stopngebut.com 

IMG-20181120-WA0050

majalahsora.com, Kota Bandung – Pemerintah Kota Bandung menggelar kegiatan World Day of Remembrance for Road Traffic Victims atau Hari Korban Tabrakan Lalu Lintas Sedunia, Minggu (18/11/2018) di kawasan Car Free Day Dago Jalan Ir H Djuanda.

Bersama Bloomberg Philanthropies Initiative for Global Road Safety (BIGRS) Pemkot Bandung peringati Hari Korban Tabrakan Lalu Lintas Sedunia tersebut.

Kegiatannya sendiri dihadiri oleh Kepala Diskominfo Kota Bandung Ahyani Raksanagara, Kanit Laka Satlantas Polrestabes Bandung Iptu Angga Rahardiman, perwakilan Bloomberg Philanthropies Initiative for Global Road Safety (BIGRS), serta para korban kecelakaan lalu-lintas.

Ahyani Raksanagara selaku Kepala Diskominfo Kota Bandung kepada awak media menjelaskan, peringatan Hari Korban Tabrakan Lalu Lintas Sedunia diadakan di kota Bandung untuk memberikan peringatan serta pemahamaan kepada masyarakat kota Bandung dan seluruh pengguna jalan untuk memenuhi kewajiban dan haknya agar selamat di jalan.

“Keselamatan di jalan merupakan hak semua orang,” katanya.

Lebih lanjut dirinya memaparkan, bahwa Pemkot Bandung sangat peduli dengan permasalahan yang dialami korban kecelakan lalu-lintas.

“Berbagai upaya telah dilakukan Pemerintah Kota Bandung untuk meminimalisir faktor terjadinya kecelakaan lalulintas,” ungkapnya,

“Pemerintah Kota Bandung telah melakukan perbaikan prasarana jalan, serta menegakkan aturan dan disiplin berlalulintas,” sambung Ahyani.

Di penghujung paparannya Ahyani Raksanagara menghimbau kepada aparat pemerintah dan masyarakat untuk mewujudkan keselamatan berlalu lintas di jalan raya.

Sementara itu Kanit Laka Satlantas Polrestabes Bandung Iptu Angga Rahardiman mengatakan, bahwa angka kecelakaan lalulintas di kota Bandung saat ini cenderung menurun.

“Dengan adanya sosialisasi seperti ini diharapkan angka kecelakaan khususnya roda dua menjadi turun yang harus diperhatikan adalah faktor manusia atau pengendara dan kecepatan berkendara,” kata Angga.

Lebih lanjut dirinya menjelaskan khusus di Kota Bandung penyebab terjadinya kecelakaan lalu lintas mayoritas disebabkan oleh faktor manusia, baik itu karena kecapean atau mengantuk.

“Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meminimalisir kecelakaan di antaranya, memastikan kendaraan layak dan dicek secara rutin. Lalu lengkapi surat-surat kendaraan terutama Surat Izin Mengemudi,” pungkasnya.

Pada kesempatan yang sama Wika salah satu korban kecelakaan yang hadir di acara Hari Korban Tabrakan Lalu Lintas Sedunia atau World Day of Remembrance for Road Traffic Victims menceritakan, bahwa dirinya mengalami kecelakan lalu-lintas di Tol Pasirkoja.

“Waktu itu mobil taksi online yang saya tumpangi bersama ibu saya mengalami kecelakaan. Akibat kejadian tersebut ibu saya dan pengemudi taksi online meninggal dunia,” ucapnya lirih.

Masih kata Wika, saat itu ada mobil dari arah yang berlawanan lalu menabrak pembatas jalan dan terguling ke arah mobil yang ditumpanginya.

Masih berkaitan dengan Hari Peringatan Korban Tabrakan Lalulintas yang tepat pada hari Minggu, di minggu ketiga bulan November, khusus di Bandung peringatannya diadakan secara besar-besaran.

Lebih dari 30 media baik cetak, televisi, radio, maupun online hadir meliput. Di samping itu digelar pula acara talkshow, situs kampanye keselamatan stopngebut.com, serta deklarasi kampanye Jalan Milik Bersama Bukan Hanya Pengendara.

Menilik buku Bandung Road Safety Annual Report 2017, jumlah tabrakan di jalan raya Kota Bandung pada tahun 2017 terjadi sebanyak 501 kasus, dan 127 orang di antaranya meninggal dunia, serta 38 Iainnya luka berat.

Menjadi catatan serta yang mengkhawatirkan, lebih dari setengah kasusnya, 57% melibatkan pengguna sepeda motor.

Selain itu tingkat kematian tertinggi akibat kecelakaan berada pada rentang usia 15 hingga 24 tahun, bahkan menurut Rencana Umum Nasional Keselamatan (RUNK), kerugian materil akibat tabrakan di jalan raya diperkirakan mencapai 2,9 hingga 3,1% dari total Produk Domestik Bruto (PDB) di Indonesia. [SR]***