Majalah Sora|Wednesday, March 20, 2019
You are here: Home » Serba Serbi » Asep Maung Ketua LBP2 Sayangkan Pembangunan Taman (Sudut) Dilan

Asep Maung Ketua LBP2 Sayangkan Pembangunan Taman (Sudut) Dilan 

asep maung lbp 3Asep Maung Ketua LBP2

majalahsora.com, Kota Bandung – Melihat perkembangan yang terjadi belakangan ini terutama terkait rencana pembangunan Taman (sudut) Dilan yang di gagas oleh Gubernur Jawa Barat M. Ridwan Kamil, menjadi polemik antara pro dan kontra di khalayak masyarakat Jabar.

Taman yang terinspirasi dari novel sukses karya Pidi Baiq tersebut, rencananya akan dibangun di sekitaran GOR Saparua Bandung Jalan Banda No.28, Kelurahan Citarum, Kecamatan Bandung Wetan.

Sewaktu peletakan batu pertama Taman (sudut) Dilan Ridwan Kamil (Minggu 24 Pebruari 2019 lalu) mengatakan, bahwa Sudut Dilan ini akan dijadikan sebuah tempat literasi dan film. Untuk itu, dia berharap Sudut Dilan bisa menjadi sarana masyarakat Kota Bandung dan Jawa Barat sebagai ruang sastra dan sejarah dari film Dilan itu sendiri. Selain itu menjadi tempat wisata baru di Kota Bandung, untuk menyedot wisatawan.

Berkaitan dengan hal itu Asep Maung Ketua LBP2 (Lembaga Bantuan Pemantau Pendidikan) sangat menyayangkan apabila Taman (sudut) Dilan benar-benar ada.

“Saya sendiri selaku warga Jawa Barat terus terang sangat kecewa atas nama taman tersebut. Dimana saya merasa itu adalah hal yang sangat berlebihan yang dilakukan oleh Pak Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat,” kata Asep Maung, panggilan akrabnya, Selasa (5/3/2019) pagi kepada awak majalahsora.com

“Kalau pun niat untuk membikin taman literasi dan penghargaan mengenai sukses Film Dilan itu sendiri memang bukan hal yang salah. Tetapi alangkah lebih baik  aspirasi tersebut cukup diberikan dalam bentuk penghargaan bagi penulis,” imbuhnya.

Lebih lanjut menurut dirinya berkaitan dengan literasinya, kalaupun akan dibuat taman akan lebih elok namanya Taman Literasi.

“Atau kalau dilihat dari ketokohan film di Jawa Barat menurut Asep Maung ada yang lebih fenomenal dan lebih sesuai dengan karakter budaya yang ada di Jawa Barat,” ujarnya.

Ia mencontohkan alm. Kang Ibing dengan tokoh Kabayannya. Dirinya merasa nama Kabayan dan se-Indonesia sudah pada tahu dan pasti identik dengan ke-Jawa Baratannya.

“kalau pun mau per-orangngan dengan mengedepankan nama dari pemerannya, saya rasa Alm. Kang Ibing paling tepat,” tegas Asep.

“Jadi dengan polemik ini saya rasa Gubernur Jawa Barat bisa mengkaji ulang, teu kedah merekedeweng. Artinya ini juga sebagai aspirasi warga Jawa Barat. Beda halnya dengan nama Dilan sendiri merupakan inisiatif pribadi,” tambahnya

Dirinya tidak bermaksud tidak menghargai itikad baik Gubernur Jabar dalam meningatkan budaya literasi dan perfilman di Jabar.

“Bukan artinya saya tidak menghargai beliau. Tetapi  justru ini karena perhatian pribadi saya kepada Kang Emil,” katanya.

“Lebih dalam lagi saya khawatir semua anak tidak bisa mencerna akan isi film tersebut (Dilan) secara gamblang. Saya lihat peran Dilan sebagai anak SMA yang ikut-ikutan geng motor serta berpacaran dengan teman sekolahnya serta prilaku kurang baik melawan kepada gurunya,” terang Asep.

Dampak ini yang menjadi kekhawatiran dirinya akan perkembangan ahlak, dan perkembangan generasi pelajar saat ini yang ada di Jawa Barat. Apalagi siswa SMA yang cendrung sedang mencari jati diri, bahaya kalau mereka meniru hal negatifnya (kurang baiknya).

Menurut Asep dengan adanya nama taman (Dilan) tersebut seolah-olah, bahwa prilaku Dilan dan karakter Dilan itu harus di contoh. Hal ini akan menjadi satu permasalahan moral tersendiri.

“Pembikinan taman, patung, prasati atau apapun itu, saya mengharapkan ke depannya identik dengan nilai-nilai budaya dan sejarah atau pun dengan nama-nama pejuang pendahulu kita yang ada di Jawa Barat ini. Ulah jati kasilih ku junti,” pungkasnya. [SR]***